Sebuah Catatan Pendek

Kalau ada senandung yang cukup mendekati menggambarkan tahun 2017. Maka jawabnnya adalah senandung dari Kumbakarna, yaitu:

Ada yang mencari gelombang, malah ketemunya kumbang.

Ada yang tak cari apapun, malah ketemunya apapun.

Begitulah… Bagaimana cara kamu menghindari takdir, maka yang kau lalukan adalah tetap menapaki takdirimu sendiri.

Kemudian, takdir itu membawa saya ke saat ini. Tahun 2018.

Harapan? Tentunya ada. Kan saya masih hidup. Tapi, saya nggak akan menggambarkannya secara gamblang di sini. Heu…

Jadi, saya pinjam salah satu tulisan dari Rumi saja:

Wujud manusia adalah rumah penginapan

Setiap pagi, tamu baru

Kegembiraan, kesumpekan, kekejaman

Kadang kesadaran-kesadaran sesaat tiba sebagai tamu kejutan.

Sambut dan jamu semua

Bahkan jika itu tumpukan kesedihan

Yang ganas sapu semua perkakas rumahmu.

Boleh jadi ia membersihkan dirimu demi pesona baru.

Kesumpekan, rasa malu, kelicikan

Songsong di pintu dengan ketawa

Ajak masuk

Syukuri apa yang datang

Karena semua diutus

Sebagai pandu dari sana.

Doa saya masih sama seperti yang pernah saya tulis pada 15 juni 2017 di blog lama saya. “alih-alih memilih kebahagiaan dalam hidup, saya lebih memilih agar diberikan pemahaman yang baik. Karena hidup bukan melulu tentang kebahagiaan. Hidup adalah soal keutuhan yang di dalamnya banyak sekali kisah, warna, lika-liku, tangis, tawa, getir, manis, bosan, jenuh dan rasa yang melampaui pemahaman dan kata dalam perbendaharaan bahasa yang saya miliki.

Mungkin, karena Tuhan selalu melampaui pemahaman saya. Mungkin, Tuhan meminta saya memahami banyak hal lewat banyak sekali perspektif, mungkin Tuhan sedang mengawal saya untuk tumbuh. Mungkin, saya sedang diminta nyicil tentang janji saya dengan Tuhan. Tapi, pastilah Dia mencintai saya. Pastilah, karena Dia Sang Maha Cinta.

Maka, seperti yang Rahwana bilang: Rahwana maning ae.

Bahagia dan kesedihan itu sama saja. Karena kita tidak pernah tahu apa yang baik menurut Tuhan.

Akan saya sambut yang datang, akan saya lepaskan apa dan siapa yang pergi. Toh, saya tidak punya apapun dalam hidup. Hanya Dia.

Tulisan ini ceritanya perdana saya ikut OMC Januari yang temanya Memori 2017, Harapan 2018. Juga dibuat sebagai catatan untuk saya sendiri.

Baru bisa ikutan nih saya qaqa, wqwq. *alay lagi.

You may also like...

9 Responses

  1. amijasmine says:

    “Karena hidup bukan melulu tentang kebahagiaan.”super sekali Mo analisanya.

  2. Ikha says:

    “Syukuri apa yang datang
    Karena semua diutus
    Sebagai pandu dari sana.”

    Baik Kakak.

  3. kalyanamita says:

    Kenapa d pembuka aku baca kata2nya sambil ritme dangdutan krn kata kumbang….

    • momo taro says:

      kumbang-kumbang di taman… jangan kau menggoda, jangan kau merayuuuuu *dangdutan.

  4. mfadel says:

    Mencerahkan sekaliii
    Bener juga. Moga pemahaman mbak mo selalu positif yaaa *kedip

Leave a Reply

%d bloggers like this: