Cerita Momo Ngomongin Kesehatan Alasan Sederhana Kenapa Mau Menjadi Calon Pendonor Kornea Mata

Alasan Sederhana Kenapa Mau Menjadi Calon Pendonor Kornea Mata

Alasan Sederhana Kenapa Mau Menjadi Calon Donor Kornea Mata – Kalau tulisan saya langsung ke pokok cerita. Nanti bakalan “kentang” kayak tulisan saya di sini. Jadi, yaaahhh setidaknya saya mau sedikit cuap cuap dulu di awal.

Begini…

Tahukah kamu bahwa donor organ yang legal di Indonesia saat ini baru kornea mata saja? Yang lain belum.

Legal di sini nggak ada unsur uang di dalamnya. Penerima donor tidak dipungut biaya sama sekali. Pendonor juga terdaftar secara resmi di bank mata. Pun penerima donor juga bisa mendaftar secara resmi.

Tulisan saya kali ini juga semi wasiat. Karena, pada kenyataannya, kornea mata calon pendonor akan diambil saat sudah meninggal kelak. Beberapa ketentuan diantaranya adalah disetujui ahli waris dan nggak punya penyakit menular.

Kalian bisa baca di web ini kalau mau tahu jelas.

Nanti yang diambil itu kornea mata dengan sampel darah. Bukan bola mata penuh. Pengambilan kornea mata memakan waktu 10 sampai 15 menit. Dilakukan oleh tenaga medis yang tentunya sudah mengantongi izin dari ahli waris.

Wasiat dari calon donor adalah apabila ia meninggal, maka ahli waris harus segera menghubungi pihak bank mata. Karena hanya 6 jam usai jam kematian, kondisi kornea bagus untuk diambil.

Beberapa hal juga menggugurkan calon donor menjadi pendonor, diantaranya penyakit menular, penyebab kematian tidak diketahui, tidak dapat izin ahli waris, oh iya, kena kanker juga nggak boleh. Kayak kasus Ainun (Istrinya mendiang Habibie).

sumber ; pixabay

Bukannya tanpa cari tahu, tapi memang sudah bulat aja!

Sebelum mengisi formulir, sudah jauh-jauh tahun saya ingin jadi calon pendonor. Jadi memang sudah dalam pemikiran yang matang. Masalah katanya tidak boleh karena dalil ini dan itu. Tidak menggugurkan niatan saya.

Kalau dibilang usai kehidupan, alias mati. Maka hak manusia sudah dicabut.

Saya cuma mikir. “Kapan manusia punya hak utuh? Nggak pernah kayaknya. Manusia hanya dipinjami hak Tuhan dengan keterbatasan-keterbatasannya. Toh, ketika saya mendaftar, saya nggak pernah tahu saya bakalan meninggal di mana? Bagaimana? Seperti apa? apakah saya akan benar-benar menjadi pendonor atau gugur karena sebab tertentu.”

Katanya, mematahkan tulang mayat, sama saja mematahkannya saat hidup.

Saya hanya bisa menangkap lewat keterbatasan diri saya ini. Saya melihat sudut pandang bahwa mayat memang harus diperlakukan dengan baik dan bijaksana.

Pernah dong nonton sebuah drama korea judulnya Partners for Justice, peran utamanya adalah dokter forensik, prinsip pekerjaannya adalah memperlakukan mayat seperti bunga, karena bagaimanapun, “orang itu” pernah hidup dan pernah mekar dalam hidupnya seperti bunga. “Ia pernah bersinar.”

Mendonorkan kornea mata bukannya salah satu cara memperlakukan mayat dengan bijaksana?

Terus ada juga pendapat yang memperbolehkan. Begitulah pokoknya.

Yang jelas, niat saya sudah bulat.

Kalian yang baca jangan pernah percaya sama pendapat saya ya.

Sakit itu nggak enak…

Sakit itu nggak enak, meskipun hanya sakit gigi, mata, atau jerawat sekalipun.

Saya nggak bisa bayangkan bagaimana seseorang hidup dalam “gelap”, nggak bisa melihat orang terkasih juga nggak enak, kemudian munculah satu harapan dengan transplantasi kornea. Nunggunya? Mungkin sangat lama. Sakit dalam harapan yang nggak pasti. Itu sakit yang sakit.

Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa jumlah pendonor sangat sedikit. Beda dengan penerima donor yang cukup banyak mengantri. Kalau angka pendonor banyak juga itu masih calon donor, nunggu calon donor meninggal dulu. Kalau meninggal? Masih harus uji kelayakan bisa didonorkan apa tidak.

Soal hidup dan Pertanyaan

Saya sering mikir begini, sekiranya Tuhan menciptakan saya buat apa? kira-kira yang maunya Tuhan, bukan maunya saya. Tuhan nggak iseng tentunya menciptakan saya ke dunia. Meskipun saya hanyalah rencana pengganti kakak saya yang katanya tak mampu bertahan lama kata dokter (Begitulah kata Emak).

Soal Mati dan Kebahagiaan

Kalau tiba waktunya nanti.

Saya ingin berita kematian saya menjadi sedikit kabar gembira, malu saya sama kulit manggis yang sering jadi kabar gembira. Pun, saya juga ingin berpulang dalam keadaan gembira.

Kita sama-sama tahu bukan? Ada perasaan gembira saat kita memberi hadiah dengan tulus. Sepanjang perjalanan hidup, saya terlalu sering melihat satu buah kebahagiaan bisa jadi sumber penderitaan bagi yang lainnya.

Saya pengen semua pihak bahagia.

Saya merindukan hal itu.

Sungguh.

 

1 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment

    1. heheh… emang masih agak asing sih di Indonesia. Nggak kayak di negara maju. Bahkan ada negara tertentu yang memang kalau penduduknya wafat auto jadi pendonor korea. namun bisa menolak jika sudah ada perjanjian ketika hidup.
      di sini nggak bisa, semua harus suka rela tanpa paksaan.