Sebatang Pohon dan Layang-layang

Pernah dengar kisah antara sebatang pohon dan layang-layang?

Akan aku ceritakan padamu kisahnya.

***

Musim kemarau yang berangin mengantarkan layang-layang bertemu dengan sebatang pohon yang letaknya cukup dekat dengan tepi jurang. Ya, mereka berdua bertemu atas nama takdir yang bersembunyi di balik istilah kebetulan.

Layang-layang itu sudah sedikit rapuh karena sudah cukup lama menuruti kemana angin membawanya pergi. Angin, baginya tak punya mata seperti selatan maupun utara. Angin adalah raga tak terlihat yang selalu menjaga temalinya.

Sementara sebuah pohon yang mulai merangas karena kemarau tumbuh di dekat jurang yang curam. Ia adalah sosok yang selalu ditemani sepi. Ia seperti sebuah kekuatan yang mampu berdiri sendiri, namun mudah digoda semilir angin.

sumber: pribadi

Suatu ketika angin marah. Angin itu berubah menjadi topan yang membuat layang-layang itu limbung. Layang-layang seperti hilang kemudi. Kemudian detik itu segera dimulai, detik dimana salah satu ranting pohon itu diam-diam mengambil alih menjaga temali layang-layang.

Kemudian mereka bersama.

Waktu pun berjalan.

Diam-diam layang-layang itu mulai bahagia walaupun ia menyadari sepenuhnya bahwa kebersamaanya dengan sebatang pohon itu adalah anomali. Banyak hal yang ditakutinya mulai ditepis demi menemani kesunyian sebatang pohon itu.

Apakah ada yang salah jika semuanya berubah menjadi cinta?

Barangkali keduanya saling jatuh cinta.

Keduanya mulai mencari pembenaran atas keanehan kisah mereka, karena mereka tahu disela-sela kebahagiaan, selalu ada rasa takut yang diam-diam hinggap, selalu ada ragu yang mengganggu. Hingga akhirnya mereka berkesimpulan bahwa kebersamaan mereka adalah kebenaran atas takdir itu sendiri.

Lalu kebenaran mulai berubah wajah.

Seperti langit yang tak pernah sama.

Kebetulan selalu dipenuhi kejutan bukan?

Layaknya langit yang selalu berganti wajah, musim pun berganti menjadi penghujan. Hujan mulai hadir lewat gerimisnya yang membuat tanah menjadi harum. Pelan tapi pasti, rintiknya mulai deras. Hujan yang hadir menjadi penggembira bagi bumi.

Sebatang pohon itu tentu tak luput dari bahagia dengan hadirnya hujan. Sudah cukup lama ia menunggu.

Sementara layang-layang? Ia pelan-pelan mulai menghilang. Tubuhnya sedikit demi sedikit hancur karena hantaman hujan. Temalinya mulai digeser oleh hadirnya ranting dan daun-daun baru hingga tak tersisa. Habislah ia.Ia tak lebih dari serupa rangka bambu patah yang diam-diam jatuh ke tanah. Kemudian ketika hujan mulai turun dengan derasnya, diantarlah rangka bambu itu ke tepi jurang. Sedikit hembusan angin saja sudah membuatnya jatuh ke dalam jurang.

Layang-layang menjadi tiada.

Sebatang pohon itu kehilangan layang-layang? Tentu saja.

Pada sela-sela hari penghujannya, ia mengingat layang-layang. Tapi, hari-hari baginya sudah tak lagi sepi. Burung-burung mulai membuat sarang pada dahannya yang mulai rindang. Sang pohon benar-benar menikmati terik. Membentangkan tubuhnya yang kokoh seakan mengatakan dengan lantang “aku padamu, wahai matahari.”

Kehilangan tentulah dirasakan oleh Sang Pohon, setidaknya akan ingat bahwa ia kehilangan. Namun, jika terlalu lama ia kehilangan sesuatu, akhirnya yang hilang bukan hanya sesuatu itu, melainkan rasa kehilangan itu sendiri.

Layang-layang akhirnya harus mengerti tentang hakikatnya, ia hanya akan berurusan pada kebebasan yang terikat atau barangkali sebuah keterikatan yang bebas. Layaknya layang-layang yang selalu dijaga oleh temalinya. Selain itu tidak adalagi.

Apakah layang-layang bersedih?

Tidak.

Layang-layang bersyukur pada Tuhan sebab setidaknya dia bukan manusia. Jika sebagai manusia, tentulah dia harus merasakan beratnya menyembuhkan luka yang tak disengaja. Seperti sebuah usaha menarik semua air mata yang sudah jatuh di pipi.

You may also like...

4 Responses

  1. Azizatoen says:

    “Ia hanya akan berurusan pada kebebasan yang terikat atau barangkali sebuah keterikatan yang bebas”
    This is so deep. Pada dasarnya memang kebebasan itu ndak sepenuhnya ada. :’)

  2. kimrie63 says:

    Luka yang tak di sengaja.. tapi nyesek susah untuk di sembuhkan..

Leave a Reply

%d bloggers like this: