31 Tahun

31 Tahun – Kalau dibilang usia saya 30 tahun. Itu bener.

Kalau dibilang usia saya 31 tahun. Itu bener juga.

Yang membedakan hanya berdasarkan perhitungan penanggalan saja. Tapi entah kenapa kalau ditanya soal umur, saya jawabnya bakalan “yang lebih tua”.

Ada yang tanya ke saya begini. Gimana rasanya masuk usia kepala 3?

Emmm… Rasanya jauh lebih menyenangkan dibandingkan masuk usia kepala dua. Saya jadi lebih santai. Ketika ada kekhawatiran-kekhawatiran, karena ada pengalaman di masa lalu yang bisa diatasi. Saya cukup percaya diri dan memilih untuk tidak banyak-banyak khawatir.

Masuk usia 30an itu terasa lebih ringan daripada saat usia 20an. Rasanya cukup melegakan. Meski tentu saja hidup selalu punya momen tantangannya sendiri.

Soal Fisik yang Menua

Saya pernah ketemu sama teman yang konon katanya dulu naksir saya, tapi saya nggak naksir balik. Belum lama kami ketemu di alfamart. Dia sama istri dan anaknya dan langsung gagap pas lihat saya.

Saya hanya tersenyum dan mengangguk saat kami berpapasan.

Dan ada banyak hal yang berbeda darinya, meski hanya lihat sekilas. Katakanlah Si A ini sangat terlihat om-om dengan perut yang lumayan membuncit.

Waktu telah berjalan begitu cepat rupanya.

Ada lagi.

Teman baik saya sebut saja B. Kami kenal baik dari SD sampai sekarang. Iseng sekali dia memajang foto di status WA saat usia 20an dan kini saat usianya 31 tahun.

Beda banget. Itu komentar saya di dalam pesan.

“Cantikan mana?” tanya B.

“Cantikan yang dulu. Jelas.” Jawab saya nggak peduli perasaan yang bersangkutan.

“Semua orang akan menua.” Gitu kata B.

“Kemudian mati.” Jawab saya.

Yang sangat terlihat berbeda adalah karena berat badan. Teman-teman saya rata-rata sulit menurunkan BB usai hamil dan melahirkan.

Kemudian Tarik Napas Saat Ngaca Kemarin

Apa bedanya saya yang sekarang dengan usia 20an?

Makin deket sama cermin. Kemudian malah pecah konflik sama diri sendiri. Saya merasa beda di bagian mata yang sudah mulai kelihatan kerutan halus di bagian lipatan mata. Terutama bagian atas.

Jadi ingat dulu punya mata kok malah diprotes temen. Teman saya namanya Riyan bilang mata saya terlalu deket sama alis.

“LAAHHH EMANG MATA MAH DEKET SAMA ALIS. MASA DEKET SAMA KETEK ITU KAN NGGAK NORMAL.”

“Nggak gitu. Coba lihat mata orang-orang di depan.”

Karena kami lagi ada di sekolah. Jadi gampang banget observasi. Kemudian saya mengiyakan.

“Iya sih. Tapi mau gimana lagi.”

“Tuhhh iya kaan!!!!”

Jadi, mata saya ini double eyelid. Punya kelopak mata. Lipatannya terlihat jelas. Kalau melek yang beneran melek nggak setengah-setengah tapi nggak melotot. Itu bulu matanya bisa nempel sama alis bagian bawah. Hahah. Tapi karena sudah tua, bulu mata sudah banyak rontok. Nggak kaya dulu.

Kasusnya kalau pakai bulu mata palsu yang biasanya rimbun itu malah mata saya nggak bisa melek. Soalnya nanti nabrak. Katakan tidak pada bulu mata palsu pokoknya.

Dan namanya aja lipatan mata…*tarik napas. Saya melihat banyak lipatan-lipatan halus lainnya di bagian kelopaknya.

Makkk! Anakmu sudah tua.

*kemudian langsung order retinol.

Lihat kantung bawah mata juga. Lumayan gelap. Karena pola tidur yang nggak bener.

Yaahh. Akhirnya saya menjauh dari cermin. Agar tidak bertambah pecah konflik dengan diri sendiri.

Tapi emang menjadi tua adalah keniscayaan. Bagi mereka-mereka yang hari-harinya dijalani dengan masih hidup.

Mulai Santai di Usia 30an

Ada momen dimana saya pernah difitnah dan saya merasa tidak perlu meluruskan masalahnya. Saya membiarkan orang-orang berpikiran semau-mau mereka saja. Malah ada enaknya juga disalahpahami.

Kadang saya diam merenung. Saya ‘kan doyan nggak terlalu doyan ngomong *jelek amat nih kalimat. Pokoknya untuk urusan orang lain, apalagi masalah pribadi, saya cenderung diam saja dan nggak komentar macam-macam. Tapi kenapa yaaa? Ada saja orang yang membenci saya.

Saya punya haters cuy. Hahhaa.

Untuk jurus bodo amat adalah salah satu jalan ninjaku. Apalagi untuk masalah zona racun-racun.

Saya mudah sekali berkata “tidak.”

Udah mulai sok-sokan menolak pekerjaan padahal duit butuh terus.

Tidak gampang baper juga. Masa lalu mengajarkan saya banyak hal #woiyahjelas.

Intinya… Umur 31 tahun memang menyenangkan.

Tapi kalau urusan nulis kok makin tua makin ngawur aja ya?

:v

You May Also Like

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *