Saya Tahu Bahwa Saya Tidak Tahu

Beberapa waktu lalu, salah satu teman lama saya curhat panjang mengenai kehidupan rumah tangganya, dalam curhatannya ia berkaca-kaca sambil mengatakan bahwa dia tidak pernah benar-benar mengenal/mengetahui suaminya.

Saya cuma bisa mengangguk saat kalimat itu dilontarkan.

Lalu saya mulai kepikiran dan beberapa hal sepertinya harus saya tuliskan supaya blog saya ada postingan baru. Tentang apa? Rumah tangga orang? Bukan… bukan itu, tapi mengenai “tahu bulat”.

Agaknya, jika ditengok ke belakang. Saya ini banyak sekali “sok tahu” akan beberapa hal. Padahal sejatinya porsi ketidaktahuan saya jauh lebih besar. Jangankan untuk mengetahui orang lain, soal diri saya sendiri pun porsi ketidaktahuannya pastilah jauh lebih besar.

Hidup sepertinya begitu lucu ya?

Saya tahu ini buku, tahu itu pensil. Kemudian sedikit bergeser ke kelompok lain, sebutan pensil dan buku sudah tidak berlaku lagi. Dan pastinya nama pensil dan buku itu tidak berlaku untuk pensil dan buku itu sendiri.

Itu benda mati, apalagi manusia dengan kehidupannya yang amat dinamis dan hati yang mudah terbolak-balik. Untuk porsi tahu saja sudah terseok-seok apalagi untuk paham ataupun mengerti.

Bisa jadi rasa tahu saya adalah bagian yang paling rentan dari ketidaktahuan itu sendiri.

Saya tahu bahwa ternyata saya tidak tahu.

*tarik napas  mbuh saya nulis apa

Untukmu teman…

Karena temanmu ini ngaku bodoh aja nggak berani, jadi boro-borolah mau memberi solusi. Tapi, saya selalu punya waktu untuk mau mendengar dan teh pucuk untuk dibagi-bagi, ditambah kacang atom garuda juga boleh.

Kapanpun, pintu saya selalu terbuka untukmu.

Jika kamu sedih itu hakmu, tapi kamu lebih berhak untuk bahagia.

Soal bedebah dinamisnya hidup. Memang segala perkara menjadi tak tentu, untuk urusan yang sederhana seperti makan saja selalu berlaku kedinamisannya. Makan dari hasil curian hukumnya haram, makan ketika kelaparan hukumnya wajib, dan makan dan minum secara hukum fiqih umum bernilai mubah. Kemudian saya ingin pizza, ahh nggak nyambung *fokus-fokus…

Urusan dinamisnya hati, labirin, lapisan, kedalaman hati manusia? Lagi-lagi saya tidak tahu.

Saya hanya bisa mendoakan kebaikan terjadi atas dirimu. Apapun keputusanmu kedepannya. Semoga kamu menemukan solusi permasalahan atas apa yang telah menimpa keluargamu.

Jika kesedihan adalah hujan deras, maka ingat saja seberapa banyak kubik air jatuh, tetap saja ruang kosong tanpa titik-titik hujan itu lebih besar. Jangan takut kehujanan, kita tidak pernah tahu tetesan air hujan yang mana yang mampu mendekatkan pada Sang Maha Mengetahui (lupa pernah baca dimana).

tahu

*hanya sebuah catatan kecil yang ditulis dengan kebingungan untuk cerita yang terlalu panjang.

*dari temanmu yang sangat lemah. Saking lemahnya ngeliat orang nguap aja bisa ketularan.

*serius saya pengen tahu pizza.

 

You may also like...

2 Responses

  1. ice_tea says:

    Mbaa Momooo,… ini seperti curahan hatiku yg tak pernah tersampaikan entah kepada siapa wkwk..

Leave a Reply

%d bloggers like this: