Bagaimana Kalau Saya Tidak Pernah Dilahirkan?

Bagaimana Kalau Saya Tidak Pernah Dilahirkan?

Pernahkah kalian mendengarkan bagaimana kisah sebelum kalian lahir ke bumi?

Seorang anak yang lahir tahun 1982, sakit ginjal usianya yang masih anak-anak. Kemungkinan sakitnya dalam rentang 1987 sampai dengan 1989, sering kambuhan. Ada waktu dimana dokter bilang, karena kerusakan di ginjal yang membuatnya bengkak terus, sangat “jagoan” kalau umurnya bertahan tiga bulan saja.

Seorang Ibu yang dibilang dokter dengan kalimat itu, merasa terbakar hingga berdoa tiada henti pada Tuhan. Agar anaknya diberikan kesembuhan. Sang Ibu puasa entah selama beberapa saat. Meminta dengan sungguh kesembuhan anaknya. Dalam salah satu mimpinya, ia mengantarkan anaknya berobat.

Tak lama ia membawa anaknya berobat. Kali ini dokter berkata lain setelah dilakukan beberapa tes. Ginjal sang anak cukup sehat. Hanya diperlukan beberapa rawat jalan hingga anaknya benar-benar sembuh.

Diantara kisah diatas, karena sang ibu takut kehilangan anak ketiganya, ia melepas KB-nya dan berpikir untuk punya anak lagi. Jaga-jaga jika anaknya mati, ia akan punya anak lagi.

Dan anak yang selanjutnya dilahirkan adalah saya.

Sebenarnya, kisah ini memilukan untuk saya. Tidak jauh beda dengan Moon Gang Tae yang sedih ketika Ommanya cerita, ia dilahirkan hanya untuk menjaga kakaknya yang autis. Saya dilahirkan hanya untuk jaga-jaga kalau-kalau kakak saya berpulang.

Seperti yang pernah saya tulisan di sini. Bahwa saya memang benar-benar jahat. Satu lagi orang yang pernah saya harapkan lenyap. Bahkan lebih-lebih. Terkadang saya ingin membunuhnya saja.

Tiap melihat kakak saya, ada perasaan marah tanpa henti. Mengapa kalau hidupnya begitu terselamatkan dan panjang umur, kenapa tidak hidup dengan baik? Kenapa malah bikin susah sampai usia tuanya.

Saat SMP kelas dua, ia ingin berhenti sekolah. Hari-harinya diisi dengan berangkat dari rumah tapi tidak pernah ke sekolah. Hingga ia naik usir di kelas dua menuju kelas tiga. Ia bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah dan punya keinginan aneh. Ia ingin masuk SMA setelah beberapa bulan berhenti sekolah. Memang sangat konyol.

Saat kecil, apapun yang saya miliki, jika berharga akan mudah hilang. Celengan dari tanah yang berbentuk kucing dengan isi recehan itu akan rusak punggungnya, semua uang diambilnya. Uang yang disimpan di bawah bantal akan hilang begitu saja. Di manapun saya menyimpan uang, jika dilihatnya, pasti dicuri.

Setiap punya sepeda, selalu diambil dan dijual diam-diam. Bahkan bajunya sendiri pun ia jual. Sering juga kandang ayam dalam semalam penghuninya hilang dicurinya.

Saat saya masih SMA, setelah pulang dan makan, meninggalkan tas di kasur. Sisa uang yang ada di tas tiba-tiba raib, kembali hilang dicuri.

Tiap saya punya sesuatu yang disukai, itu akan jadi alasannya untuk mengancam dan merusak jika permintaannya tidak dikabulkan. Permintaannya tidak jauh-jauh dari minta uang ke orangtua dengan ucapan yang saya sampaikan. Ia hanya pengecut besar yang tidak bilang sendiri apa maunya.

Bosan sekali rasanya menjadi juru bicaranya.

Tiap saya punya baju terbaik yang bisa dimiliki, baju-baju itu hilang, beberapa waktu baru ketahuan kalau baju itu ada di genteng setelah saluran air mampet. Begitulah, sulit baginya melihat saya senang sebentar saja.

Tiap keinginannya tidak dipenuhi, ia mengamuk, melempar barang, membakar, dan merusak. Tidak jarang barang milik saya sudah dilempar ke jalanan.

Saya tumbuh menjadi anak yang selalu menepis perkataan bahwa kakak akan melindungi adik-adiknya. Itu tidak pernah ada dalam hidup saya. Tidak pernah ada.

Semua hal diatas, membuat saya menjadi pribadi yang tidak pernah merengek itu dan itu, saya sadar bahwa punya kakak seperti ini sudah menyusahkan bagi orangtua. Apabila ada barang atau sesuatu yang ingin saya miliki, sebisa mungkin saya membelinya sendiri. Oh ya, saya sudah biasa cari uang untuk hidup sejak umur 19 tahun.

Hidup dengan orang seperti itu juga membuat saya lelah menangis. Ketika saya mengalami kehilangan demi kehilangan. Saya banyak diam. Jika saya bersuara, mentok orangtua bakalan menyalahkan saya yang menaruh uang sembarangan.

Waktu berjalan dan saya tumbuh…

Di usia saya 20 tahun. Ia menikah dan punya anak. Ibu saya menaruh harapan bahwa kakak saya akan berubah usai menikah. Tapi ternyata tidak. Malah lebih buruk.

Saya nggak mau kasih tahu detail ceritanya, yang jelas rumah tangganya hanya berumur sekitar 3 tahun. Punya anak perempuan yang kini tinggal bersama Ibu dan ayah barunya.

Kalau diingat-ingat, rasanya hanya akan menggaruk-garuk hati. Saya masih ingat kakak saya dengan jahatnya melemparkan satu baskom besar bubur yang akan dijual istrinya di jalanan. Hingga saat ini, kejadian itu membawa pengalaman traumatis sendiri. Tiap makan bubur itu, saya merasa seperti makan pasir juga.

Karena bayangan saya akan bubur yang dilemparkan ke jalanan itu belum hilang sampai sekarang.

Dulu, ketika ia jahat pada istrinya, saya memukulnya dengan payung kecil. Hanya payung kecil yang ada pada jangkauan saya saat itu. Mungkin kalau ada benda tajam, saya pasti sudah membunuhnya.

Dua tahun lagi usianya 40 tahun.

Tapi kepalanya masih belum bisa paham tentang hidup. Ia masih luntang-lantung tidak mau bekerja. Kerjaannya hanya menghabiskan makanan dan rokok. Kemudian merongrong minta uang. Ia tidak mengerti bahwa kedua orangtuanya sudah terlalu tua untuk terus hidup dalam teror.

Sepanjang saya hidup. Sepertinya saya tidak pernah melihat wajah kedua orangtua saya bahagia. Sebentar saja pun tidak pernah. Ibu saya ketika jalan-jalan malah banyak melamun, wajahnya nampak sedih.

Sesak sekali dada ini jika melihat kelakuannya. Belum lagi permintaan-permintaan konyolnya yang tidak tahu diri itu.

Kenapa?

Di dalam drama korea My Mister (2018), Lee Ji An terus menerus hidupnya diteror oleh pemuda yang ayahnya pernah ia bunuh. Saat Ji An masih sekolah, saat ditagih utang oleh rentenir yang kasar pada neneknya. Ji An mengambil pisau dapur dan menusuk rentenir itu sampai mati.

Karena dendam, anak rentenir itu tidak bisa melihat Lee Ji An bahagia dan bernapas lega. Ketika Ji An kesulitan ekonomi, anak rentenir pasti membayarkannya agar Ji An tetap dalam pengawasannya.

Ji An menanggung nasib itu karena pernah membunuh sebelumnya.

Seringkali saya bertanya pada Tuhan, apa salah saya hingga terhimpit dalam orang seperti ini? Saya tidak pernah membunuh seperti Lee Ji An. Kenapa untuk bernapas lega saya sepertinya sulit sekali?

Di beberapa cerita, ketika seseorang membicarakan keluarga, mungkin akan mengungkap kehangatan. Saya mungkin adalah bagian yang berbeda. Mengingatnya, menuliskannya, menjalaninya seperti dada ini digaruk garpu panas. Saya akan gagap kalau bicara satu-satu tentang anggota keluarga.

Ji An pernah bilang, akan mudah menjadi orang baik jika kamu kaya. Itu betul adanya. Saya tambahkan, akan mudah menjadi orang baik jika kamu tumbuh di lingkungan dan didampingi oleh orang-orang baik.

Yha, saya juga tidak merasa menjadi orang yang baik. Saya adalah orang yang bisa mendoakan buruk seseorang, bahkan bisa membunuh orang dalam kepalanya.

Sempat… atau lebih tepatnya adalah sering sekali. Sering sekali saya sudah tidak paham ketika berdoa pada Tuhan mau didaraskan dengan redaksi kalimat seperti apa. Saya hanya bisa diam. Kepala saya mencerna ini dan itu.Memahami ini dan itu. Tapi buntu. Bahkan tubuh ini sudah sulit menangis. Tapi wajah ini jelas murung.

Kalau lagi buntu, sempat bertanya, bagaimana kalau saya tidak pernah dilahirkan saja? Mungkin saya tidak akan tahu hidup seberat ini.

Tentu, seperti manusia biasa. Kalimat sebagus apa. Janji Tuhan semanis apa, kadang semuanya nggak mempan. Di titik itu, saya hanya bisa merasakan… merasakan… dan merasakan.

“Manusia tidak pernah tahan dengan kesempitan, termasuk kesempitan berpikir.” begitulah kalimat yang entah pernah saya dengar di mana. Saya hanya merasakan semuanya kemudian seakan-akan seperti meledak.

Kalian tahu?

Pelajaran untuk bahagia tidak pernah mudah bagi saya. Saya belajar hal itu lambat sekali. Bahkan untuk menghilangkan sedikit wajah murung, saya butuh waktu lama. Tapi saya menerimanya sebagai bagian dari diri saya.

Saya bahkan mendaftarkan kalimat atau kata di mana saya bisa sedikit merasakan bahagia. Seperti anak-anak yang baru belajar menuliskan sesuatu. Saya menuliskannya tiap hari apa-apa yang ditemukan dan dirasakan di hari itu.

Es krim.

Kopi.

Ombak.

Angin dari barat jam empat sore.

Ayam goreng.

Kentang goreng.

Ketawanya abang ojek pangkalan yang nggak dapat penumpang.

Tomat yang baru tumbuh.

Lagunya Jung Seung Hwan di bawah ini.

Dengan begitu. Ada saja tetes bahagia yang bisa sedikit membuat napas lega seperti habis minum tolak angin cair.

You May Also Like

13 Comments

  1. peluk kak momo 🤗

    pasti rasanyanya begitu berat, ketika rumah yang seharusnya memenuhi segala kebutuhan, malah seperti “memaksa” kita untuk tumbuh dewasa cepat-cepat.

    rasanya pasti sesak, ketika pikiran dan hati kita ingin menumpahkan resah dan gelisah, tapi rumah seakan menolak kita mentah-mentah.

    bagaimana pun berat dan sesak yang kak momo rasakan, aku harap kak momo tetap menabung harapan. khususnya, untuk kebahagiaan kak momo saat ini dan masa depan.

    semangat membangun tempat ternyaman dan tempat untuk pulang, kak momo. seperti ombak, es krim, ayam goreng, dan segala hal yang membuat kak momo bahagia.

    bagaimana kalau kak momo tidak pernah dilahirkan? maka jawabannya adalah, tidak akan pernah hadir sesosok manusia hebat seperti kak momo. kak momo yang memiliki hati yang kuat dan mudah mensyukuri hal-hal sederhana.

  2. Aku peluk kamu dari jauh Mo. Kenapa kamu dilahirkan? Tuhan pasti punya alasan.Suatu saat kamu akan mengerti alasan itu.Keep smile Mo. Banyak orang yang sayang sama kamu.

  3. ikut prihatin…bagus momo bisa menuliskannya….terutama kata-kata yang terakhir itu…

    nggak kamu nggak jahat kok itu hanya kemarahan..
    semua orang normal dalam kondisimu akan mengalaminya, kamu lebih baik dari kakakmu..dan itu kekuatan kamu

    keep strong

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *