Cerita Momo Sebuah Obrolan 20-an yang Sebentar Lagi Kandas

20-an yang Sebentar Lagi Kandas

Percaya nggak? Saya bahkan sedang melawan gejala kebotakan gara-gara rontok rambut yang parah. Kalau agak sudah ditolong, mungkin saya bakalan potong rambut kayak Mbak Kim Hye Soo atau lebih pendek kayak Oppa-Oppa Korea gitu.

Sebenarnya tulisan ini ngomong apa?

Cuma nulis aja. Berasa mentok di ide padahal baru jalan beberapa hari menuju tulisan ke 100 hari. *Lap keringet.

Jadi, saya putuskan curhat perihal usia.

Tentang Jatah Detak Jantung

Tahukah kamu kalau jumlah denyut jantung tikus berusia tiga tahun sama dengan seekor gajah yang telah berusia 80 tahun. Kelinci juga detak jantungnya cepat, usia hidupnya rata-rata 3 sampai 5 tahun saja. Kalau kura-kura lambat banget detak jantungnya, sangat memungkinkan dia hidup 100 tahun.

Jangan-jangan manusia gitu nggak sih? Bukan jatah umur. Tapi jatah detak jantung. Makin cepet, makin berkuranglah jatahnya. Kalau mau bahagia dan panjang umur, maka jiwa yang tenang barang kali adalah jawaban.

*tarik napas dulu *hembuskan perlahan.

Buat kalian anak-anak muda, jangan suka jatuh cinta. Nanti cepat mati. Hehe. Deg-degan mulu kalau lihat doi? Ngaku aja.

Buat kalian-kalian yang sudah punya pasangan dan mulai kehilangan getaran seperti awal pertama kalian kenal, maka bergembiralah. Sebab Tuhan sedang memperpanjang usia kalian untuk mendampingi satu sama lain. Jangan mikir udah nggak cinta lho ya. Kan “hormon istimewa” itu kuatnya berapa tahun coba? Berapa ya? dua sampai lima tahun? CMIIW. *maap males baca literatur.

*jangan percaya tulisan saya. *sumpah ini banyak ngarang.

Ternyata Saya Sudah Lama Hidup ya?

Masa kecil bukan masa yang diingat dengan jelas. Saya hanya ingat bahwa saya anak yang pendiam. Jarang protes. Tidak suka menangis. Waktu SD cuma ingat nonton kartun aja.

“kalau begini akupun jadi sibuk, berusaha mengejar-ngejar dia. Matahari menyinari semua perasaan cinta tapi mengapa…. kau tak berubah… Ada apaaaaa denganmu….”

Begitulah lagu OST Crayon Shinchan ditambahkan lagu Peterpan. Coba kalian nyanyikan dalam hati. Pasti nyambung.

Yah begitulah kepala yang sudah terkontaminasi oleh banyak hal.

Katanya Saya Berubah (Ini kata teman saya yang sudah kenal sejak 2008 dan ketemu akhir tahun lalu). Katanya, saya kalau ngomong jadi enak aja. Dia merasa dapat sesuatu setelah saya ngebacot depan dia.

*garuk-garuk kepala aja dengarnya. *ketombean.

Padahal saya yang sekarang juga banyak buruknya, saya sudah nggak percaya perubahan-perubahan yang suka didengung-dengungkan bangsa, negara, media, atau apalah. Kekaguman saya pada orang-orang tertentu nyatanya adalah kegagalan saya dalam memandang.

Kini saya memandang dunia lebih kompleks dan mengerikan. Saya sering skeptis cuy.

Kadang hidup saya mentok di mikirin gimana caranya tetap waras diantara kesemrawutan ini. Saya nggak percaya dengan akhir bahagia pada kisah dongeng lagi. Hidup nggak sehitam putih itu.

Bayangkan saja. ngomongin hubungan aja. Otak saya bakalan beralih pada kalimat, “People say they love you. But what they mean is they love how loving you makes them feel about themselves.” Kan kampret.

Untuk sehat saja…

Untuk sehat saja saya harus mengalami banyak hal. Belum lama ke dokter spesialis dan malah disuruh ke dokter yang lain aja sebab katanya saya nggak kontrol juga. Katanya dia nggak suka pasien kayak saya.

Dalam hati menjerit. Tapi lagi-lagi, saya sudah dewasa nggak boleh emosional.

Itu sehat fisik. Sehat mental? Wah bisa panjang urusan. Semalam aja tbtb nangis, nggak bisa tidur sampai tengah malam. Malam sebelumnya bangun tengah malam dan nggak bisa bangun sampai pagi.

Kepala saya bawaannya mikir terus.

Saya ngomong ke diri saya sendiri dong, klise banget emang. “manusia tidak dirusak oleh penderitaan, tapi oleh penderitaan yang dijalaninya tanpa makna hidup.”

Banyak hal yang bergeser menjadi yang nggak muluk-muluk.

Saya melupakan mimpi saya untuk…. banyaklah pokoknya nggak bisa disebutkan. Males menyebutkan juga. Berserta menerima kegagalan-kegagalan yang ada.

Tak ada kalimat yang begitu wah dalam catatan post it di otak. Adanya hanya kalimat sederhana seperti, “jangan males sampoan”, “jangan simpan dendam terus”, “disiplinlah dalam nyuci baju”, “nulis cuy nulis, jangan sampe telat.”

Teman saya Riyan pernah bertanya bagaimana caranya menjadi Rachel Vennya?

Buat saya yang kuper sama orang-orang yang ngehits di internet. Minta penjelasan dong saya sama Riyan. Dia cerita begini begini. Intiya kata Riyan, RV ini kece dengan segala popularitas dan kekayaannya.

Udah nggak waras nih temen saya tanya beginian sama saya.

Menanyakan gimana jadi uwuwuw sama orang yang medioker kayak saya? situ sehat, Yan?

biar ada gambar aja. (sumber pixabay)

Yah, akhir usia 20an? Beginilah saya yang medioker.

Saya menikmatinya.

Menjadi biasa-biasa aja.

Usaha keras saya bukan di kebahagiaan, menjadi istimewa, atau kaya raya. Usaha saya yang keras justru kalau dalam kesedihan, saya belajar main sulap. Sulap jadi ilmu kemudian bersyukur.

Dan itu sulit. Tapi saya manusia, bukan? Makhluk yang penuh kemungkinan.

Semangat Momo-chan. Udah ah, saya mau lanjut nonton Nohara Shinosuke dulu di Netflix. Tapi kenapa kasih link lagu doraemon ya?

Semoga kalian sehat dan bahagia. Terima kasih sudah membaca tulisan nggak terlalu berarti ini.

 

3 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 Comment