Cerita Momo Cuma Nulis Aja Adik Semata Wayang Sudah Pulang

Adik Semata Wayang Sudah Pulang

Adik Semata Wayang Sudah Pulang

*pernah sedikit saya ceritakan di sini di bulan agustus.

Pulang. Adik saya (Endang) pulang dalam keheningannya. Sekitar pukul 08.55 pm WIB Emak saya meminta adik saya untuk geser agar Emak dapat tempat untuk tidur. Tapi tidak ada pergerakan. Orang rumah mulai beranggapan Endang sudah pulang.

Adik saya pulang tanpa ada yang tahu jelas kapan ia pulang. Tubuhnya masih panas. Tapi tangan kaki dan tangannya sudah mendingin. Sudah tidak ada nafas. Bahkan saat dimandikan, beberapa bagian tubuhnya masih menghangat.

Rabu, 04 Juni 1997. Ia lahir sebagai bayi yang sempurna. Hingga sakit saat usia 5-6 bulan. Koma, kemudian masa kritis terlampaui. Dokter praktek bilang hidupnya tidak akan sama dengan anak normal. Endang kemungkinan cacat (tapi belum tahu cacat apanya), harus lihat perkembangannya dulu.

Dan yha, ia tumbuh istimewa. Tidak seperti anak kebanyakan. Tubuhnya banyak yang keras dan tidak luwes, terutama tangan bagian kiri dan kaki. Kosa kata yang bisa diucapkan hanya seadanya. Tidak ada kalimat. Hanya satu kata dengan ucapan yang tidak sempurna benar.

Mam… makan.

Menis… minta susu.

Adusa… mandi.

Bobi… dia mau TV dinyalakan meski nggak paham soal acara TV.

Eeh… minta dibersihkan dari kotoran sebab BAB.

Popo… minta dibersihkan dari kotoran sebab pipis.

Endang Sakit, Tidak Pernah Sembuh. Ia sembuh Ketika Berpulang

Kalian bisa bayangkan? Ada manusia yang sepanjang hidupnya sering sekali dengan kejang-kejang, panas dalam sampai bibir melepuh. Tubuhnya mengeras, mengeluarkan busa dari mulut dan nafas mengorok sepanjang perjalanan hidupnya ketika kambuh.

Hingga lebih dari satu tahun belakang kondisinya memburuk. Yang dulu bisa duduk sedikit, sekarang tidak bisa. Hanya tidur, makan, dan buang air di tempat yang sama. Sepanjang harinya lebih sering tidur.

Dua hari sebelum kepulangannya, Endang mencret dan demam. Sudah diberi obat. Tapi ia pulang dalam diamnya pada 17 November 2020. Pada usia lebih dari 23 tahun.

Mandi Terakhir

Setelah semua sudah yakin Endang sudah tiada. Kami memanggil orang yang biasanya membantu untuk memandikan. Saat itu masih malam hari.

Tubuh Endang yang memang keras (karena sakit), lemes saat terkena air. Bersih sekali. Bahkan wajahnya adalah tampilan wajah terbaiknya. Lampu malam hari yang seadanya sama sekali tidak bisa memadamkan rona wajah diwajahnya. Ia nampak damai sambil menutup mata.

Ibu yang membantu memandikan dan mengkafani berkali-kali berkata, “Endang, bagus pisan.”

Esoknya. 18 November 2020. Pukul 09.00 pagi. Endang sudah selesai dikebumikan. Ia sudah berada di tempat yang indah. Endang telah sembuh dan tidak sakit lagi.

Dulu, saat masih bayi. Emak bilang sudah ikhlas kalau Endang pergi jika tidak kuat. Tapi hidup dan mati adalah milikNya. Endang hanyalah makhluk yang setia pada ketetapanNya, yang menjadi kuat bertahan karena IzinNya.

Kini kata maaf kuat sekali saya pikirkan saat mengingat Endang. Hidup dengan Endang selama ini bukan hal yang mudah. Saya merasa banyak kesalahan yang saya lakukan pada Endang.

Mianhae, Urrie dongsaeng.

Semoga tempat terbaik ada untukmu. Usai sakit yang kamu alami di dunia.

Selamat jalan. Kamu di tempat yang indah itu pasti bukan hanya bisa berjalan. Tapi bisa terbang.

Selamat jalan adikku yang pada usia berapapun selalu tertawa saat dinyanyikan lagu pok ame-ame. Yang kadang bahagianya begitu sederhana.

Saya ingat sekali. Kalau saya lari-lari di dalam rumah dan mengarah pada Endang. Endang selalu tertawa. Padahal saya cuma lewat untuk lari ke WC yang melewati tempat di mana Endang berada.

Nanti. Kamu harus lari ke arah Kakakmu ini. Gantian, nanti Kakak yang ketawa. Meski tawa Kakak akan dicampur perasaan malu, karena tidak begitu baik saat kamu ada di dunia fana ini.

Catatan. Bila ada sedikit waktu, mohon doanya. Nama lengkap adik saya Endang Ayu Binti Sudjima.

Terima kasih.

6 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 Comment

  1. Semoga kuat ya min. Kuat sekali adiknya mimin bisa hidup di dunia ini dengan sakitnya tapi masih bisa tertawa dan tersenyum. Adiknya mimin pasti melihat dari sana penuh senyum cinta untuk keluarga. Yang terbaik untuk mimin dan keluarga 🙏