Palsu atau Sejati?

*sebelum ke postingan. Kalau tampilannya masih kaya semut yang sedang berkoloni saat dilihat menggunakan app. Saya sarankan liat langsung di web saja (simomotaro.com). xie-xie.

Apa yang palsu dalam hidup?

Kalau ada pertanyaan demikian kira-kira apa jawaban kalian?

Pertanyaan ini pernah saya lontarkan ke Ningrum (bukan nama sebenarnya) dan jawabannya adalah tawa. Menurutnya tawa tidak berarti bahagia, atau sebaliknya tangis bukan berarti kesedihan.

Pertanyaan lainnya kemudian muncul. Di mana letak kejernihan manusia?

Lalu beginilah jawaban duet kami (efek kids zaman now yang kebanyakan main twitter).

 

Sekitar awal tahun lalu Sujiwo Tejo pernah main tebak-tebakan di twitter yang pertanyaannya  adalah apa yang palsu dan tidak bisa ditandatangani cuk?

Jawabannya adalah HIDUP. Kalau bisa jawab tebakan biasanya dapat balasan TOP! GENIUS ! IQ BERBINTANG!. Sebenernya saya juga waktu itu dapat balasan demikian, tapi dengan alternatif jawaban lainya, bukan hidup.

Karena IQ saya seringnya MELATI apalagi di hadapan asmara, maka jawaban “HIDUP” tadi agak membingungkan saya. Gimana nggak bingung coba? ngeliat pintu ATM yang tulisannya tarik tapi didorong juga bisa aja saya bingung kok. Kenapa di bagian pintunya nggak ditulis aja KAREPMU WIS… TARIK/DORONG PODO WAE (Yah,,, rupa-rupanya pintu ATM tersebut bermuatan kearifan lokal).

Tapi kalau dipikir-pikir ada benernya juga lho…

Hidup nggak pernah jauh-jauh dari kata palsu.

Sepalsu apakah hidup?

Palsu, pola sederhananya adalah yang seakan-akan dan merupakan kebalikan dari yang sejati, yang berarti sungguh-sungguh.

Proses pemilahannya akan mirip dengan transformasi hakikat makanan sebelum sampai ke sel-sel dalam darah. Contoh kasarnya adalah ketika makan nasi jamblang 5 bungkus (percayalah kalau satu porsi itu kecil banget dan nggak akan kenyang)  maka setelah proses pencernaan akan kehilangan status budayanya sebagai nasi jamblang menjadi sari pati. Menjadi yang paling inti/esensi.

Hidup dalam waktu dan ruang

Secara waktu, indikator kesejatian adalah keabadian. Maka, indikator kepalsuan adalah kesementaraan.

Dipikir-pikir, apa sih yang nggak sementara?

Tapi, sudah tabiat manusia selalu memikirkan tentang keabadian. Mencari, membuat, dan menyelenggarakan sesuatu yang awet, yang langgeng, selamanya.

Bahkan penulis sekelas J.K Rowling pun menulis tema besar dalam seri Harry Potter adalah tentang seorang Voldemort yang enggan mati, ia mau hidup selamanya, sampai-sampi membagi dirinya dalam horcrux.

Nyatanya bisa? Tentu tidak.

Orang macem saya pun tidak lepas dari mencari sesuatu yang awet. Lha wong  pakai lipstik aja mesti nyari yang long lasting kok, yang sekiranya bisa nempel terus waktu makan sate secara membabi buta (kaya Suketi makan sate kali yak, Bang satenya Bang… seratus tusuk). Nyatanya ya tetep aja ilang saat makan tusuk yang pertama. Heh ketipu iklan sayaaaa…

Manusia terlalu banyak menggenggam sesuatu yang sangat jelas bersifat sementara. Namun orientasinya adalah keabadian, pilih merk ini agar awet, pakai kayu itu biar nggak dimakan rayap, pakai emas biar nggak karat, pilih momo agar…. *ah abaikan-abaikan …dsb dsb pokoknya. Kemudian diam-diam terkecoh berpihak pada barangnya, bukan pada keabadiannya.

Jangankan barang, tubuh kita sendiri aja nggak akan pernah kuat mengikuti perjalanan menuju keabadian. Benda, materi, fisik, sebagai contoh paling elementer dari kesementaraan. Artinya, sangat indikatif terhadap kepalsuan.

Cewek nggak usah ge-er kalau ada yang bilang cantik. PALSU ITU.  😀 😛

Kemudian, hidup dalam ruang. Tentang manusia meletakkan dan mengeksistensikan diri; jabatan, profesi, pangkat, dll. Pun juga sangat indikatif terhadap kesementaraan dan kepalsuan. Semuanya akan bertemu pada ending.

Nyatanya indikasi terhadap kesementaraan dan kepalsuan pun tidak kecil. Tidak ada jamainan seseorang memilih sesuatu dalam hidup (sesederhana memilih barang di mal) adalah orisinal kehendaknya, bisa jadi ada kehendak-kehendak lain yang lebih besar menguasainya. Pun tentang cita-cita mau jadi apa, sangat besar berkemungkinan tidak berasal dari kehendak orisinalnya, bisa jadi karena budaya dari luar. Jadi anu aja biar keren, jadi itu aja biar dipandang bagus, ahh Kak… mau kayak awkarin Kak… dsb dsb. Saya sih mau jadi teman hidupmu aja *eh tapi sopo???

Lalu di mana letak diri yang sejati?

Unsur-unsur yang sejati letaknya di mana?

Piye yo?

Nyatanya saya memang sudah terlatih berada dalam satu kepalsuan kemudian ke kepalsuan yang lain. Saya terdidik bergaul dalam kepalsuan. Saya terbiasa mendengar sesuatu yang bersifat sementara, semua indra barangkali…

Singkat kata. Saya tidak terlatih untuk menjadi jernih.

Ada yang rindu dalam hati.

Tahu lagunya Big Bang yang judulnya Loser? Itu lho yang gaya rambut T.O.P nya mirip nanas.

Ini kenapa jadi ngomongin korea Mo? Sehat?

Tolong baca aja ya. Tugasku nulis nih…

GD pernah bilang dalam suatu wawancara bahwa dia dan personil bigbang lainnya hanyalah manusia biasa yang acapkali merasa sebagai pecundang. Sebagai bintang besar, mereka merasakan gegap gempitanya sebuah konser, kemudian pulang ke kamar hotel yang dingin, sepi, dan sendirian. Meraka hampir tidak punya teman kecuali anggota lainnya. Mereka merasa menjadi pecundang setelah semua perjalanan dan kesuksesan yang mereka dapat.

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak saya adalah apakah ini saat di mana sukma, jiwa, roh sedang memberontak?

Kemudian menggiring saya pada ucapan Sabrang… (deuh Sabrang lagi???)

“Kekayaan tidak bisa menjawab kerinduanmu, kepandaian tidak dapat menjawab kerinduanmu, kepada Yang Maha, karena Yang Maha harus kau temukan di dalam dirimu, bukan di luar dirimu.”

Yha.

Posisi manusia memang selalu ada dalam kata “semoga”. Itu sebabnya kita berdoa untuk selalu diberi petunjuk jalan.

Dan sepertinya saya harus belajar dari garpu pop mie yang walaupun sudah ceklek (tidak lurus) tapi masih bisa diluruskan lagi.

 

You may also like...

7 Responses

  1. azizatoen says:

    Kenapa tulisanmu keren begini sih kak? Coba jadi kayak Mario Teguh, deh. Pasti laku di pasaran

    • momo taro says:

      Ora… saya nggak licin kaya sarden..

      Saya ikut pelunas hutang aja…
      Pelunas hutang rindu 😥😥😥

  2. Ikha says:

    Kemarin di ajari belajar dari sedotan sekarang dari garpu Pop Mie. Beneran kayaknya aku kudu belajar banyak darimu mbk.

  3. mfadel says:

    Nasi Jamblang khas Cirebon kan? Terakhir makan seporsi nggak nyadar kalau udah makan -_-
    Dalam simomotaro.com ini mbak mo jadi lebih filosofis yak hahaha. Sangat suka maksud dari kepalsuan di sini
    Btw itu mesti banget ujug-ujug bawa nama Big Bang di sini hm

    • momo taro says:

      Nahhh itu dia Del…
      Itu mah satu kaya makan angin doang…

      Ah begitukah del??? Filosofi garpu pop mie 😂😂😂

      Habis mau gimana lagi dong, kurang asupan oppa oppa nih ~~~

Leave a Reply

%d bloggers like this: