Mencintai Rupiah Sepenuhnya

Saat umur lima tahun, selain senang main becekan salah satu hal yang saya sukai lainnya adalah ngitung duit receh. Setelah warung punya Mbak saya tutup, biasanya saya bantu-bantu ngitung uang receh pecahan 50 dan 100 rupiah. Aktivitas yang sederhana sebenarnya, hanya menumpuk recehan sampai sepuluh. Kalau sekarang, alhamdulillah saya sudah bisa numpukin karung beras yang beratnya 20kg dengan sempoyongan.

Bisa dibilang uang receh adalah uang yang menemani saya tumbuh. Saya masih ingat uang jajan waktu TK dulu hanya 100 rupiah dan dengan nominal sebesar itu bisa dibelikan gorengan empat buah atau beli soto dengan porsi yang mampu mengenyangkan perut anak TK. Kalau kepepet nggak punya duit tinggal jalan nunduk aja, kali aja ada uang jatuh di tanah. Lumayan kan bisa buat nambah uang cicilan jajan. Pokoknya dulu uang receh itu sangat bernilai.

(dokumen pribadi, uangnya bukan milik pribadi)

Zaman berubah, nilai tukar rupiah berubah. Uang receh tidak memiliki nilai tukar seperti dahulu yang mungkin menyebabkan orang-orang memandang uang receh pecahan 100 dan 200 rupiah menjadi berbeda. Seringkali saat saya berdagang, pembeli menolak kembalian pecahan Rp 100 atau Rp 200. Misalnya seorang pembeli membeli kopi saset yang harganya Rp 1.200 dan membawa uang pecahan Rp 2000. Pembeli biasanya menolak diberi kembalian 800 rupiah, maunya 500 saja. Menurutnya uang 300 itu tidak banyak berguna.

Saya sih senang-senang saja kalau pembeli maunya begitu. Bisa dibayangkan kalau dalam sehari minimal ada 10 pembeli yang demikian. Dalam satu hari saya dapat 3000 rupiah, satu bulan dapat 90.000 rupiah dan dalam setahun bisa dapat 109.500. Apalagi saya nggak repot-repot harus bilang “Kembaliannya mau didonasikan untuk penjualnya?”

Kasus lainnya, saya sering melihat uang logam pecahan Rp 100 dan Rp 200 tergeletak di meja teras minimarket. Biasanya sih pembeli yang sekedar ngopi sering kali tidak menyimpan kembali uang kembaliannya. Ditinggalkan begitu saja.

Padahal kalau dalam matematika, untuk masuk kehitungan berapapun bermula dari hitungan yang nominalnya kecil terlebih dahulu. Pun uang bernilai satu juta apabila kurang 200 rupiah maka bukan satu juta namanya. Angka selalu jujur, tidak peduli kalian ini tim bubur ayam diaduk atau tim bubur ayam tidak diaduk, satu juta kurang 200 rupiah tetap bukan satu juta namanya.

Memandang uang hanya  dari nominalnya saja agaknya tidak cukup bijak. Buat apa dong Bank Indonesia mengeluarkan uang pecahan Rp 100 dan Rp 200 rupiah jika tidak ada gunanya? Tidakkah memberi harga pada hal kecil dan sederhana itu menyenangkan? Nikmat receh mana yang kau dustakan?

Kembali ke aktivitas menghitung uang. Jika dulu saya hanya menghitung uang receh yang ditumpuk sampai sepuluh. Sekarang sudah tidak lagi, saat menghitung uang, saya tidak hanya menghitung. Tapi lebih dari itu, biasanya saya harus melepaskan steples dari uang kertas, melepaskan solatip dari uang receh, meluruskan uang kertas yang terlipat, atau bahkan yang lebih pelik dari semua itu yaitu mencari bagian robekan uang kertas yang peliknya udah seperti nyari jodoh saja. Kalau sudah ketemu robekannya, pekerjaan saya belum selesai sampai di situ. Saya harus menyatukan uang kertas menggunakan solatip yang membutuhkan konsentrasi tinggi supaya bisa utuh walaupun sudah tidak seutuh dulu, huhu.

Seringkali juga saya menemukan para penulis galau yang menulis tidak pada tempatnya, contohnya pada lembar uang kertas 2000 pernah saya dapati tulisan “Sulastri aku kangen”. Ini amat menjengkelkan, mau saya hapus pakai setip nggak bakal ilang soalnya pakai pulpen, pakai penghapus pulpen pun nggak akan mengembalikan kondisi uang seperti semula. Duh, zaman now kok masih saja ada yang begini, mensen aja sih ditwitter gitu? Twitter sudah 280 karakter sekarang, mau bilang kangen sama Sulastri saja kok ribet sekali. Percayalah nulis di twitter lebih bisa berimprovisasi saat bilang kangen contohnya ;

“@sulastri_imutbet krn bkn gayaku nulis di uang 2000an & krn aku cinta rupiah, sudah aku kirimkan uang untuk beli detergen berkekuatan 10 tangan krn 2 tangan ini tak mampu menggapaimu. Sulastri aku kangen tauk”.

Kesannya alay memang, tapi percayalah itu lebih bermartabat dibanding nulis di uang kertas lecek.

Pada pecahan besar seperti Rp 100.000, Rp 50.000, atau Rp 20.000 memang jarang ditemukan uang dalam keadaan kondisi yang tidak baik. Umumnya keadaan uang yang lecek sering ditemui pada pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp. 5000, atau Rp. 10.000. Padahal jika mengingat proses uang itu dibuat maka sama saja. Uang yang ada di hadapan kita sekarang telah dipikirakan baik-baik dari design, nomor seri, bahan yang digunakan dll dan semuanya tidak sederhana.

(dokumen pribadi, uangnya bukan milik pribadi)

Uang dalam keadaan baik selain enak dilihat, tentunya bisa mempermudah kita dalam pengenalan apakah uang itu asli atau palsu. Kan enak, tinggal dilihat, diraba dan diterawang sudah bisa dibedakan tanpa perlu alat bantu lampu sinar UV. Tahu alat deteksi uang palsu menggunakan sinar UV kan? Uang kertas asli berapapun nominalnya saat terpapar sinar UV akan terlihat menyala pada bagian tertentu dan itu keren.

Jika berbicara tentang rupiah, maka ia bukan hanya sekedar alat tukar. Rupiah juga merupakan salah satu lambang kedaulatan negara dan kebanggaan Indonesia, sebagaimana diatur dalam UU No.7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Jika mencintai rupiah sudah dilakukan dengan berkontribusi menggunakannya (dalam nominal berapapun tanpa terkecuali) maka langkah berikutnya adalah menjaga rupiah agar dalam kondisi yang baik. Mengingat kata jokowi bahwa setiap lembar rupiah adalah wujud kedaulatan kita sebagai negara. Setiap lembar rupiah adalah bukti kemandirian bangsa.

Jadi, mari sama-sama menggunakan rupiah agar berdaulat di negrinya sendiri, juga tetap menjaganya agar dalam kondisi yang baik. Cintailah rupiah dan semoga rupiah mencintaimu kembali.

You may also like...

15 Responses

  1. rayamakyus says:

    Heiiiitsss.. ini semacam kampamye mencintai rupiah ketimbang dowlar! hahahahaha..
    Saya pengabdi recehan loooh. Di mol2 besar saja kalau belanjaannya kembalinya 100 rupiah, ya saya tunggui.. Kalo kata suami saya, ndak boleh sombong sama recehan, recehan kalo dikumpulin maaaah bisa jadi milyader kita! xixixixixi

    • momo taro says:

      Iya bisa dibilang demikian.

      baik, kita harus tos dulu karena sama-sama pengabdi recehan.
      aamiin, semoga bisa jadi milyarder..

  2. mfadel says:

    WOWOW… suka sekali dengan tulisan ini. Rasa-rasanya gaya tulisannya berubah, sudut pandangnya oke, tapi nyelenehnya tetep ada huhu. Teruskan mbak

    Aku sendiri selalu menampug uang receh buat digunakan di mini market. Biar bisa ngasih uang sepas-pas-pasnya~ Toh pegnalaman selama ini hanya mereka (dan supermarket lainnya) yang mematok harga sampai ke ratus-ratusnya

    • momo taro says:

      teruskan mencintai rupiah Del… hehehe

      alhamdulillah. sepertinya negara ini akan selalu syalala kalau pemudanya demikian 😀

  3. Ikha says:

    Aku belom pernah nyobain ngecek uang pake sinar UV.. hanya tahu dari cerita saja. Selama ini ngeceknya masih manual, dilihat diraba, diterawang.

    Semakin kesini rasanya semakin ga nemu yang nulis titip salam kangen di uang, Mbak. Mungkin bilang kangennya sudah berpindah ke status-status sambil kode-kodean~

    • momo taro says:

      wqwq… atau langsung bilang saja *eh

      cobain deh… seru… kaya kunang-kunang, *sesuatunya nyala

  4. kegagalau says:

    Lebih cinta Rupiah lagi kalau ada yang transfer Ka hahahaha

  5. ice_tea says:

    kapan ya rupiah datang sendiri tnpa dicari #ehh

  6. Suci Su says:

    Hehe. Amin. Semoga rupiah juga mencintaiku, sehingga kami bisa hidup bahagia bersama.

    Iya mbak. Kadang ada yang digambar-gambarin, ditambahin kumis. Mungkin dia berimajinasi bolpennya itu pengganti wak doyok.

  7. amijasmine says:

    Mba Momo,mungkin pacarnya Sulastri tidak memiliki account twitter.

Leave a Reply

%d bloggers like this: