Mengejar Angan-Angan, Oh Layang-Layang

Jika pertanyaan adalah suatu gerbang menuju pengetahuan maka izinkan saya untuk bertanya. Pertanyaan ini sudah lama bercokol di kepala saya. Lama sekali.

Apakah pertanyannya?

Pertanyaannya adalah mengapa lagu yang diputar di indomaret selalu jadi ena di telinga? Kenapa? Padahal biasanya pas denger lagu itu ya biasa aja.

Termasuk lagu yang belum lama saya dengar di indomaret belum lama ini. Lagu itu adalah lagu layang-layang yang dibawakan oleh Letto Band. Lagu layang-layang bukan lagu baru. Saya tahu lagu itu sudah lama karena pernah dinyanyikan di maiyah.

Dibandingkan lagu dari Letto lainnya, lagu layang-layang bisa jadi adalah yang paling jarang saya putar. Tapi karena kasus di indomaret itu, lagu layang-layang  jadi sering saya putar dan memunculkan ingatan kolektif saya tentang bagaimana latar belakang lagu itu dibuat menurut penulisnya. Mengapa layang-layang? Bagaimanakah koordinat sudut pandang Noe Letto sebagai penulis terhadap layang-layang itu sendiri? Ini menarik!

Ku berlari mengejarmu, sekuatnya tenagaku, tak hentinya ku melangkah. Mengejar angan-angan… oh layang-layang…

Aku ingin tuk mencari, walau harus di malam hari, jangan kau menghalangi aku. Ku cari keindahan. Oh kunang-kunang…

Jangan ragu-ragu mengejar yang kau mau… Masih banyak waktu untuk cita-citamu…

Sekilas tidak ada yang aneh dari lirik. Sekilas juga terdapat makna bahwa kita memang harus tetap mengejar cita-cita. Bahkan saya merasa ini seperti lagu anak-anak yang ena.

SEMANGAT TERUS… YOSH…

Lalu beginilah sudut pandang penulis liriknya yang melatar belakangi lagu layang-layang ini. Semoga tulisan saya tidak membingungkan pembaca sekalian karena saya hanya mencoba menuliskan kembali apa yang dijabarkan oleh Sabrang dengan kemampuan menulis saya yang ala kadarnya.

Layang-layang dipandang anak-anak sebagai objek yang menyenangkan. Adu main layangan begitu pentingnya saat musim tertentu, belum lagi anak-anak senang mengejar layangan yang putus talinya dan terbawa angin. Lari sejauh apapun tak masalah, mau panas-panasan juga tidak masalah. Belum lagi didukung dengan lingkungan itu sendiri bahwa “banyak yang menginginkannya”. Makin semangatlah anak-anak mengejar layang-layang.

Seiring berjalannya waktu seiring pertumbuhan manusianya, persepsi terhadap layang-layang berubah. Daripada mengejar layang-layang mending beli saja, atau kalau yang otak dagang yha mending jualan saja, atau  malah males main layang-layang mending main mobile legend saja.

Objek kesenangan orang dewasa berubah dari layang-layang ketika masih anak-anak ke objek lainnya, bisa jadi ke buku, diskusi, kamera, modif motor/mobil, sepatu, tas, gonta-ganti pacar dsb dsb dsb…

Cerita mengenai layang-layang bisa menjadi landasan untuk memahami tema selanjutnya tentang tumbuh. Dari kecil hingga dewasa, apa sekiranya yang tumbuh? Pertumbuhan fisik? Pertumbuhan pemahaman? Pertumbuhan mental? Pertumbuhan spiritual?

Seiring berjalannya waktu pemahaman akan cinta berkembang dari remaja (lawan jenis), setelah punya anak (lawan jenis dan anak), kemudian mendewasa lagi (keluarga kecil&besar) dst. Pertumbuhan macam-macam aspek pada manusia menimbulkan dialektika dirinya dan yang diluarnya. Secara natural, manusia akan mencari apa itu yang sebenarnya, yang hakiki, yang sejati.

Namun pada kenyatanya kata “natural” itu sangat mewah adanya. Kita hidup pada lapangan yang terdesign sedemikan sehingga kita tidak tumbuh.

Kembali lagi ke analogi layang-layang. Sangat mudah menikmati layang-layang bukan? Hanya menggunakan indra. Layang-layang adalah wujud materi fisik, bisa dilihat, diraba, dan diterawang. Analogi termudahnya, layang-layang adalah dunia materi.

Dunia materi begitu indah, beragam dan gemerlap. Pokoknya sangat ena sampai kita lupa sejatinya. Yang sejatinya hanyalah layang-layang.

Tapi, bukan berarti kita menghindari layang-layang atau bahkan anti lho ya? Melainkan meletakkannya pada posisi yang tepat. Layang-layang hanya salah satu dari “permainan”.

Tapi jangan salah. Ada orang-orang tertentu yang tak tertipu dengan layang-layang tadi (dunia materi). Tapi lagi-lagi desaignnya tak kalah pintar. Tak tertarik pada dunia materi? Ada dunia ideologi. Parameter yang digunakan jelas, ambil garis tepat antara benar dan salah. Efeknya juga sangat menarik.

Kita lihat di sekitar banyak orang-orang yang sibuk sekali menyalah-nyalahkan orang lain. Dunianya sibuk dengan itu. Sampai dia lupa mencari dirinya sendiri dan Tuhannya. Layangan materi berubah menjadi layangan ideologi.

Lagi-lagi, manusia dibuat tidak tumbuh. Masalah benar dan salah (ideologi) seharusnya diletakkan pada proporsinya yang tepat. Pun bisa jadi pula kebenaran yang dipahami sekarang adalah kesalahan yang belum dipahami. Intinya jangan sampai menghambat pertumbuhan diri dalam mencari yang hakiki.

Apakah harus anti terhadap layang-layang? Tentu tidak.

Temukan saja Tuhan dalam apa yang dilakukan. Hanya itu. karenanya setiap perjalanan adalah unik. Asal tidak berhenti sebelum bertemu titik akhir yang hakiki. Dan hanya itu… hanya itu.

Piye? Piye? Piye?

Masih kurang?

Dalam salah satu post di kenduricinta(dot)com juga dijelaskan tentang makna lagu layang-layang adalah sebuah lagu yang hendak menyampaikan pesan bahwa setiap manusia lahir bukan dalam rangka mengungguli manusia lainnya. Karena, yang seharusnya yang dilakukan manusia adalah menjadi dirinya seutuhnya dengan full potensialnya.

Potensi manusia tidak bisa diukur dengan parameter-parameter yang distandarkan, karena tiap manusia memiliki potensi yang berbeda-beda.Full potensial manusia adalah merealisasi dirinya pada fungsinya di gelaran jagat yang ada. (ini kalau dijabarkan bisa panjang, tapi kalo kepanjangan itu tida baeq untuk SEO bosque).

Lagu-lagu Letto sangat mungkin dipahami multi interpretatif ? Iya banget! Ini baru layang-layang lho. Belum lagu-lagu yang lainnya.

Jadi, kesimpulannya adalah…

Berapa kali saya menuliskan kata ena di postingan ini?

tidak ada layang-layang manuk pun jadi.

Catatan:

Tolong jangan minta saya nyanyi lagunya

Terima kasih

Semoga manfaat.

You may also like...

8 Responses

  1. Ikha says:

    cuma empat…

    masih banyakan layang-layangnya..

  2. Dany says:

    Sekarang dunia kiranya melompat ke digital, semua manusia berkumpul bisa jadi sendiri bisa juga menjadi orang lain dengan kehendaknya. Dan potensi tiap orang pada dunia digital selalu muncul, ada yang berfaedah ada juga yang isinya cuma fitnah.

  3. Ami Jasmine says:

    “Dirimu bagaikan layang layang…..kulepas tali benang kugenggam”(maaf ini lagu dangdut). Komen ga nyambung.

  4. azizatoen says:

    Berasa habis kena materi kuliah 3 sks

  5. Agung Rangga says:

    Baru tahu kalau lagu layang-layang punya makna yang dalam.
    Btw, saya juga heran mbak, kenapa pas dengar lagu yang diputar di indomaret, gramedia, matahari, dan toko-toko lainnya malah jadi lebih enak dibanding pas kita mutar lagunya sendiri. 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: