All the Bright Places (Menyoal Kesehatan Mental)

All the Bright Places (Menyoal Kesehatan Mental) – Hari ini, 2 maret 2020 saya habis nonton film yang judulnya All the Bright Places di Netflix. Setelah nonton saya jadi banyak diam. Yha, agak diam lama. *yaahh, saya BAB abis nonton film ini.

Setelahnya otak saya mikir kayaknya lumayanlah bikin jadi bahan tulisan di blog. Ini bukan review ya, hanya saja ada beberapa hal yang menarik perhatian saya dan mau saya tulis di sini. Jadi, pasti saya bakalan spoiler.

*stop di sini kalau kalian nggak mau teracuni dengan spoiler saya.

All the Bright Places dan cerita derita di dalamnya

Film ini diangkat dari sebuah novel. Sebuah cerita yang sama sekali nggak manis. Sampai di akhir juga nggak ada manis-manisnya.

Violet berdiri di atas jembatan karena kesedihannya ditinggal kakaknya meninggal. Kakaknya meninggal karena kecelakaan.

Di jembatan yang sama, ia barangkali akan terjun. Saat itu hari masih pagi buta dan kebetulan Theodore Finch lewat. Theo lagi jalan-jalan pagi sambil dengerin musik.

Theo jelas kenal Violet, dia teman sekelasnya. Tanya ini dan itu, kemudian sekelompok untuk ngerjain tugas, memulai segala pertemanan dan kisah kasih mereka.

Theo ini sekilas jago banget menjadi penghibur bagi Violet

Jago gombal lagi, Theo bilang ke Violet gini; “You are all the colors at once, at full brightness.” Kan uwuuwuwuw banget gombalannya.

Theo dan Violet ini kan satu tim untuk ngerjain tugas, perintah tugasnya adalah jalan-jalan di sekitar Indiana dan dituliskan pengalamannya. Tugas ini nampak berat guys, sebab Violet mengalami trauma naik mobil. Dulunya, ia dan kakaknya berada di mobil yang sama saat kecelakaan, hanya dia yang selamat. Jadi kemana-mana Violet naik sepeda.

Mana tempatnya lumayan jauh.

Tapi Theo berhasil membawa Violet jalan-jalan dengan mobil, dengan sedikit drama tentunya.

Di tempat yang sebenarnya biasa aja, Theo menghibur Violet. Sampai muram Violet hilang di wajahnya. Ia kembali bisa tersenyum. Perlahan, sangat perlahan.

Namun, Theo juga sakit. Hanya saja dia sibuk menghibur Violet, sampai “sakitnya” nggak nampak jelas

Teman-teman di sekolah yang lain bilang Theo ini orang yang aneh. Theo bisa dibilang punya kepribadian yang bikin mengernyitkan dahi. Theo juga pernah ilang tiba-tiba. Emosinya yang tadinya baik-baik aja bisa gampang marah dan merusak.

Theo punya kebiasaan saat malam menuliskan kata dalam memo post it lalu di tempel di kamarnya. Ia sering lupa sama kejadian hari itu. Dengan menulis, ia bisa menyusun kembali kenangan kejadiannya.

Violet nggak sadar bahwa Theo tidak menunjukkan semua wajahnya hingga kesadarannya datang terlambat, Theo bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri di danau.

Film ini menceritakan dua remaja yang depresi.

Violet suka ngambek sama Theo perihal “apa susahnya sih lu ngangkat telepon?”

Padahal Theo sedang sakit dan sendirian, bukan karakter yang mudah dipahami memang. Kalau sependek pemahaman saya, Theo ini bipolar.

Sometimes the person you need, needs you more.

Theo punya bekas luka di perut. Kalau ditanya Violet dia langsung mengalihkan pembicaraan. Pemuda yang hampir selalu sendirian, Ibunya sering nggak ada, Bapaknya mbuh, dan punya Kakak Perempuan yang mulai sibuk dengan kesehariannya. Selalu bilang “baik-baik saja”. Padahal nggak demikian. Selalu dianggap aneh sama teman-teman di sekolah.

Sampai di titik, Theo “pulang.”

Baca Juga : Penulis Rentan Bunuh Diri

Dan hal-hal ini yang menggantung di kepala saya usai nonton;

  1. Kesehatan Mental pada Remaja Bisa Menjadi Masalah Serius

Remaja dan dunianya. Sebagai orang yang pernah ada di masa itu. Menjadi diterima di lingkungan amatlah penting. Remaja bisa merasa buruk tanpa teman. Theo digambarkan sebagai pria berkulit hitam. Kita sama-sama tahu bahwa masalah ras dan stereotipe selalu ada. Ras kulit hitam yang dianggap wajar memberontak, orang-orang akan berkata, “memang dari sononya.” Padahal, tidak ada asap kalau nggak ada api.

Masalah kesehatan mental kayaknya butuh pandangan yang luas dan solusi yang holistik. Kalau nggak? Hal serius yang seperti Theo lakukan bisa dilakukan siapa saja.

  1. Menghadapi Kehilangan, Berkaca pada Violet

Sedalam itu.

Selama itu.

Semurung itu.

Violet lebih dari merasa kehilangan, ia juga merasa bersalah. Itulah yang membuatnya lama dalam duka. Kalian pernah berduka karena kehilangan seseorang? bukan hal aneh ya? tapi, saya dan kalian pasti punya masa berkabung yang berbeda.

Kehilangan seseorang yang menyebabkan depresi pasti bukan hanya tentang kehilangan itu sendiri. Pasti ada hal-hal lain yang melebar.

Menyoal tentang kehilangan. Saya nggak percaya bahwa waktu bisa menyembuhkan. Waktu tidak pernah bisa menyembuhkan. Setiap harinya saya hidup, saya mungkin bisa lupa soal tanggal dan waktu, namun saya nggak bisa lupa tentang momen.

Momen terkuat yang saya alami perihal kesedihan pada akhirnya membuat saya menjadi “orang baru”. Saya menjadi berbeda dalam memandang sesuatu hal sebab momen-momen tertentu.

  1. Perihal Menemukan Arti Hidup Lagi

Violet Markey menemukan hidupnya kembali saat bertemu dengan Theodore Finch.

Dulu. Dulu. Dulu. Dulu. Dulu… dulu sekali. Katanya nenek moyang kita sengaja berada bersama kelompok untuk bertahan hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah ketika sendirian.

Violet ketemu Finch, logis. Seringnya begitu di drama atau film. Ketemu seseorang kemudian menjalin kehidupan baru. Tamat. Berakhir dengan bahagia. Udah gitu aja.

Tapi ini jadi lain. Theodore Finch meninggal dan itu karena bunuh diri. Padahal dia sudah membuat tempat-tempat yang dikunjungi bersama dengan “indah.”

Finch menemani Violet untuk menemukan senyumnya kembali. Tapi nggak sebaliknya. Ini bahkan lebih rumit dari cinta tidak terbalas ya. hahaha.

Akhirnya…

Akhirnya, usai nonton dan menulis ini. Saya nggak tahu jelas buat apa tulisannya. Tapi masalah kesehatan mental adalah hal yang saya pedulikan belakangan. Isu mengenainya sering saya baca diberbagai literatur.

Tapi saya paham kalau untuk menemukan seseorang yang nyaman dan aman diajak bicara mendalam itu susah. Barangkali kalau Finch membuka kesedihannya sejak awal, Violet mungkin tidak akan menerima Finch dengan baik.

Masa iya nanti dialognya jadi gini.

“Ehh mau bunuh diri ya? Kita sama dong. Saya juga pernah. Saya juga punya bekas lukanya. Mau lihat? Oh iya, saya juga nggak murung kayak kamu. Saya kelihatan senang bukan?”

Bukannya malah ngeselin ya? Terus nggak mau deh temanan sama Theo.

Manusia Memang Rumit. Sesederhana itu.

You May Also Like

2 Comments

  1. Aku dulu sering di jadiin curhat sama seorang teman, tapi suatu hari dia bilang, “kamu kok kelihatannya nggak pernah ada masalah. Tenang-tenang aja gitu hidupmu. Ayem-ayem aja.” Aku cuma senyum. Oh Theo, kok nyesek yakkk.. aku tau posisinya Theo..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *