Desember, Bayi Merangkak dan Peragawati Cilik

Sudah Desember?

Hai hai…

Dan saya mau bilang kalau yang bilang “tidak terasa rasanya sudah bulan Desember” adalah orang-orang yang tak berperasaan. Masa satu tahun berlalu kok dibilangnya tidak terasa? Gimana kalau ada orang dipenjara? Satu tahun tidak terasa? Kalau ada perempuan hamil? Satu tahun apa nggak sampe lahiran tuh, dibilang tidak terasa? Kalau ada yang bayar cicilan sampe satu tahun, mau dibilang tidak terasa??? Mbok perasaan kalian itu di mana sih?

TIDAK TERASA? HALAH NDASMU ITU.

Baiklah baiklah, bukan kalimat yang enak memang untuk sebuah pendahuluan. Momo itu kok sepertinya kasar syekali… Tapi tenang saja, sekasar kasarnya saya pasti kaya kertas ampelas… mampu menghaluskan yang kasar-kasar seperti… hatimu. *eh *gosok-gosok lagi dan ada tulisannya Anda belum beruntung.

Desember selain identik dengan bulan sebelum januari, biasanya identik dengan hari libur, hari libur biasanya identik dengan tidak bekerja, tidak bekerja berarti identik dengan pengangguran, pengangguran identik dengan waktu kosong, waktu kosong identik dengan ilusi. HAH ILUSI? Iyes, Waktu yang kosong berarti diartikan sebagai ilusi, selain waktu punya tik tok tik tok nya dan punya realitasnya sendiri.

Jadi, kesimpulannya Desember adalah ilusi. (btw tentang waktu adalah ilusi, kalian bisa pelajari tentang konsep waktu adalah terjemahan dari cortex, tapi saya sarankan nggak usah deh, kalian baca postingan saya saja sampai habis, heu).

Kemudian kalimat  saya yang bilang waktu hanya ilusi ini membuat saya lebih tidak berperasaan dari orang-orang yang bilang “tidak terasa sudah bulan Desember”.

HALAH NDASMU ITU MO !!!

Mari kembali ke topik.

*kembali membaca ke atas karena lupa apa topiknya.

*dan ternyata saya belum ngomongin topik apapun. Soalnya baru pendahluan doang?

*Topik mendi iki? Lungo karo Bambang opo?

*MULAI MIKIRI TOPIK

Oke, topik kali ini adalah anak-anak di mal. Gusti, saya kok nulis makin nggak jelas saja. Ngapain ngomongin ilusi-ilusi segala? Hatapi nggak apa-apalah biar panjang.

Jadi begini…

Saya melihat ada dua hal yang menarik ketika saya jalan-jalan di Mal. Apa itu? Sepatu? Celana dalam? Ikan dalam sarden? Ya anak-anak lah, kan dibilang tadi topiknya anak-anak di Mal.

Apa saja dua hal itu?

Pertama : Lomba balita merangkak

Jadi, ponakan saya yang bulan ini mau ulangtahun yang ke 3 ini ceritanya pernah diikutkan pengasuhnya untuk lomba merangkak saat umurnya masih beberapa bulan. Pengasuhnya sih pede-pede saja karena ponakan ini punya kompetensi yang luar biasa selain ngiler, yaitu bisa merangkak dengan kebut, sekebut saya kalau mandi pagi karena kesiangan.

Seteleh membayar biaya pendaftaran sebesar 20ribu dan menunggu hari lomba. Tibalah pada hari yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan perlombaan.

Terlihatlah emak-emak yang saling menyapa emak lainnya dengan sebutan Bunda begitu sumringah dan semangat menyemangati anak-anak mereka berkompetisi merangkak. Kadang saya mikir lho, ini para Ayah apa saling memanggil Ayah ke Ayah lain? Misal, hai Ayah Surayah… Ayah, Surayahnya mana Yah? Kok sendirian Yah. Ayah weton kamu apa Yah? Sudah nyobain KRIM JAMBANG WAK DOYOK SUNARI Yah? Yah dulu aktu sunat, keringnya berapa lama Yah?

Yha.. kok melebar…

*oke kembali ke topik.

Para orangtua kebanyakan menunggu di garis finish sambil membawa mainan kesayangan anak-anak mereka masing-masing, sambil menyemangati anak-anak mereka yang nampaknya tidak banyak berpengaruh.

Apa yang terjadi dalam lomba saudara-saudara? Di sinilah chaos terjadi di mana-mana… ada yang nangis, ada yang malah tiduran di tengah perjalanan, ada yang diam saja, ada yang kebingungan, ada anak-anak yang malah berkumpul dan bergosip, ada yang ke luar jalur, ada juga yang salah menuju orangtua, ada juga yang nyoba metode baru yaitu guling-guling sambil ngiler ena.

Agaknya saya yang berpikir cukup linear terhadap lomba merangkak antar bayi ini sedikit kecewa. Faktanya bukan hanya soal siapa yang lebih dahulu sampai di garis finish. Faktanya banyak sekali kemungkinan-kemungkin layaknya sebuah hidup. Segalanya menjadi tidak pasti dan itu menyenangkan.

Hidup sepertinya adalah hutan belantara ketidaktahuan dan kemungkinan-kemungkian. Seperti kemungkinan garam di laut dan asam di gunung yang keduanya bertemu dalam sebuah panci. Merenda kasih bernama sayur asem. *tsahhh… Tidakkah Tuhan begitu romantis?

Maksa nyambung-nyambungin nggak sih cuy?

Lanjot, yang kedua adalah para peragawati cilik

Saya pernah melihat kayak semacam peragaan busana anak-anak yang dilombakan. Anak-anak berlenggak-lenggok yang rasanya sudah seperti mematahkan panggulnya sendiri, pakai acara dadah-dadah ditambah cium jauh segala. Pandai sekali memikat yang nonton, sampai-sampai yang nonton langsung pada heboh dan tepuk tangan saat ditiup-tiupin cium jauh dari tu bocah. Saya jadi merasa jiper karena hanya punya keahlian niupin kuah baso. Syedih…

Sempat juga saya bilang ke teman saya saat itu begini ;

Saya : Anak yang menang, pasti anak yang paling pintar menirukan orang dewasa.

Seorang teman : masa?

Saya : MASA BODO *agak kesel. Tapi lihat aja, kalau sudah gede nanti. Mereka pasti bosan jadi orang dewasa. Kenapa mesti menirukan orang dewasa ?

Seorang Teman : Kayak kamu. Bosen jadi dewasa, makanya Tuhan cepet-cepet kasih uban, biar kamu cepet tua… Jangan sinis deh.

Saya : *nyopot paku dari mbun-mbunannya biar orang pada tahu kalu dia itu demit. (btw bahasa Indonesia mbun-mbunan itu apa sih?).

Gimana ya? maksudnya begini, apa sih yang paling enak ketika banyak teman seumuran yang berkumpul? Kalau saya sih lebih memilih lari-lari dengan kaki telanjang, melakukan banyak hal konyol, tertawa sampai kenyang, joget-joget sampai kejet kejet (kejet-kejet bahasa Indonesianya apa ya?), terjatuh atau menagis sekencang-kencangnya.

Kemudian begini, katakanlah ini sebuah kompetisi yang membutuhkan juri. Pastinja, eh pastinya juri punya apa yang disebut dengan instrumen penilaian, yang menang harus begini, dibilang kalah kalau begini-begini. Dan saya penasaran ukuran yang dipakainya apa?

Apakah ukurannya S, M, L, XL, XXL, 32, 34, 36, 40? Atau apa sih?

Salah satu sepupu saya yang dulunya suka banget ikut lomba beginian pernah bilang, “aku kalah soalnya waktu itu banyak yang lebih cantik.”

Emmm… sudah kudagu.

Katakanlah SALAH SATU indikator pencapaian kompetensinya begini : “HARUS CANTIK KALAU MAU MENANG”.

Cantik itu apa sih? *garuk-garuk

Cantik itu seperti Sinta yang bikin mabuk kepayang Rahwana? seperti Rengganis? Seperti Kanjeng Ratu Pantai Selatan? Seperti Diah Pitaloka yang menyebabkan perang Majapahit dan Pajajaran? Seperti Helena yang membuat perang Troya? Seperti Juliet yang bikin Romeo nekat bunuh diri? Seperti Cinta yang membuat Rangga selalu mencari perempuan yang mirip Cinta? Seperti  Lily Evans yang membuat Severus Snape tak bisa berpaling? Seperti Pyo Nari yang membuat dua sahabat Lee Hwa Shin dan Jung Won berantem? Atau seperti kata Eka Kurniawan bahwa cantik itu luka?

Bagi saya, semua anak-anak di panggung itu lucu dan manis. Pun perempuan harus tahu bahwa dirinya cantik tanpa perlu diberitahu oleh apapun di luar dirinya.

Nak, bisa jadi yang kau pikir itu cahaya hanyalah benda-benda yang tertimpa cahaya.

Suara-suara tak terdengar, sebab yang kamu dengar hanyalah perwujudan suara. Sebenarnya suara  justru kamu temukan dalam sepi, sunyi, dan tanpa raga suara.

Puisi bisa jadi hanya wadah keindahan, begitu juga dengan lagu-lagu yang kamu tangkap nada dan iramanya.  Keindahan sebenarnya bersemayam di batinmu sebagai rahasia yang sulit kau ucapkan.

Dan dalam diri kalian. Apakah kalian tidak memperhatikan?

Jika masih belum mengerti, perlaukan kata seperti benih yang perlu waktu untuk tumbuh, ada yang tumbuh cepat, ada yang bisa dipanen 3 bulan kemudian, ada yang bertahun-tahun kemudian.

Kemudian sadar, itu bukan anak saya. Kemudian sadar, saya belum punya anak. Kemudian sadar, saya belum punya suami. Kemudian sadar, kerjaan saya masih banyak… ah sudahlah.

Saya nggak anti-antian kok sama hal di atas, toh anak-anak harus tumbuh menjadi anak yang pemberani. Namun, agaknya tugas orangtua dalam kasus di atas bukan hanya menatap dengan cemas di bawah panggung takut-takut anaknya salah ketukan dalam melangkah atau mendandani mereka seperti boneka.

Yha.

Kemudian saya merasa amat sangat sok tahu.

Ah sudahlah…

Saya mau mandi bola dulu.

Selamat akhir tahun. Semoga walaupun hidup kalian tetap HO A HO E….

You may also like...

13 Responses

  1. Triyoga AP says:

    Sekarang dari batita kayaknya udah ikutan lomba-lomba gitu ya mbak. Dulu pas jamanku kecil karena belum ada mall, lombanya pas udah agak gedean dikit. Itupun 17 Agustusan. ahahahaha :mrgreen:

    • momo taro says:

      iyaaa banyak lomba buat balita atau batita…
      sambil promo dagangan juga biasanya.

  2. amijasmine says:

    Jadi intinya tahun baru mau kemana Mo?ini sudah pertengahan Desember,waktunya beli kalender baruga nyambung

  3. Nur S Ahmadi says:

    Saya bingung mau komen apa,
    tapi itu artis koreanya yg cowok wajahnya familiar banget, tapi lupa siapa namanya mbak Momo? Yang main drama yang lokasinya di Bali kan ya? Judulnya juga lupa, yg pasti ada Balinya ya? hmm..semakin tua semakin pelupa saya he he

    • momo taro says:

      Itu drama dulunya banget., judulnya Memories of Bali atau What Happen in Bali.
      aktornya bernama So Ji Sub. tapi masih main drama sampai sekarang dan makin ganteng sajaa…

  4. Ikha says:

    Segalanya menjadi tidak pasti dan itu menyenangkan.
    Hidup memang penuh dengan ketidakpastian.. Huhu.

    Sayangnya dulu lomba merangkak ga ada, kalau ada aku akan mencoba teknik baru juga mbak. Ada hitungannya, maju dua langkah, mundur satu langkah.. Biar jadi merangkak yang cantik. Maju mundur begitu terus sampe panitianya pulang. Wkwkwk.

  5. Gadung Giri says:

    kenapa tulisan pernikahannya di coret?? hmm

Leave a Reply

%d bloggers like this: