Kepada Hati Itu (1)

Kepada Hati Itu (Ibuk)

Masih ingatkah saat aku mengirimkan surat yang terakhir padamu Buk? Seingatku tahun 1998. Aku menulisnya pada buku gambar ukuran A4 dengan bolpoin berwarna biru. Buku dengan garis-garis memang tidak aku sukai sejak dulu. Aku memang tidak pandai menggambar, tapi bukankah kata-kata juga adalah sebuah gambar Buk? Mungkin itu juga yang membuatku suka sekali menulis di buku sketsa.

Zaman sudah berubah Buk, segalanya sudah tampak lebih mudah sekarang. Budaya surat menyurat sudah mulai tergantikan dengan berkirim pesan yang sangat instan dan bagiku dibeberapa bagian mulai kehilangan makna. Namun, aku masih punya kebiasaan menulis.

Buk, diam-diam ternyata aku punya banyak sekali catatan-catatan kecil. Beberapa tulisan kecil itu  tidak sanggup aku baca ulang karena aku takut menangis.

Kemarin, aku membaca beberapa bagian. Pada salah satu halaman itu bertuliskan;

Jakarta, September 2007

Mungkin berjarak lima rumah. Aku berjalan dan kebingungan sampai akhirnya kaki ini mengantarkanku pada sebuah gereja. Aku duduk di bangku panjang kedua dari belakang, menyaksikan para jemaat sedang berdoa. Tangan kiriku hanya memegang dada. Sampai akhirnya seorang pemuda di samping kiriku berkata “semua akan baik-baik saja”.

Sudah sepuluh tahun rupanya. Dulu aku sangat lelah melihat Abang dan istrinya bertengkar. Karena tidak tahu harus ke mana mencari suaka dan takut berjalan jauh, aku masuk ke gereja. Lucunya, setiap aku berkesempatan melewati gereja itu kembali, dalam hatiku bertanya-tanya ; Apakah dia ada di sana?

Tahun 2007-2008 agaknya menjadi tahun-tahun yang berat untuk Abang dan istrinya ya Buk? Tapi, anak mereka sekarang sudah bertambah dan sudah pindah rumah. Sejauh ini mereka baik-baik saja.

Tahun 2001, aku pernah ditanya kalau Bapak dan Ibuk cerai, aku milih ikut siapa? Ibuk ingat jawabanku dulu? Jawabanku adalah cerai saja dulu, nanti aku pikirin mau ikut siapa. Aku sangat santai saat itu, tidak takut dan percaya kalau kalian tidak akan berpisah. Jika berpisah kenapa tidak dari dulu saja? Tidak dari tahun 1996? Atau tahun yang lebih muda dari itu. Maka dari itu aku sangat tahu perasaan Gabe dalam film Little Manhattan, sayangnya saat itu aku tidak seperti Gabe yang sedang mengalami cinta pertama. Emm… Ibuk pasti tidak tahu itu film apa.

Berumah tangga bukan hal yang mudah ya Buk?

Sejujurnya, Abang dan istrinya itu bukanlah pasangan yang buruk. Mereka selalu memperhatikan ketiga anaknya. Dua tahun lalu, anak kedua mereka yang saat itu masih kelas empat SD iseng sekali memasukkan kancing dalam hidung sampai kancing itu masuk ke dalam saluran pernapasan. Aku ingat betul saat itu Abang sangat panik saat menerobos kemacetan dijam-jam pulang kerja menuju rumah sakit.

Menjadi orangtua seperti membagi jiwanya ya Buk? Menjadi orangtua seperti dipeluk rasa khawatir mengenai anak-anaknya.

Sepertinya aku harus banyak meminta maaf mengenai hal itu. Tentang membuatmu khawatir. Saat di ruangan HCU beberapa waktu lalu, Ibuk bilang aku jangan mati. Tapi dengan ringannya aku menjawab semua orang pasti mati Buk. Aku memang suka sekali bicara dengan spontan ya Buk? Tidak banyak berpikir bahwa hal itu membuatmu menangis dan meninggalkan rumah sakit untuk menangis dengan puas di rumah. Aku baru tahu hal itu dari Mbak setelah pulih dari sakit.

ibuk

Aku tahu Ibuk perempuan kuat, tidak banyak Ibu yang mampu tabah menghadapi anaknya (adikku) yang sakit selama puluhan tahun.Ibuk satu-satunya yang menemaniku di rumah sakit walaupun kita hanya bisa bertemu di jam besuk saat masih di HCU. Ibuk memang lebih kuat dari Bapak. Buktinya Bapak tidak berani melihatku terbaring dengan mesin-mesin ganjil yang memiliki banyak kabel yang ditempel di dadaku, entahlah itu alat apa? Telunjukku saja dijepit oleh alat semacam jepit jemuran baju.

Ruangan itu sangat dingin dan Ibuk meminta agar AC nya tidak terlalu dingin. Ibuk mengomel pada perawat yang jaga saat itu. Emm… mereka memang menyebalkan Buk. Sering sekali berisik padahal aku sangat mengantuk, beberapa diantaranya juga selalu bertanya “lho mana pacarnya Mbak? Nggak nengok juga?”. Kesal aku dibuatnya.

Ibuk memang suka sekali mengomel. Sejujurnya aku cukup kesal dengan hal itu, apapun yang kita bahas akhirnya berujung pada pendapat yang berbeda. Sekuat tenaga aku menahan kalimat-kalimat yang ingin aku ucapkan. Walaupun sebenarnya aku hanya ingin meluruskan tentang masalah yang ada. Tapi, sekarang aku lebih banyak sadar bahwa Ibuk hanya butuh lebih banyak didengar. Sehebat apapun aku dalam memberikan argumen. Ibuk punya hak yang lebih besar untuk tidak didebat. Ucapanmu kadang cukup menyakitkan, tapi tenang saja aku selalu kuat untuk itu.

Buk, kita berdua memang bukan sepasang Ibu dan anak yang saling cukup terbuka ya? Aku agaknya lebih suka menyimpan beberapa hal sendirian. Ibuk juga tidak pernah menasehatiku macam-macam tentang bagaimana baiknya melakoni hidup, tapi dengan apa yang Ibuk tunjukkan itu pelajaran yang amat berarti. Tentang hidup kadangkala adalah tentang hal-hal sederhana yang ada, bukan tentang keinginan-keinginan yang tak ada habisnya. Darimu aku belajar untuk tertawa, bukan untuk sekedar menertawakan hidup, tapi menjadikan tawa sebagai mekanisme dalam hidup.

bersambung…

kayaknya bakalan banyak.

You may also like...

9 Responses

  1. gadung giri says:

    siapa juga sih yg ga pernh diomelin ibu nya… entahlah knp kalo pas di omelin kadang rasa sebal yang muncul, padahal dalam hati kecil sangat ingin untuk bisa memuliakan

  2. Dulu waktu hidup berjauhan juga kepikiran ngirim surat ke mama saya, tapi bingung mau pakai bahasa Indonesia atau daerah. Pakai bhs Indonesia jd canggung, krn sehari2 pk bahasa daerah. Pk bahasa daerah rasanya kok kurang nyeni gitu klo dituliskan dlm tulisan yg panjang, terlalu frontal

  3. mfadel says:

    Perempuan kuat bukan dididik dari kenangan manis, tetapi masa lalu pahit
    Entah pernah dengan quote seperti itu dari mana

  4. amijasmine says:

    Salam kenal mba Momo. Namaku Ami. Sama,aku juga tidak memiliki hubungan yang cukup terbuka dengan Ibu. Tapi disetiap doaku selalu terselip namanya.

    • momo taro says:

      salam kenal juga Ami… namamu megingatkanku pada seseorang. hehe

      aamiin. semoga doanya senantiasa dikabul 🙂

  5. Yos Adya says:

    Walaupun saya kesel suka diomelin, tapi ya saya nggak boleh ngelawan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: