9 Lagu Bucin yang Pernah Hits pada Zamannya (Beserta Analisa Sotoynya)

9 Lagu Bucin yang Pernah Hits pada Zamannya (Beserta Analisa Sotoynya) – Kalau ada yang ingin banget muncul kembali di TV, saya pengen banget acara MTV itu ada. Mengingat pada zamannya, merupakan suatu kegembiraan sendiri ketika lagu kesukaan kita diputar. Namun, hal-hal kayak gitu untuk sekarang hanyalah berupa kenangan-kenangan belaka.

Saat saya kecil, belajar sambil mendengarkan radio adalah hal biasa. Karena unsur keterlibatan pilihan saya terbatas, telinga saya hanya sebagaian besar menerima saja. Mau lagu dangdut, mandarin, sampai india, kalau enak ditelinga, saya nggak ganti-ganti saluran.

Ada juga saat di mana saya menikmati musik dengan kaset pita. Kalau mau puter ulang lagunya, saya harus muter-muter kasetnya pakai ujung pulpen.

Kalau suka sama lagu dan mau merekam di kaset kosong, kesal sampai ke langit ketika tbtb suara penyiar muncul di tengah-tengah percobaan rekaman.

Saya yakin generasi sekarang nggak akan begitu. Saat ini terlalu mudah mengakses hiburan seperti mendengarkan musik. Semua mudah dengan gawai yang dimiliki, minimalis drama karena bisa memilih lagu sesuai dengan kehendak hati.

Yha, perkenalkan saya, manusia dari generasi 90an yang paling tua. Paling tua karena lahirnya tahun 1990. Seumuranlah sama Sherina Munaf, hanya saja dia Gemini dan saya Leo. Leo saja, tanpa kripik kentang.

Sudah lucu?

Tydack?

Ah baeqlah.

Kali ini saya mau mendata beberapa lagu bucin yang sempat hits pada eranya. Kenapa tbtb bikin post beginian? Senganggur itulah saya.

*pengen ketawa dan pengen nangis juga.

Tapi apa sih yang nggak bisa dijadikan ladang konten buat bloger kek saya? *eeh tidak boleh sombong, tidak boleh. Abis gimana? Buka sana sini kabarnya corona terus. Orang-orang pun mulai berpendapat dan berdebat sampai kayak udah level pro.

Saya hanya pentonton yang banyak membisu di antara hiruk pikuk ini. Merasa lelah, tapi nggak logis, karena hidup saya belakangan kebanyakan rebahan sambil nonton netflix doang.

*njir kagak ditulis juga daftarnya ya.

Oke… mari dibedah satu-satu.

Satu : D’Cinnamons – Selamanya Cinta

Dari judulnya sudah amat bucin. Katanya selamanya, selamanya terpenjara dalam cinta.

Dalam lagu ini ada lirik, “Tuhan, jalinkanlah cinta, bersama, selamanya…”

Ada doa yang dipanjatkan agar kehidupan kisah dan kasihnya tetap langgeng.

Lagu ini cukup bertolak belakang dengan beberapa nasehat orang-orang yang ada lingkungan saya. Mereka lebih sering menasehati dengan kalimat, “Kalau nggak enak, tinggalkan saja. Pengadilan Agama masih berdiri. Pernikahan nggak mesti selamanya.”

Kalen tahu apa rasanya dapat nasehat yang begini sedangkan kamu belum menikah?

Yha rasanya nggak gimana-gimana, tapi saya catat. Catatan besar. Tentunya dengan catatan apa itu nggak enak? Titik apa yang menunjukkan suatu hubungan manusia itu dikatakan toxic.

“Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku. Hingga membuat kau percaya, akan kuberikan seutuhnya, rasa cintaku, rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku…”

Kurang bucin apa coba.

Bagi saya sih, bucin boleh-boleh aja, tapi hidup harus punya dosis.

Dua : Chrisye – Untukku

Lagu yang amat lawas. Membuktikan bahwa aktivitas bucin memang sudah ada sejak zaman purba. *woi nggak gitu juga keles.

“Walau ke ujung dunia pasti akan kunanti, meski ketujuh samudra, pasti ku ‘kan menunggu. Karena kuyakin kau hanya untukku…”

Keyakinan bila diletakkan pada tempatnya akan menjadi kebijaksanaan. *Yampoon, saya bikin kalimat apaan nih?

Sebagaimana kita tahu manusia adalah segala jenis kemungkinan. Seberapa yakin pujaan hatimu akan memilihmu? Liriknya cukup ekstrim bagi saya.

Tapi yha sudahlah, bagimu bucinmu, bagiku bucinku.

Lanjot..

Ketiga ; Ross – Terlalu Cinta

Kembali dalam judulnya sudah bucin. Cintanya sudah keterlaluan. Sudah melebihi dosis yang dianjurkan. Akhirnya kata anak farmasi, obat bisa potensial menjadi racun.

“Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi. Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu. Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu, tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu. Mengapa semua ini terjadi kepadaku? Tuhan, maafkan diri ini, yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya, namun, apalah daya ini bila ternyata sesungguhnya, aku terlalu cinta dia.”

Cukup bajingan liriknya. Begitu jujur dan langsung gaskeun.

Menyanyikannya di kepala sambil menulis ini mengingatkan saya pada kalimat, “Kamu tahu kenapa kopi pahitmu nggak nikmat? Kerana kamu memikirkan gula di luar sana.”

Sudah ada penggantinya namun masih keingetan yang lama. Bucin yang akhirnya melukai diri sendiri doang.

Ingin saya nasehati, “Boleh jadi, apa yang kamu suka bukan yang terbaik bagi kamu. Tapi terbaik bagi yang lainnya. Sudah, negaramu masih membutuhkanmu. Tinggalkan perasaan itu. Angkat gelasmu, kita ngopi.”

Lanjut cuy? Sudah lelah?

Apaan. Saya yang mikir kalian tinggal baca. Kok kalian yang lelah?

Keempat ; Kahitna – Andai Dia Tahu

Pas lihat videonya di youtube. Saya merasa tua. Bukan tua doang, tapi tua bangka.

Lagu ini agaknya banyak mewakili kaula muda yang nggak bisa ngomong suka ke gebetannya. Di mana lihat sang gebetan aja udah sawan.

Hingga timbul khayalan “Adakah dia mengerti, apa yang t’lah terjadi, hasratku tak tertahan tuk dapatkan dirinya, mungkinkah dia jatuh hati seperti apa yang kurasa, mungkinkah dia jatuh cinta seperti apa yang kudamba, Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku…. andai dia tahu…”

Terus Tuhan bilang, “APALA KAMUTU NYUSAHIN AJA, KAMU PUNYA TUBUH SEMPURNA DENGAN SEGALA INDRANYA, BILANG AJA NGGAK BISA TO? KAMU NGGAK BISU, BUKTINYA BISA NYAYI!!!”

Tuhan memang Maha Ngegas dengan segenap kasih sayangnya.

Kalau di atas bucinnya agak kelewatan, bucin kali ini agak nanggung.

Kelima – Maliq & D’Essential – Dia

Dulu saya suka banget sama lagu ini. Terlebih saya pernah suka sama yang namanya Maliq, walaupun sekarang nggak tahu masih hidup atau nggak tuh orang.

“Dia, seperti apa yang s’lalu kunantikan, aku inginkan. Dia, melihatku apa adanya, seakan kusempurna…”

Dalam redaksi kalimat, penulis liriknya emang bener-bener menceritakan tentang “dia.”

“Tanpa buat kata, kau curi hatiku, dia tunjukkan dengan tulus cintanya, terasa berbeda saat bersamanya, aku jatuh cintaa…”

Hiyaa hiyaaa… bucin yang disambut baik. Di mana cinta dalam arti potensial sudah menjelma menjadi perlaku, sampe keluarlah kalimat “aku jatuh cintaa….”

Lagu kayak gini agak susah dibikin protesnya yha. Bukan karena ada Maliq-Maliqnya, bukan.

Keenam ; Ada Band – Manusia Bodoh

“Tak ayal tingkah laku, buatku putus asa, kadang akal sehat ini, belum cukup membendungnya. Hanya kepedihan yang selalu datang menertawakanku, dia belahan jiwa. Tega menari indah di atas tangisanku.”

Salah satu lagu yang mengenaskan. Begitu pula video klipnya dengan peran seorang badut. Betapa level bucin begitu dekat dengan kebodohan tegas terbaca dari banyak aspek dalam sebuah lagu.

Akal sehat kagak dipake. Begitulah cinta, kalau kebanyakan udah kayak micin. Bikin bego.

Tapi bukti hitsnya sebuah lagu juga menandakan bagaimana masih banyak manusia-manusia bodoh di luar sana.

Kalau pernah mengalami kayak begini, udahlah begonya jangan lama-lama.

Ketujuh; Kubenci Kau dengan Cintaku – Tito

“Duhai cinta, tataplah aku di sini tetap menatapmu. Walau perih. Terus kau sakiti aku tetap mengharapmu….”

Kurang bucinnya?

“Mungkin benar bila aku tak berarti dan dirimu terlalu berarti, walaupun pekatnya bulan gelapkanku, dan pelangi tak berpijar. Wajahmu terlalu indah tuk kubenci. Dan kuterus mencintaimu. Engkau terus melupakanku…”

Bucin level greget.

Level buta. Karena dikatakan wajahmu terlalu indah tuk kubenci.

Okeelaahh. Seganteng dan secantik apa sampai nggak bisa dibenci. Tapi kelakuannya nggak dibenci gitu? Ini artinya kebutaan.

Terus tetap mengharap sama orang yang melupakan kita? Otak di mana sih otaknya?

Kedelapan ; Sempurna – Andra and The Backbone

“Oh sayangku kau begitu…” bayangkan ada suara gitar. “Sempurnaaa….”

“Kau genggam tanganku, saat diriku lemah dan terjatuh. Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku. Janganlah kau tinggalkan diriku, tak ‘kan mampu menghadapi semua, hanya bersamamu kuakan bisa…”

Sebagai orang yang pernah muda pada zamannya dan mendengarkan lagu ini tanpa melihat video klipnya. Saya malah banyak bertanya-tanya.

Seberapa sempurnanya makhluk?

Sampai diumpakan sebagai darah dan jantung?

Bukankah darah dan jantung berhubungan dengan kehidupan manusia? Maka titik temunya cuma Tuhan?

Lagunya sufistik sekali bagi saya. Itu belum saya kepoin lebih lanjut. Setelah cari tahu ternyata, Andra juga mengatakan hal demikian. Lagu pujian tentang Tuhan yang memang dibuat lebih universal.

Lagu model kayak begini. Bakalan dikenang lama sama pendengarnya. Termasuk saya.

Kesembilan ; Senyumanmu – Letto

Kalau ngomongin Letto, liriknya sufistik di mana-mana. Coba dengarkan baik-baik deh, nggak usah lihat video klipnya. Pakai telinga bener-bener.

Tetap bucin lagunya.

Tapi bucinnya sama sekali nggak manya-menye.

“Kutemukan arti kerinduan, dan kumengerti yang kucari…”

Kerinduan manusia yang sejati tuh apa sih? Rindu itu benar-benar tunai kalau bagaimana? Tapi kerinduan di sini malah mengilhami untuk paham apa yang sebenar-benarnya dicari.

“Oh bukanlah cantikmu yang kucari, bukanlah itu yang aku nanti tetapi ketulusan hati yang abadi, kutahu mawar tak seindah dirimu, awan tak seteduh tatapanmu, tetapi kutahu yang kutunggu, hanyalah senyumanmu…”

Siapa coba yang pantes dibucinin dengan kalimat di atas?

Kalau manusia pun. Pasti manusia istimewa.

Baca saja tulisan Bang Dip tentang lagu ini di sini.

Akhirnya kelar sudah….9 Lagu Bucin yang Sempat Hits pada Zamannya.

Berserta analisa saya yang kadang nggak jauh dari kalimat protes. Hanya di beberapa lagu saya nggak protes. Karena makin tua saya agaknya makin sadar bahwa bucin ke manusia itu banyak nggak enaknya kalau tidak dibarengi dengan dosis yang tepat.

Tapi bagaimanapun level bucinnya, 9 lagu ini mantul-mantul aja untuk didengarkan. Enggak paham saja sama lagu jadul kok banyak yang bagus.

Kalian punya lagu bucin kesukaan? Punya hobi ngebucin?

*jangan tanya kenapa ada Rangga di postingan ini.

5 komentar pada “9 Lagu Bucin yang Pernah Hits pada Zamannya (Beserta Analisa Sotoynya)

  • 23/03/2020 pada 8:39 PM
    Permalink

    wah, sebagian besar aku pernah dengar (dan nyanyi), lagunya Maliq aja yg aku ga kenal. heuheu

    Balas
    • 24/03/2020 pada 8:04 AM
      Permalink

      dengarkanlah, rasakan kasmarannya 🤣🤣🤣

      Balas
    • 24/03/2020 pada 8:01 AM
      Permalink

      lulus SMA tahun 2008 kak

      Balas

Tinggalkan Balasan