Kalau Rina Nose Lepas Hijab, Kalian Mau Komentar Apa?

Kalau Rina Nose lepas hijab, kalian mau komentar apa? Iye apa cuy? Kalau saya sih malah baca-baca komentar di instagram milik Rina Nose sampe lupa jadwal nyiram tanaman di pagi hari. Pagi yang berfaedah memang.

Sabtu, pagi-pagi sekali saya masih dengan mata ngantuk saat melihat grafik naik turun di laptop, terdengarlah suara narasi berita gosip di TV tentang Rina Nose yang lepas hijabnya. Rina Nose diwawancarai mengenai keputusannya melepas hijab disusul dengan pendapat para sahabatnya dan diakhir ditayangkan pendapat seorang ustad. Dalam hati ; waaaa bakalan rame nih dan langsunglah saya ngacir untuk buka instagram demi membaca cangkeman para warganet.

Rina Nose dihujat

Pada akunnya @rinanose16 terdapat sebuah foto dengan caption yang panjang dengan komentar para netizen yang tak kalah panjang sampai lebih dari 100k. Rina Nose mendapatkan komentar beragam dari menyayangkan keputusannya, kecewa, sedih, minta sumbangan hijabnya, marsyanda kedua, dibilang tidak konsisten, iman lemah, tidak istiqomah, suruh Rina nose telanjang, dikatain hijabnya tidak dari hatilah, cantikan pake hijab, agama bukan mainan, keputusannya salah, mau pindah agama, kafir, lepas hijab karena kebanyakan jalan-jalan, tentang surga neraka ini itu, kasihan sama bapaknya, salah milih referensi bacaan, minta diboikot indosiar, ingat ajal bisa datang kapan saja, mau kepanasan di akherat dan masih banyak lagi yang lebih pedes.

Topik mengenai politik dan agama agaknya memang menjadi topik yang laku keras hingga saat ini. Belum lagi dihari yang sama lini masa twitter digegerkan oleh tema “cantik”. Dunia maya memang tidak pernah tidur ya?

Masalah hijab ini memang menjadi topik yang nggak pernah sepi dibicarakan warganet, bahkan tentang anak Quraish Shihab, Gusdur, Emha Ainun Najib yang tidak pakai hijab pun dibahas nggak ada habisnya sama warganet ini. Entah kapan berakhir.

Jangan jauh-jauh deh, wong masalah makan bubur ayam diaduk atau tidak aja bisa memicu konflik netizen kok.

Eh bahas apaan sih saya

Masalah berkomentar di dunia maya

Internet memberi tempat yang bebas untuk seseorang melampiaskan diri. Orang bisa ngomong bebas semaunya, mau bohong, jujur, nyinyir, menghakimi, menasehati, atau jualan cangcimen & mijon dingin. Semua bebas berbicara, bahkan sepengecut apapun seseorang, dia tidak akan dipukuli di dunia maya. Sak karepmu.

Jujur saja saya ini paling males mandi sore komentar tentang hidup orang lain. Apalagi udah masuk ranah yang amat pribadi. Bukan karena saya masih jarang-jarang kudungan atau pernah dikafir-kafir oranglain lho ya. Pokoknya saya tidak berani mengkomentari hidup orang lain karena saya tidak tahu apa-apa tentang pergolakan batin yang dialami seseorang. Saya tidak akan pernah tahu sebelum saya hidup di lapisan epidermis orang yang bersangkutan. Bakteri kelesss…

Sebuah realita

Soal komentar orang-orang yang seakan “tahu” itu saya pun pernah mengalaminya. Contoh kecilnya adalah ketika saya ditanya oleh salah satu teman dalam grup wasap mengapa pagi itu saya masih sempat eksis di grup, apa tidak kerja? Saya menjawab bahwa saat itu saya sedang menunggu antrian untuk donor darah. Langsunglah saya dikomentari macam-macam yang intinya adalah pahala saya akan hilang soalnya sudah umbar-umbar. Lho, nggak mikir sejauh itu saya. Donor darah ya donor saja, mau dapat pahala atau tidak terserah Tuhan saja, yang penting ada orang yang bisa saya bantu serta dapat pop mie gratis. *eh

Soal dikafir-kafirkan di dunia maya pun saya pernah mengalaminya di salah satu media sosial gara-gara pendapat yang saya utarakan. Tapi, saya santai saja. Toh posisi manusia selalu ada dalam “semoga”. Siapa yang bisa menjamin Anda muslim atau kafir selain Tuhan itu sendiri.

Tarik lagi ke belakang

Saya lebih suka tarik ke belakang sampai menemukan kata “manusia”. Rina Nose adalah manusia biasa, sama seperti saya dan lainnya. Manusia yang selalu punya grafik luar biasa dinamisnya.

Dilihat dari sisi manusia saja, apa pantas menghina? Mengolok-olok? Mencaci maki keputusan seseorang yang sebenarnya tidak kita tahu sama sekali? 

Tentang surga dan neraka

Kok mudah sekali mensurgakan orang dan menerakakan orang. Siapa yang berhak atas surga dan neraka selain Tuhan? Netizen ini sungguh berani sekali ya? Kalau begini masuk surga, kalau begitu masuk neraka. Kita sama-sama tidak tahu siapa yang masuk surga atau neraka. Kenapa mesti ribut-ribut? Kenapa tidak sadar diri saja bahwa kita sama-sama sedikit pengetahuannya.

Kalau dilihat-lihat kok sepertinya banyak orang yang mudah sekali kagum pada seseorang, serta mudah sekali menjadikan seseorang lainnya musuh bersama.

Tengok saja, orang-orang mudah kagum dengan pemimpin yang katanya sih dekat dengan rakyatnya. Kayak gitu kok kagum? Wajar dong pemimpin dekat rakyatnya? Supaya tahu masalah apa saja yang mesti segera dibereskan.

Ada berita Mulan Jamela sama Ahmad Dhani benci, ada berita Ayu Ting Ting benci, ada Ahok benci, ada Awkarin benci, lihat Rina Nose buka hijab jadi benci, eh giliran ada yang buka baju dicari-cari linknya.

Ayo dong jangan mudah apatis, sinis, menerima atau menolak sesuatu yang datang pada kita. Ambil saja yang sekiranya membuat kita jadi lebih baik. Lebih dekat dengan Tuhan, lebih kagum pada pengetahuan, dan lebih takjub pada kemungkinan-kemungkinan.

Ahhhh saya nulis apa sih.

You may also like...

23 Responses

  1. shiq4 says:

    Saya nggak banyak komentar. Tapi klo ada yg bagi2 link kasus buka baju saya mengucapkan terima kasih 😀

  2. amijasmine says:

    Kalau saya mah terserah Rina Nose,itukan hidupnya dia.

  3. mfadel says:

    Ecieee..
    Ada yang kesentil komentar warganet -,-
    Transparansi komunikasi tho mbak. Gara-gara itu opini bisa mengalir sampai jauh. Sampai jauh banget malah. Semoga golongan-golongan bersumbu pendek itu kian bijak~

    • momo taro says:

      haruskah ini dicie cie wahai anak muda? wqwqwq
      banget Del, bisa jauh banget… jauh banget.

      semoga Del…
      semoga sabar menghadapi kelakuan warganet seperti Ivan Lanin *eh

  4. Ibnu Rafi says:

    Karena nyinyirin hidup orang itu bagi mereka lebih asik dibanding dengan “berkaca”

  5. Ikha says:

    Saya suka paragraf penutupnya. Hihi.
    Saya pilih ga komentar, kecuali saya hidup di lapisan epidermisnya Mbak Rina (jadi bakterii yakult) 😆

    • momo taro says:

      Berarti ada pada sistem pencernaan. Emmmn…
      Epidermis itu ada di… ah sudahlah.

      Jolaliklikiklan ㄟ( ̄▽ ̄ㄟ)

      • Ikha says:

        Enggak, aku bakteri yakult yang terasing dilapisan epidermis. Yakultnya kecer dan aku menyelundup disana..
        *apasih..

        Have done. Have done. Have done. (≧∇≦)/

  6. Kran aer says:

    Cek vlognya master deddy deh yg baru diposting hari ini. Rina nampaknya memang sudah memantapkan diri dg apa yg dia yakini. Smoga warganet yg mau komen pedes atau apapun bs menahan diri sama jempolnya.. jangan memaksakan yg berbeda menjadi sama. Boleh menasehati tapi ga perlu di medsos. Gitu aja dari sayah… salam jempol

  7. rizzaumami says:

    saya ga kenal rina nose, tapi temenku ada yg namanya rina. selama medsos ribut soal rina nose aku hanya jadi pembaca pasif, ya gitu, hidup harus terus jalan, ambil hikmahnya, buang kulitnya..

  8. Maraza says:

    Cuma mau jawab pertanyaan di judul. Komen apa? Eman2 itu aja. Tapi yo balik lagi cuma bisa menyayangkan. Semuanya kan hanya Tuhan dan Rina Nose yang tahu… Aku mendingan ngerjain yang lain atau jagain Yakultnya Ikha biar nggak tumpah lagi. ^▁^

  9. ONETHEFULL says:

    Saya lebih memilih untuk tidak komentar. Termasuk pasif dalam berkomentar di sosial media hehe. Hanya mengamati dan ambil sisi positif buang sisi negatifnya saja 😀

  10. azizatoen says:

    Aku ndak mau berkomentar, yang jelas Rina Nose punya hidung, kalau ndak punya jadi Rina Nonose hehe

Leave a Reply

%d bloggers like this: