Menyelami “Cinta” dan “Mencintai” Karakter Severus Snape

Jangan minta aku bernapas, kamu alasanku tenggelam.

Sudah lebih dari satu dekade saya menuntaskan membaca Seri Harry Potter yang berakhir pada buku ketujuhnya, kalau yang baru itu saya putuskan untuk tidak membaca. Mungkin salah satu alasannya adalah kerana tidak ada Snape di dalamnya.*eh

Membaca Harry Potter merupakan salah satu kebanggaan dan kesombongan tersendiri bagi anak SD macam saya dulu yang kebanyakan bacaanya adalah komik misteri karya Tatang S. Duhh, kids zaman now nggak akan tahu kayaknya Tatang S itu siapa? Kids zaman now lebih tahu sama penulis yang kontrovesial macam Tere Liye. Ye kan?

Saat membaca bukunya yang tahun kelima, saya pernah bilang ke salah satu teman saya yang juga pembaca Harry Potter begini : “Saya kalau jadi Lily Evans bakalah milih Snape daripada James Potter.” kemudian saya dibilang gila sama temen saya karena suka sama karakter yang jahara dan punya rambut kaya kebanyakan dikasih minyak orang aring.

Alasannya kenapa saya suka Snape dari buku kelima? Alasannya nggak jelas, entah di koordinat mana saya merasa ada “sesuatu yang lain dari Sanpe”. Ahh mungkin saya terlalu banyak berimajinasi saja saat itu. Lagian anak SMA yang nilai sejarahnya sering diremedial seperti saya ngerti apa sih?

sumber : punya gue cuy

Kemudian setelah rampung membaca hingga buku ketujuh…

Kegilaan saya beralasan. Severus Snape memang keren (sebut saja momo saat umur belasan tahun).

Tapi setelah diselami lagi saat ini *halah… jawabannya adalah…

Cinta barangkali adalah suatu kondisi/keadaan, sebuah potensi yang letaknya ada dalam jiwa. Seluruh kemungkinannya terletak pada diri manusia itu sendiri. Ia (cinta) belum fakta bagi selain dirinya. Situasinya bergulung-gulung di dalam jiwa, batasnya di situ.

Dan saya merasakan “cinta” pada karakter Snape sebelum menampakkan wajah aslinya. Saya merasa ada “potensi” pada Snape.

Kalau kalian pernah baca bukunya, Joo lebih menggambarkan Snape sebagai sesosok yang galak dan sinis, ia tampak membenci Harry dan kawan-kawannya. Jika Snape terlihat “peduli” pada Harry maka itu akan terasa sangat halus sekali sampai nggak kelihatan. Sampai sulit ditebak, apalagi dibaca.

Sebuah Kisah Cinta Sendirian Sang Pangeran Berdarah Campuran

Snape mengenal Lily Evans (Emaknya Harry) bahkan sebelum masuk Hogwarts, ia bahkan menjawab pertanyaan Lily yang bertanya “Apakah ada bedanya, jadi kelahiran Muggle?” dan Snape menjawab “Tidak. Tidak ada bedanya.”

Tidakkah itu manis sekali? *hehe.

Mereka berdua juga berangkat bersama pada hari pertama masuk Hogwarts. Dan karena Snape itu “aneh” tidak banyak orang yang mau jadi temannya, sseseorang yang masih mau berbicara dengannya hanya Lily Evans.

Hingga negara api menyerang…

Men are from Mars and Women are from Venus

Baiklah, mari belok dulu ke kisah Dilan dan Milea. Kalau kalian sudah pernah baca kisah ABG tahun 90an itu (sejujurnya saya merasa anu banget pas baca novel remaja diusia saya sekarang), kalian pasti tahu bahwa Dilan tidak suka dikekang dan dilarang-larang oleh Milea, itu juga yang membuat Dilan nggak minta balikan sama Milea karena ia merasa energinya sudah terkuras habis.

Severus Snape juga demikian, hubungan pertemanannya dengan Lily Evans memburuk setelah Lily tidak suka dengan beberapa teman gaul dari Snape, belum lagi Snape yang punya beberapa “eksperimen” yang dianggap Lily sebagai Sihir Hitam. Sihir Hitam dalam pandangan Lily, tapi hanya sebuah “candaan” bagi seorang Snape. Geng Motor itu asyik bagi Dilan, bagi Milea itu berbahaya. Yaaa begitulah lelaki dan perempuan yang kata  John Gray Ph.D. berasal dari planet yang berbeda.

Perempuan terlalu banyak bicara (buktinya Milea ngomongin Dilan sampai 2 buku dan Dilan ngomongin Milea cukup 1 buku saja) dan otak lelaki tidak diciptakan menjadi pendengar yang baik. Begitulah kata Om John dalam bukunya Men are from Mars and Women are from Venus. Jadi, kalau boleh perpendapat, baik lelaki maupun perempuan sebaiknya harus banyak belajar “mendengarkan”, toh lelaki atau perempuan masih kesulitan membedakan mana suara kentongan baso malang dan baso yang bukan khas malang.

Percekcokan antara Snape dan Lily akhirnya jatuh pada kalimat Snape yang berkata DARAH LUMPUR pada Lily. Di sinilah kesalahan besar Snape muncul. Dear para cowok-cowok yang baca tulisan saya, terkadang perempuan itu kalau ngomong cuma butuh didengerin saja, nggak usah berusaha kasih solusi dulu apalagi marah-marah. Sebagai perempuan, saya bisa merasakan bahwa Lily sebenarnya hanya terlalu banyak khawatir, bagaimanapun ia dan Snape adalah teman baik. Dan begitulah perempuan, ketika “waktu bicaranya” tidak didengarkan dengan baik maka ia memilih menyudahi, Lily memutuskan untuk tidak memaafkan Snape walaupun ia mengancam akan tidur di bawah lukisan asrama Gryffindor.

Pangeran Berdarah Campuran yang “Mencintai” Seorang Muggle dan Semua yang Ada Padanya

Cinta, belum fakta bagi selain dirinya.

Cinta, belum fakta bagi selain dirinya.

Cinta, belum fakta bagi selain dirinya.

Jika cinta belum fakta bagi selain dirinya maka mencintai adalah sebuah keputusan sosial, dia mewujud pada selain dirinya, dia menjadi perilaku, sebuah dinamika yang berupa wujud sosial sesama manusia/makhluk lain.

Begitulah seorang Snape dalam mencintai, ia memohon pada Dia Yang Tidak Boleh Disebut Namanya untuk menyelamatkan seorang yang ia cintai namun sia-sia (Gara-gara ramalan Trelawney itu cuy, tentang anak laki-laki yang lahir di akhir bulan juli). Kemudian, ia memohon pada Dumbledore dan mendapati kenyataan bahwa hanya Harry yang selamat.

Cintanya mewujud menjadi mencintai, mewujud pada selain dirinya yaitu Harry. Tak peduli Harry adalah anak dari James yang sangat ia benci. Tujuannya jelas, ia hanya ingin kematian orangtua Harry tidak pernah sia-sia. Agar kematian Lily tidak sia-sia.

Sisi Terbaik yang Tidak Mau ditampakkan

Jika kamu berbuat kebaikan dengan tangan kananmu, tangan kirimu jangan sampai tahu. Snape jagonya di sini. Ia menyembunyikan semua sisi terbaiknya di hadapan Harry, hanya Dombledore yang tahu. Bahkan Harry tahu setelah Snape sudah tidak ada.

Sisi-sisi terburuknya jauh ada di permukan walaupun Snape bisa dibilang adalah agen ganda. Snape membunuh Dombledore di tahun keenam, banyak pembaca yang patah hati Dombledore meninggal, tapi saya tetep senang, setidaknya Snape masih hidup. *hehe

“Expecto patronum!”

Sebuah pengakuan Snape yang di tulis Joo pada buku ketujuhnya. Bahwa Snape selalu menyukai Harry Potter.  *saya nangis waktu baca bagian itu…

Kurang apa coba Snape ini? sampai-sampai mantra patronus dia keluarnya rusa betina perak, sama seperti punya Lily Evans… Iyeee… kurang peka emang dulunya.

Begitulah Seorang Pangeran Berdarah Campuran

Begitulah Snape, ia hadir menjadi sosok yang ditolak sekaligus ingin dipeluk. Ingin sekali dikatain bajingan tapi di sisi lain ingin sekali diajak dangdutan.

Snape hadir tanpa kata-kata wangi, bahkan tindakannya masih terlihat busuk di mata Harry hingga ia dibunuh Voldermort. Lagi-lagi melihat kebenaran lewat indra tidak melulu valid. Mungkin diperlukan kemauan see on beauty pada tiap peristiwa.

Akhir kata…

Terkadang sebuah cerita memang terlihat keindahannya karena ketidaksempurnaannya.

Ampun deh JOOOOOOOOOOOO….

 

Oh iya, btw saya hanya baca buku harpot sekali saja.

Dan itu sudah kelar di umur saya masih belasan tahun dan jangan tanya umur saya sekarang berapa, jadi kalo meleset2 dikit mohon maap,

Karena saya cuma mengingat-ingat saja.

Dan begitulah ingatan, kadang ia hadir seperti kutukan.

Selamat tahun baru, sarange.

 

 

 

 

 

 

You may also like...

9 Responses

  1. amijasmine says:

    Itu kenapa tulisan baso malang huruf tebal. Duh,malam malam gini aku jadi pengen menikmati semangkok baso malang yang hangat.

  2. Nur Irawan says:

    Amazing snape…
    Sewaktu es-em-aa aku memutuskan untuk tidak membaca ebook harry potter karena terlalu banyak lembarannya, selain cowok memang agak susah kalau urusan mendengarkan, terkadang kebanyakan cowok juga susah untuk baca berlembar-lembar gitu, hahaha #alasan pribadi.
    tapi saat melihat filmnya Harry pot, aku juga ikutan sedih saat mengetahui cintanya snape yang begitu tulus… Jadi aku juga memutuskan untuk tidak membenci snape, dan lebih menyukai harmony granger, loh, hahahaha

    • momo taro says:

      baiklah…
      gileee zaman now banget udah baca ebook yaaakk???
      zaman segitu saya belum terkontaminasi internet, haha

      Hermione emng nambah gede nambah cantik, oleh karenanya saya lebih suka Draco Malfoy

      • Nur Irawan says:

        maklumlah, mulai zaman es em kah, pelajaran sekolahku udah bongkar-bongkar dalemannya komputer.yah termasuk baca ebook juga. soalnya sebagian pelajaran juga berupa modul ebook

  3. Ikha says:

    Salut sama orang-orang yang baca novel super tebel-tebel itu. (y)

    Selamat tahun baru Mbak Mo, I miss you. hahaha XD

  4. mfadel says:

    Ku nggak tau siapa itu Tatang S hmm
    Zaman esde-esde dulu, HP ibaratnya puncak dari kekerenan literasi. Nggak sembarang orang baca lantaran bukunya yang tebel banget plus harganya yang mahal. Lah wong anak esde kebanyakan bisa namatin buku tipis non bergambar aja sudah syukur banget, eh ini ada segolongan anak yang kerjaannya ngoleksi HP sekalian ngapal tuh buku luar dalam. Rasanya ketemu anak yang begitu bawaannya mau menciut aja…

    Sip, balik ke Snape, karena nggak pernah baca separagraf pun dari tujuh bukunya, cuma bisa dengar kalau penggemarnya pun terbagi menjadi dua mazhab. Yang membenci Snape dan yang tidak. Aih, mengambil kesimpulan doi jahat atau tidak aja ku tidak kelar-kelar

    • momo taro says:

      akutu memang bukan sembarang orang Del… wqwq
      minjem del minjem… saya merasa hidupnya diberkati karena banyak temen saya yang punya akses mudah sama buku-buku..
      baru bisa beli pas udah kerja doang.

      settt ada mazhab segala??? ah saya malah kagak tahu

Leave a Reply

%d bloggers like this: