Tentang Ya dan Tidak

1.

Mulut daun mencumbu matahari

Hingga menguning dan kering

Jatuh kembali pada bumi, seperti pulang ke pelukan Ibu

 

“Kita tak akan pernah tahu ke mana kita akan jatuh kan?” katamu. Setelah satu gelas kopi hitam yang hangat berubah menjadi dingin. Dingin bukan karena suhu ruangan yang dibuat rendah, dingin karena kau abaikan hingga aromanya mulai hilang di udara. Iya aku tahu itu, tentang kalimat pertamamu, banyak buku yang berkata demikian. Aku sudah terbiasa dengan teka teki atau pertanyaan, dengan semua yang mengundang sekaligus mengandung. Pertanyaanmu barusan, mengundang dan mengandung kata tidak untukku. Iya untuk dia. Jelas sekali.


“Aku jatuh padanya, begitu saja.” Kalimatmu yang kedua, usai jeda lima menit setelah kau meneguk kopi dingin dan menyisakan bulatan genangan kecil di dasar cangkir. Kau jatuh begitu saja padanya, seperti daun yang mendewakan matahari, mencumbunya hingga menguning dan kering. Namun bahagia telah jatuh pada bumi. Iya untuk dia, tidak untukku.


Matahari begitu terik. Suara musik mengalun rendah, entah lagu apa, bahasa apa. Sementara bulatan genangan hitam yang tertinggal di dalam cangkir dinginmu mungkin menjerit. Mungkin ia bertanya entah pada siapa, mengapa menjadi yang tertinggal begitu saja. Sia-sia ia ada. Untuk apa?

“Dia cantik dan aku suka senyumnya.” Kalimatmu yang ketiga membuatku tersenyum. Bukan. Bukan untuk menandingi senyuman milik dia. Tapi untuk sisa genangan hitam dalam cangkir dinginmu. Aku ingin membisikkan sesuatu pada sisa-sisa kopimu; terik-pemuda-kata-jendela-bulatan kecil-genangan hitam-jatuh- iya untuk dia, tidak selalu untukku. Aku ingin menghibur genangan hitam itu dengan membuat puisi. Setidaknya ia tak sia-sia untuk ada.


2.


Warna matahari meracuni langit biru

Seperti segelas air panas yang pasrah dicelupi kantung teh

 

Satu es coklat dingin, sudah hampir habis. Ceritamu masih belum habis tentang dia. Es coklatku sudah tak lagi manis, tapi ceritamu masih saja manis tentang dia. Seperti biasa, iya untuk dia. Tidak masih milikku.


“Bicara denganmu berlama-lama sangat ampuh membunuh waktu.” Kalimat pertamamu yang tidak mengisahkan tentang dia akhirnya muncul. Aku tersenyum, tegukkan terakhir es coklatku begitu manis walau tanpa gula.

Dua menit berselang. Kau mengubah nada bicaramu saat menerima panggilan lewat layar datar itu. Pemuda ini sedang mabuk rupanya. Lagi, iya untuk dia. Tidak, setia bersamaku. 


Aku mendengar daun-daun kering patah di bawah kakinya yang mondar-mandir bicara dengan dia lewat telpon. Ranting-ranting menjadi getas, ia bahkan sudah patah sebelum kau injak. Langkahmu terasa menjauh, meninggalkan bunyi-bunyian patah, padahal kau hanya beberapa depa dariku yang duduk mengamatimu.


Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit. Emam menit. Tujuh menit. Delapan menit. Sembilan menit. Kau kembali duduk di bangku taman di sebelahku. Kita bersisian, mungkin kali ini hanya beberapa jengkal jaraknya antara aku dan kamu. Tapi aku merasa sembilan menit barusan telah membuat jarak baru seperti antara bumi dan matahari. Seratus empat puluh sembilan juta enam ratus delapan puluh ribu kilometer. Angka-angka yang apabila dijajarkan akan membuatku kerepotan. Aku kesulitan menggapaimu.

Senyum masih menggantung di wajahmu. “Aku harus bertemu lagi denganmu esok hari.”

Kau pergi. Semaumu. Lagi.

3.


Dua matahari pada hari yang sama

Aku retak, kering dan getas

Barangkali sudah patah 

Tapi tidak hancur


“Kekasihku akan datang, satu jam lagi. Kamu adalah sesorang yang sempurna untuk menemaniku selagi menunggu.” Selamanya iya untuk dia. Selamanya tidak untukku. 

“Mungkin saja dia tak akan datang. Ada keperluan lain barangkali.” Ucapku sambil lalu. 

“Tidak mungkin.” Kau menggeleng yakin. “Atau barangkali kekasihmu ketiduran dan lupa datang kemari.” Kau menatapku yakin. “Itu jauh tidak mungkin”.

Aku tertawa, “Aku bisa menemanimu lebih lama. Jika kekasihmu datang terlambat.” Aku benar-benar tertawa, menertawakan kebodohanku sendiri. Berharap pada remah menit, atau bahkan detik agar bersamamu lebih lama, sampai hancur.

Bayangan nampak memanjang, menandakan berlalunya waktu. Pohon, bangunan, termasuk bayanganmu. Benar adanya jika mencintai adalah pekerjaan yang tak kunjung selesai karena segala sesuatunya tampak memanjang. Waktu satu jam selama menunggu kekasihmu membuatmu delapan kali melihat jam, lima kali menggaruk kepala yang tak aku yakini apakah kau memang benar-benar gatal, dan entah berapa kali kau merebahkan bahumu pada kursi dan kembali duduk tegap. Kakimu lebih sering terguncang-guncang seolah membantu kayuhan waktu agar detik-detik lebih cepat berlalu. Atau kau ingin segera berlari menemuinya?

Sementara kau masih sibuk dengan dia dalam layar datar. Aku masih sibuk menekuri bayang-bayang yang terbentuk dari posisi kita yang bersisian. Aku melihat bayanganmu bergabung dengan bayanganku sebagian. Kadang aku melihatnya seolah bersatu. Kulihat juga semut hitam berjalan berbaris sambil membawa butiran putih seolah berlindung dalam teduhnya bayangan kita. Setidaknya ada yang berbahagia. Itu cukup bagus.

Bayang-bayang lahir karena cahaya yang terhalang oleh benda. Suatu bentuk kehadiran sekaligus bentuk ketidakhadiran. Bayang-bayang hadir tak terlambat, tapi lahir karena hambatan.

Aku melihat bayangan lain. Dia telah datang. Kau beranjak dan tersenyum. Tak sedetikpun dia terlambat. Itu kabar bagus, aku tak hancur karena lebih lama menemanimu. Tiga menit berselang, kalian pamit pergi. Aku masih berdiri tersenyum untuk kalian, hingga dua punggung itu menghilang.

Kamu memang bercahaya, begitu pula dengan dia, kalian cocok sekaliSementara aku benda pejal yang membentuk bayangan perempuan bertubuh kurus. Kehadiranku tidak pernah digubris, mungkin hanya para kawanan semut hitam yang sedikit limbung karena kepanasan. Tubuh kurusku tak mampu meneduhkan jalan mereka.

Perasaan ini hadir tanpa terlambat. Tapi lahir dari hambatan.

Selalu, aku adalah bayang-bayang.

Ya untuk dia.

Tidak untukku.


4.


Ketika matahari tuntas dengan tugasnya

Yang tersisa hanya peluh


Aku seumpama bayang-bayang yang menyelinap dalam gelap malam. Membaur kemudian melebur.

Tapi tak pernah sekalipun aku bersembunyi sampai datangnya hari terik di mana kamu benar-benar mengatakan tidak padaku dengan jelas.

Tidakkah kau bisa lebih lama menemaniku? Aku sendirian. Dia sudah pergi”


Haruskah ku katakan tidak untukmu?


Pernah diposting 29 januari 2017 dengan judul matahari dan bayang-bayang. Beberapa bagian dihilangkan dan ditambahi.

Mungkin ke depan saya istirahat ngeblog dulu karena beberapa kendala.

Jangan kangen, nanti bulu mataku rontok. 😆😆😆

You may also like...

5 Responses

  1. Ikha says:

    Aku akan kangen, tanpa merontokkan bulu matamu mbak…

Leave a Reply

%d bloggers like this: