Aku Bukan Euridice, Kamu Bukan Orpheus

/1/

Dari kota yang langitnya keruh

Aku memungut ingatan tentang tanggal-tanggal

yang gagal berlalu

Mungkin inilah ganjil; ketika seseorang pelan-pelan

hilang dalam pandangan

Perjalanan ini membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Sebuah undangan, hitam, sembilan senti kali dua puluh tiga membawaku kembali ke kota ini. Aku membacanya berulang. Menakar tiap kata di dalamnya. Mengartikan mengapa hitam menjadi warna yang dipilih. Kamu, mungkin berpikir aku masih seperti filsuf yang sering kubaca dalam buku-bukumu.

Kamu bilang aku sering mengartikan sesuatu yang tidak berguna. Masih ingat saat kita dalam perjalanan di stasiun kereta? Aku akan menanyakan hal, tentang apa itu pergi, pulang, rumah,tujuan, tinggal, juga memikirkan mengapa orang-orang dalam perjalanan sering kali  melemparkan pandangan yang terkesan “jauh”, apakah mereka merncari sesuatu? Kamu tahu betul aku akan seperti orang yang linglung yang memasuki semestanya sendiri. Jika sudah begini, kamu akan tabah menunggu “di luar”.

Hingga saat ini aku masih seperti anak kecil yang tak lelah bertanya. Tapi, untuk cerita kita berdua. Aku tak punya pertanyaan. Pada akhirnya aku tahu bahwa dalam cinta kedua pihak selalu menjadi yang antagonis. Aku dan kamu sama jahatnya. Aku dan kamu sama-sama menang, pun sama-sama kalah.

/2/

Di dalam sebuah gedung,

tak kutemukan apa-apa selain riuh yang dingin,

Tuhan yang terlalu serius dan waktu terjaga

yang lebih berbahaya daripada putus cinta.

Kamu beranjak saat menemukanku. Mendekat, hingga aku mampu mencium baumu. Satu lagi ingatan tentangmu yang tak bisa aku gambarkan sudah bertambah. Kupikir kota tidak pernah melahirkanmu, kamulah jelmaan jantung hutan yang damai, rumput yang basah, dan tentang semua hal dengan kata teduh. Dimana hal-hal mudah teraba dan umur waktu terasa lebih lama.

Kulitmu sedikit lebih terang dariku. Kota tak mampu membakarmu bukan? Rambutmu sedikit berantakan, mungkin teracak tangan karena tak ada angin dalam ruangan ini. Hanya pendingin yang tidak aku suka.

Matanya memantulkan wajahku padanya, begitu bening. Kini mataku ada pada matanya. Tidak, aku tidak boleh tersandra lagi di dalamnya. Aku tak mau berpikir tentang matanya yang berisikan nuansa yang melabuhkan tiap kemungkinan-kemungkinan.

Aku harus tersadar. Segera.

Kembali suara-suara lain terdengar, dingin yang bertambah, obrolan orang-orang entah tentang apa, cahaya yang terlalu terang, langit-langit yang angkuh dan beberapa denting piring.

“Aku mendengar banyak hal tentangmu…”

Darahku berdesir. Aku ingin hilang saja, seperti akan selalu. Ruang menjadi gagap. Seketika riuh, seketika sepi, seketika terang dan seketika gelap. Kepalaku seperti mengunyah-ngunyah permen karet pada kelas-kelas yang terasa terlalu panjang. Hingga aku melontarkan satu buah kata. Satu saja.

“Hai…”

/3/

Tidakkah sedikit saja dimengerti bahwa perjalanan

adalah tentang menutup diri dari pertanyaan-pertanyaan

yang tidak bahagia

Pergi, hanyalah sesederhana peristiwa datang yang diputar balik

Lihat sekarang, waktu adalah lokomotif besar yang membawa siapapun atau apapun. Apa yang tetap? Tidak ada. Bahkan aku pikir tak pernah ada yang benar-benar siap.

Aku bukan Euridice, kamu bukan Orpheus. Kita bukan nama-nama pada cerita apapun. Kamu hanyalah seseorang yang masuk dalam kereta, pintu tertutup dengan suaranya yang mendesis, kemudian kamu menepelkan kepalamu pada kaca jendela dan tidak ada lambaian tangan.

Aku tahu kamu sebenarnya tidak pernah ingin benar-benar pergi. Kemudian kereta semakin menjauh dan menjauh sampai tak terlihat.

Lalu sudah kutanamkan benih-benih kehilangan jauh sekali di dalam dada. Ia aku biarkan tumbuh subur agar aku paham bahwa kehilangan adalah sulur-sulur hidup yang akan terus hidup.

“Aku pikir kamu tidak datang”. Kamu tersenyum.

Kata-kataku kini tak lebih dari kerut-kerut di dahi saat kamu bicara. Walaupun aku tahu kamu tidak pernah menjadi orang asing. Tidak dahulu. Tidak sekarang.

Lihat, benar bukan? Aku bukan Euridice yang mati. Kamu bukan Orpheus yang mencari. Kita hanya bertemu kembali. Aku hanya tumbuh, kamu pun tumbuh, dengan perasaan yang tidak lagi tumbuh.

 

 

 

You may also like...

17 Responses

  1. Ikha says:

    Ga ada ide..

  2. amijasmine says:

    Akhirnya…..ada judulnya.

  3. ONETHEFULL says:

    Dalaaaaammmm sekali maknanya~~

  4. ayumie zhe says:

    Aku ngefans… Hahaha baguss ceritanya.

  5. ice_tea says:

    Aku bingung mau ngasih saran judul apa mbaa

  6. azizatoen says:

    Endingnya itu lho :’)

Leave a Reply

%d bloggers like this: