Cerita Momo buku bacaan Aku Hidupku Humorku – Prie GS

Aku Hidupku Humorku – Prie GS

Aku Hidupku Humorku – Prie GS – Kesukaan saya pada karya Prie GS berlangsung secara organik. Tidak langsung efektif setelah perkenalan awal. Tapi merasakan kegunaannya setelah beberapa lama bersentuhan dengan karya-karyanya.

Membaca satu dua buku tulisan Prie GS tidak membuat saya nagih dan kepo ingin membaca tulisan lainnya.

Ketika saya “ngeh” ada perasaan suka pada karyanya Prie GS, jatuhnya bukan perasaan euforia, tapi menentramkan saja. Bahwa ada kelegaan ternyata saya nggak buang-buang uang untuk menemukan karya yang asyik.

Asyik. Kenapa asyik?

Karena rata-rata tulisan yang ditulis oleh budayawan memiliki keluwesan tersendiri, entah membahas soal keseharian atau soal-soal yang sifatnya gagasan tentang suatu hal.

Lalu, diantara karya-karyanya saya beranikan diri membeli buku yang judulnya aku hidupku humorku, yang merupakan sebuah story telling dari seorang story teller.

Yes. Prie GS memang pencerita yang baik. Begitulah yang saya rasakan ketika melihat beberapa tayangannya, biasanya di Humor Sufi.

Aku Hidupku Humorku Ternyata Buku Motivasi

Keterangan di belakang buku demikian. Buku motivasi, tapi saya menikmatinya sebagai karya nonfiksi yang enak dibaca.

Kalau diumpamakan, saya seperti membaca tulisan di blog yang mengisahkan keseharian dan kisah masa lalunya, kemudian ada sisi reflektif tapi “halus” sekali.

Mengharapkan motivasi bersifat praktis pada buku ini adalah hal sia-sia.

Karena pembaca sepertinya diberikan kebebasan menemukan letak poin dari apa-apa yang bisa diambil kemudian ujungnya adalah kesungguhan terhadap hidup.

Di dalam Buku Ada Apa?

Ada kisah lawas tentang masa kecil Prie GS yang sangat susah. Bagaimana ia hidup dengan rasa rendah diri atas kemiskinan yang menderanya. Tentang karir di media dan bagaimana kehidupan keluarga. Bahkan kisah kucing pun ada.

Prie GS hidup dengan segala kelelahan hidup pas-pasan, tapi beliau dibesarkan oleh keadaan-keadaan itu.

Kisah tentang mobil pertama, sampai supir terceritakan dengan jelas. Unik sekali, Prie GS meminta supirnya mengganti bacannya sebagai syarat menjadi pegawainya. Bacaan sang supir setidaknya harus Suara Merdeka (dimana Prie GS bekerja), kompas, dan tempo.

Bahwa menjadi satu gelombang dengan supir sangatlah krusial. Meski Prie GS akhirnya harus dijatuhi dengan pertanyaan-pertanyaan polos Pak Supir tentang kata-kata asing yang ditemukan dalam koran.

Tambahan nih…

Yang sangat tidak asing pada tulisan-tulisan Prie GS adalah bagaimana pengolahan kata berlangsung dengan unik. Kemudian apapun bisa mudah diceritakan dengan kata-kata yang melimpah.

Sangat melimpah sampai-sampai buku ini tebal sekali. 313 halaman.

Yang agak mengganggu bagi saya malah di masalah teknis. Akan sangat lebih terstuktur ketika pemilihan bab dipisah berdasarkan kategori. Tidak melompat-lompat. Mungkin akan lebih enak alurnya.

Saya dapat cetakan pertama dan menemukan banyak typo. Semoga bisa diperbaiki kedepannya jika buku ini tetap terjaga dalam pemasarannya.

Soal Harga yang Tidak Main-Main

120.000 saja. Belum ditambah ongkos kirim dari Semarang.

Maka buku ini dibilang “mahal”.

Konon sengaja dilakukan karena memang seperti itulah maunya, suka-suka yang buat buku. Diterbitkan sendiri, dijual sendiri, dan harga yang dipatok sendiri. Berbeda dengan buku Prie GS yang pernah diterbitkan penerbit besar.

Jadi, saya merasa  sangat “sugih” (baca: kaya) setelah memutuskan untuk membeli buku ini. Aroma kebahagiaan mampu membeli barang mahal itu jelas ada. *wkwkw sudah ketularan Prie GS.

Lama Saya Lahap Sampai Habis

Saya cukup banyak terdiam ketika Prie GS menceritakan tentang Bapak, Ibu dan sekolahnya. Saya merasa “berat” dalam membaca karena mengingat banyak hal dalam kehidupan saya.

Kalau sudah begini, saya bisa cari bacaan lain sebagai jeda. Kemudian mulai sedikit-sedikit membacanya sampai tuntas.

Masa mahal-mahal nggak dibaca?

Saya ‘kan bukan orang yang demikian.

Kembalian warung saja saya tunggu dengan gegap gempita.

Sekitar dua bulan barulah saya rampung membacanya.

aku hidupku humorku
di atas kasur, ada buku dan duit. yaaa sudah jepret aja.

Ada Perasaan “Kok Telat?”

Telat sadar suka sama tulisannya Prie GS.

Merasa telat membaca karya-karyanya. Mungkin akan lebih indah jika saya tahu di awal. Seawal saya membaca tulisannya Raditya Dika di masa lalu.

Saya menemukan kedekatan pada tulisan-tulisan Prie GS. Seperti menemukan kecemasannya adalah kecemasan saya juga.

Kedekatan bahwa kami sama-sama orang susah saat anak-anak dan sekolah. Juga perjuangan bekerja yang lebih terasa sebagai tirakat (biasanya yang sangat mengiba adalah kisah Prie GS dan karikaturnya, sampai bekerja di Suara Merdeka pun, karikaturnya tidak juga terbit, malah yang lebih muncul adalah kemampuan menulisnya).

Kedekatan bahwa kami sama-sama mencintai humor dan demen nulis juga.

Kedekatan bahwa kami menyukai menceritakan hal-hal ringan.

Bukannya menyamakan dengan perjalanan Prie GS dan kehidupannya, jelas berbeda. Kami pun hidup dalam masa yang berbeda pula. Tapi kedekatan-kedekatan itulah yang menjadi pupuk organik perasaan cinta terhadap karya Prie GS itu tumbuh.

Kesimpulan Membaca Aku Hidupku Humorku

Awalnya saya pikir akan lucu.

Karena terselip kata humor. Tapi tidak. Kalau lucu dikaitkan dengan membawa gelak tawa, buku ini jauh dari hal demikian.

Kalaupun lucu, lucunya pasti terasa seperti ini perasaan pencinta kucing yang melihat kucing. Lihat kucing menggeliat lucu, lihat kucing menatap lucu, lihat kucing tidur saja lucu, lihat kucing jalan lucu, dan apapun yang dilakukan kucing itu pasti lucu.

Jadi lucunya sudah masuk ranah tidak masuk akal.

Mau saya jelaskan?

Kan dibilangin nggak masuk akal. *mulai muter-muter ketularan Prie GS.

Meski apapunlah. Mau lucu mau nggak, adalah keberuntungan bisa membaca karya Prie GS. Beliau penutur yang sering lucu. Apalagi sebelum beliau berpulang, saya demen banget nonton Coklat Kita Humor Sufi.

Terima kasih Djarum.

Terima kasih Pries GS, semoga Tuhan memberikanmu tempat yang mulia.

5 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *