Sebuah Jawaban : Perspektif

Hai warganet.

Bulan lalu saya dapat pertanyaan yang cukup menarik dari salah satu teman yang sebut saja namanya Tomat (bukan nama sebenarnya, bukan buah sebenarnya dan bukan sayur sebenarnya). Pertanyaan yang diajukan Tomat sebenarnya cukup sederhana, tapi untuk otak saya yang kapasitasnya segini-gini saja ini perlu beberapa waktu untuk bisa benar-benar menjawab. Bahkan sampe Megawati dan SBY udah salam-salaman di upacara 17an kok yha masih belum bisa jawab juga.

Apa pertanyaannya?

โ€œKamu punya kata yang kamu suka? Kata apa? Kenapa?โ€

Dalam hati ngebatin ; untung aja pertanyaannya bukan kamu punya orang yang kamu suka? Siapa? Kenapa? INI BAKALAN LEBIH RIBET JAWABNYA, APALAGI YANG BAGIAN KENAPA ๐Ÿ˜›

Untuk itu bersamaan dengan postingan ini, saya layangkan jawabannya.

Begini…

Pernah dengar istilah ini?

“Tidak ada benar atau salah dalam hidup karena ada jarak pandang, resolusi pandang, sudut pandang, dan cara pandang” .(SABRANG MDP).

Apabila ada bunga sebagai objek untuk dipotret dan katakanlah ada tujuh orang membawa kamera dengan kualitas resolusi tertentu dari yang paling rendah sampai yang paling canggih. Maka pastilah ketujuh orang itu akan memilih jarak, sudut yang dianggap tepat, dan cara tertentu untuk menghasilkan gambar bunga tadi.

Bagaimana dengan hasilnya? Tentu berbeda-beda, tapi tetap benar bergambar bunga. Ya kecuali ada salah seorang dari ketujuh orang tersebut kepincut bunga (nama sebenarnya) dan memotretnya kemudian pandang-pandangan.

Jadi, kebenaran bisa jadi punya tingkat blurnya sendiri-sendiri.

Benar menjadi relatif.

Hal itu juga yang membuat saya ingat salah satu tulisanย  Sujiwo Tejo yang bilang begini ;

โ€œBenar dan salah tentu ada. Tegakkanlah segitiga. Pada alas ada dua sudut, sudut benar dan sudut salah. Sinta, mari tarik lagi alas segitiga itu ke atas. Makin ke atas, sudut benar dan sudut salah itu semakin dekat. Di puncaknya, kedua sudut itu melenyap. Itulah titik Tuhan.โ€

Emmm… Contoh mungkin begini; kotoran kambing akan jadi najis bila melekat pada tubuh manusia, tapi menurut tumbuhan, kotoran kambing adalah salah satu hal yang membahagiakan layaknya satu loyang pizza bagi seorang Momo. Singkat kata, kotoran kambing menjadi suci ketika bersinergi dengan tumbuhan. Kotoran memang bisa mengotori, tapi dia punya cara untuk menjadi suci. Eh tapi ini contoh yang pas lagi kepikiran aja, mau buka bukunya lagi eh bukunya lagi dipinjem dan nggak dipulang-pulangin sampe sekarang (TITIK DUA KURUNG BUKA). Sesungguhnya saya merasa sotoy.

Menurut saya sih semacam ada pola dasar yang sama dari yang diucapkan Sabrang maupun yang ditulis Sujiwo Tejo tadi.

Mo… mau ngomong apa sih Mo? Kok muter-muter?

Lha wongย  dalam penelitian kita diajarkan harus dimulai dari latar belakang masalah kok, bukan berangkat dari sebuah judul. Anggap saja itu latar belakang masalahnya dikit-dikit. Hehe…

Saatnya kembali ke pertanyaan Tomat tadi.

Apa ada kata yang saya sukai sepanjang perjalan hidup ini jawabannya adalah ADA.

Kata apa? Jawabannya adalah PERSPEKTIF .

kbbi perspektif

Kenapa? Saya pikir sudah sedikit dijelaskan di atas. Perspektif menjadi lebih berguna daripada berpikiran sempit. Itu juga yang membuat saya lebih menyukai acara TV dengan tema bincang-bincang, nggak milih-milih bacaan dari buku tentang salak pondoh sampe buku statistik yang terpaksa mesti dipelajari. Pun saya juga kurang suka dengan seseorang yang memutuskan keputusan tertentu secara sepihak tanpa melibatkan saya dalam pembicaraan sebelumnya.

Pokoknya sangat menarik kalau bicara tentang perspektif. Contoh lainnya Merapi meletus bisa saja dipandang sebagai suatu bencana, tapi dengan perspektif Mbah Marijan, Merapi dianggapnya sedang punya hajat, Merapi lagi punya pesta dengan mengeluarkan isinya, begitulah alam bekerja.

Kan seru yaaa?

Karena perspektif juga bagi saya tidak ada yang absolut jelek/buruk, oleh karenanya saya tidak pernah membenci sesuatu secara mutlak, kepikiran untuk membencipun saya hindari. Karena memang salah satu tugas saya adalah melihat kebaikan pada oranglain dan melihat keburukan pada diri sendiri (tugas yang sebenarnya sama sekali nggak saya sukai, lha kan apa enaknya nyari kebaikan dari oranglain yang emang ngeselin? Tapi katanya kalau melakukan sesuatu yang disukai berarti kedewasaannya masih setingkat dengan bayi, mengko nggak mulyo-mulyo).

Kalau suka sama seseorang/sesuatu gimana Mo? Nggak pernah mutlak juga? YHA HARUS SAYA AKUI MEMANG DEMIKIAN. Suka itu kaya micin lho, kalo kebanyakan jadi bego.

Utak atik perspektif

Kalau dalam permainan psikologi, manusia harus pintar-pintar berpindah-pindah dari ego anak-anak, ego orangtua, dan ego dewasa. Singkat kata dibutuhkan kesadaran sepenuhnya untuk bisa pindah-pindah dari satu ego ke ego lainnya supaya hidup nggak ruwet. Tapi saya lebih suka ngutak-atik perpsektif. Kemudian merasa sotoy kembali.

Begini, ada dua pola besar sudut pandang (kesadaran) yaitu sudut pandang seorang aktor dan sudut padang seorang pengamat.

Sudut pandang manusia sebagai seorang aktor maka jelas berlaku bahwa saya adalah aktor dari diri saya sendiri. Apapun rasa yang ada dilewati/dijalani bukan dilompati.

Sedih butuh dirasakan.

Marah butuh dirasakan.

Senang butuh dirasakan.

Ketenangan butuh dirasakan.

Cemburu butuh dirasakan.

Galau butuh dirasakan.

Bahagia butuh dirasakan.

Jatuh cinta dan patah hatipun perlu dirasakan. Halah pret.

dll.

Karena rasa adalah konektor manusia dengan kenyataan. Pemahaman yang paling dalam pun tidak datang melalui pembelajaran yang bersifat kognitif atau melalui kata. Pemahaman yang paling dalam pasti lewat rasa dan pengalaman.

Rasa adalah bentuk informasi dari Tuhan. Karena manusia hanya mampu menggunakan kata โ€œsepertiโ€ untuk menggambarkan sesuatu. Sementara Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk memberikan pelajaran dahsyatnya ; melalui rasa dan pengalaman.

Contohnya coba aja tanya gimana rasanya jatuh cinta. Jawabannya bisa macam-macam, contohnya seperti ada naga dalam perut (mirip cacingan). Jawaban lainnya bisa saja seperti keingatan terus sama si doi (mirip kalau punya utang lah). Atau jawabnnya Nidji ; “bila aku jatuh cinta, aku mendengar nyayian seribu dewa-dewi cinta menggema dunia” *kemudian nyayi dulu ah.

Asli rasanya gimana? Ya cuma orang-orang yang merasakan jatuh cinta saja yang bener-bener tahu rasane demen iku piye. :P. (nyuwun sewu, contohnya begini. Maklum lagi sering dicurhati sama muda-mudi yang lagi jatuh cinta). Saya sih kayaknya sudah terlalu tua untuk jatuh hati ๐Ÿ˜€

Pokoknya semua rasa mesti dijajal supaya tahu yang manis itu bukan cuma gula. Barangkali saya, haha, please jangan muntah.

Kedua, sudut pandang sebagai seorang pengamat. Ketika seseorang menggunakan kesadaran sebagai pengamat maka semua rasa sudah tidak lagi dirasakan. Persis seperti kalau nonton drama/film atau seperti membaca buku.

Sudah tidak merasakan apapun lagi.

Sepeti kata Cak Nun, untuk mendapatkan nasi kita harus menghancurkan konsep beras. Untuk memperoleh batu bata, kita tidak eman menghancurkan tanah. Untuk membangun diri, kita harus rela menghancurkan diri kita.โ€

Untuk melihat posisi yang tepat, kita harus menghancurkan sudut pandang sebagai seorang aktor untuk mengalihkan menjadi sudut pandang seorang pengamat. Keuntungannya adalah kita bisa benar-benar tahu di mana posisi kita berada saat menjadi aktor. Kemudian bisa cari kembali posisi yang lebih tepat lagi ketika kembali berperan sebagai aktor.

Barangkali dalam posisi pengamat kita bakal lebih sadar bahwa terkadang bawang merah adalah bawang putih yang pakai lipstik. Bisa juga kebalikannya, bawang putih adalah bawang merah yang pakai bedak (berasa sok kenal sama bumbu dapur). Contoh lainnya kita mungkin sadar bahwa cahaya yang ย diartikan sebagai gelombang nyatanya adalah sebagai partikel. Eh yang dikira partikel ternyata gelombang (tolong nggak usah tanya apa maksudnya, nanti postingan saya jadi mirip tulisan Marthen Kanginan).

Pun bisa jadi kesedihan hanyalah kebahagiaan yang menyamar.

Setelah mengambil sudut pandang pengamat, yaaa balik lagi jadi aktor, belajar lagi merasakan lagi. Gitu terus nggak kelar-kelar.

kenyataanya…

Momo is from the heart, but filtered through the head. Makanya suka mumet sendiri.

Seringkali tampak terlalu mendalami peran.

Tapi, lagi-lagi tentang rasa sedih, galau, marah, gelisah (apapun yang negatif-negatif), hanyalah alat untuk berkaca bahwa ada pemahaman yang belum selesai di diri saya (pernah ditulis di blog lama).

Jadi… yaa dirasakan dulu saja. Karena ketika kita terpaksa masuk ke dalam tempat yang sangat bau, yang kita lakukan lebih baik ya dirasakan saja sampai akhirnya hidung kita sudah tidak merasakan bau itu (walalupun bau itu aslinya tidak hilang). Dirasakan saja sakitnya, sampai akhirnya sudah tidak menderita lagi (walaupun sakitnya masih ada).

Itu juga yang membuat saya suka sama Rahvana, karena dia pernah bilang โ€œsedih dan senangku adalah sama saja. Karena aku tak pernah tahu mana yang terbaik di mata Tuhan.โ€

Sedihku ini tak ada arti jika Kaulah sandran hati. (Letto)

Kok yaaaa…

Kok jadi melebar, padahal cuma ngomong soal perspektif.

Sudah dijawab lho yaa pertanyaannya.

Sudah? Tidak ada lagi?

Isi pulsanya sekalian?

Kembaliannya boleh didonasikan?

Salam hangat,

Dari salah satu pengikutnya Ivan Lanin di twitter, tapi kalu nulis masih berantakan, nggak metodis, dan bahasanya campu aduk kaya perasannya.

You may also like...

14 Responses

  1. Mo sumpah aku g mau pizza tai kambing

  2. Lupa tadi pas pertama baca mau komen apa. Tapi yang jelas ini tulisan seru.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    • momo taro says:

      sudah terdistraksi rupanya..

      oke mba ida, terima kasih.

      maap belum bisa nyanyi untukmu.

  3. azizatoen says:

    Lho memang benar kok itu ada naga di perut. Sayangnya udah ngerasa tua ya untuk jatuh cinta lagi? Hmmm turut berduka kak untuk umurmu :((
    Dirasakan saja ya kak semuanya, dirasakan, dinikmati :โ€)

    • momo taro says:

      Yha yha paham kok paham ada naganya meliuk-liuk ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

      Ho oh… udah tua ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

  4. mfadel says:

    Kalau aku euforia dung. Sejak kenal pas kecil dulu, nggak ada kata lain yang dari bunyinya aja bisa menyaingi rasa meledak-ledak ‘euforia’

    Btw kenapa daku merasa beberapa bagian dalam tulisan ini menyindir pihak tertentu -_-

  5. kyuzuma ita says:

    Blog yg lama udah gk di pakai ta mbak

  6. Suci Su says:

    Ternyata kedewasaanku masih setingkat bayi.. ๐Ÿ™ wkwkwk.
    Aku manis juga deh kayaknya. Tapi jangan dijajal deh. Jangan dipotongin diriku terus dijadiin pengganti gula. Itu horor.. ๐Ÿ™

    • momo taro says:

      Itu sih horor banget dek suci.
      Siapa gerangan yang bertindak sedemikian jahat pada dirimu yang begitu manis.

      ๐Ÿ™„

  7. Maraza says:

    Asli ngakak di bagian ending. Berasa kayak lagi di Indom***t ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€
    Saya lihat ada Cak Nun sama Sabrang. Bapak sama anak sama aja. Kadang suka agak nyleneh tapi yo bener juga.

    Btw sudah setua apa sih, kok merasa tua untuk jatuh hati. Tunggu saja, suatu saat akan tiba masanya ada seseorang yang akan membangkitkan naga yang sedang tidur di pusaran jantungmu. Atau membuat jutaan kupu2 di perutmu serasa berebut ingin keluarโ€ฆ #inibahasapasih? #

    • momo taro says:

      17+10 tahun bu dyah… hahahhaha. Setua itu ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ๐Ÿ˜ฃ

      Kalau naga sama kupu~kupunya udah dimatiin gimana???

      Lhoo… saya sebut sudjiwo tejo juga lho. Bukan sabang sama Mbah Nun aja๐Ÿ™„ hehe

Leave a Reply

%d bloggers like this: