Beginilah Rasanya Bius Total (Anestesi Umum)

Beginilah Rasanya Bius Total (Anestesi Umum) – Diantara sakit yang diberikan Tuhan pada saya, dihadapkanlah saya dengan jalan satu-satunya yaitu tindakan operasi. Bukan operasi besar, melainkan hanya odontektomi. Mong ngomong soal odontektomi, di beberapa bulan mendatang pun saya akan menjalani operasi keduanya.

Bius yang dilakukan pada odontektomi pun ada dua macam. Ada lokal dan umum. Saya kebagian yang anestesi umum karena posisi gigi yang impaksi total dan harus cabut 4 gigi bungsu. Ceritanya sih 2 gigi dulu, baru 2 gigi lagi. Katanya kalau ambil 4 langsung, saya bakalan susah makan.

Yowislah. Dua cabut dulu, dua gigi berikutnya pun menyusul. Sabar banget kan saya?

Singkat cerita (karena tulisan ini bakalan ngomongin anestesi doang), akhirnya saya tiba di hari tindakan operasi. Malamnya pukul 00.00, saya sudah diinfus, pagi hari sudah dites untuk alergi obat. Suntikannya nyess banget di tangan. Tangan saya bentol di bagian suntikan, di area suntikan  dilingkari dengan pulpen, di tulis sesuatu *lupa saya. Kemudian ada bintik merah. Tapi tak lama hilang, artinya, saya nggak alergi sama obat yang bakalan diberikan.

Nunggu lagi… akhirnya jam 9 barulah nama saya dipanggil untuk masuk klinik anestesi.

Nunggu lagi… karena kebagian yang kedua.

Setelah masuk. Pakaian saya dilucuti, hanya pakai kaos dalem dan celana yang digulung hingga di atas lutut. Kemudian pakai penutup kepala dan baju operasi.

Nggak langsung dibawa ke ruang operasi.

Karena masih nunggu. Entah beberapa menit saya bengong menatap lampu. Tidak ada rasa takut, rasanya plat kendaran Jakarta, B aja cuy.

Seketika rasanya ingin menulis Essay. Wkwkwk… tapi jelas nggak bisa, jadi saya hanya diam dan berbicara dalam hati.

sumber :Pixabay

“Gusti Pengeran. Kalau di luaran sana orang-orang begitu bangga akan ketahuan mereka yang mengungguli tahunya orang lain. Saya berbaring di sini, begitu terberkati atas ketidaktahuan rasa sakit yang akan saya hadapi. Bahwa ketidaktahuan adalah tanda-tanda bahwa Engkau begitu pengasih. Maka bahagialah saya dipeluk Engkau. Aku serahkan ketidaktahuan dan ketidakberdayaan ini padaMu….”

Dan seorang lelaki bertanya nama saya. Kami pun kenalan. Yhowww nggak gitu dong ceritanya.

Dibawalah saya pada lorong-lorong. Karena mata saya emang doyan jelalatan. Di sebelah kanan, saya sempat melihat pasien lain sedang ditindak, mungkin kuret karena posisinya demikian. *yaa sotoy aja.

Nengok salah satu ruang di sebelah kiri, saya lihat entah bagian tubuh manusia apa di dalam monitor. Yang jelas nyatanya, nggak saya sendirian. Banyak yang sedang dioperasi hari itu, hanya beda tindakan saja.

Hingga masuklah saya dalam OK 8. Ruang tindakan odontektomi yang harus saya lewati. Saya diminta pindah ke ranjang operasi. Cuma gasar-geser aja pakai badan, masih gampang.

Lagi-lagi mata jelalatan.

Di sebelah kanan ada dua dokter muda bicara tentang mobile legend. Di samping mereka ada tiga dokter wanita muda yang dua diantaranya duduk pangku-pangkuan. Entah apa yang mereka bicarakan, sedangkan di tembok, saya bisa mengenali bahwa itu adalah hasil rontgen gigi milik saya.

Kalau ada yang suka cerita, sebelum operasi ada yang ngajak ngobrol supaya nggak stres. Saya nggak diajak ngobrol. Mungkin karena saya terlihat damai begitulah adanya, heleeehh. Yang jelas saya nggak diajak ngobrol apapun.

Lagi-lagi. Saya hanya bisa menatap lampu. Sambil bicara dalam hati.

“Dokter anastesi adalah orang yang menyuntikkan obat bius. Selebihnya, bius bekerja sesuai perintah Engkau. Engkau bicara dalam dinamika obat bius dan intelegensi tubuh. Sedangkan dokter bedah mulut yang kayaknya namanya Bambang adalah agenMu dalam memetik gigi bungsu. Gigi yang selama ini diam-diam memberikan pengalaman sakit yang begitu uwuwu. Apalagi sakitnya ditambah dengan asam urat. Mantap betul emang. Sakit hati jadi B aja.”

*ternyata dokternya Ariyaka cuy, bukan Bambang…. duhh Pak Haji entah di mana.

Kemudian ada suara lelaki yang memerintah.

Di samping kiri ada perempuan muda yang nampak kikuk. Seorang pria memerintahkannya untuk memasang alat tensi.

“Neng pasang tensi.” Si Eneng pun pasang tensi di tangan kiri.

“Itu kebalik Neng.” Neng kembali membalikan tensinya.

“Neng itu pasang tensi jangan di tangan yang ada infusnya.” Si Eneng pun langsung pasang di sebelah kanan. Setelah dipasang Si Eneng dengan benar, tensi secara otomatis mengukur selang interval tertentu.

Kemudian jari kanan saya ditempeli semacam jepit jemuran. Ehhh dipindahin sama lelaki yang memerintahkan Eneng di jempol sebelah kiri.

Saya hanya bisa melihat mata Eneng yang kayaknya malah lebih resah dibanding saya yang mau operasi. Dalam hati saya berkata. “Kumaha atuh Neng?”

Munculah di sebalah kiri, dokter Bachtiar. Dokter yang akan menganastesi saya. Sedangkan lelaki yang memerintahkan Eneng tadi sibuk dengan selang infusan saya yang macet. Ia menyuntikan sesuatu di selang karet di infus. Linu yang paling linu. Rasa sakitnya lumayan. Digigit ponakan jadi B aja.

Lelaki yang memerintahkan Eneng hanya misuh. “Duhhh kacau ini kacau.” Nampak kesal sambil tarik menarik infus.

Dokter Bachtiar hanya berkata. “Berdoa ya.”

Yang terucap dalam hati hanya… “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad”

Kemudian ada sensasi seperti hembusan di leher. Terasa agak dingin dan seperti bikin kering. Terjadilah…

Nggak tahu apa-apa. Saya nggak sadar. Meneketehe. Embuh…. Ora tahu.

Hingga tahu-tahu  tangan saya ditabok oleh parawat perempuan. “Mbak operasinya selesai.”

Saya bangun. Langsung ingat penuh. Sayangnya susah ngomong, di mulut ada perban. Badan terasa berat. Saya pun ingin duduk. Kemudian duduklah saya…

Perawat yang sedang duduk malah teriak. “Mbaaakkk jangan duduk.”

Tiduran lagi. Saya mual. Pengen muntah. Tapi karena nggak ada yang dikeluarin perut. Bertemanlah saya dengan mual.

Kentutlah saya. Sekali. Saya hitung terus. Ternyata sudah empat kali. Rajin sekali saya kentut. Rajin sekali saya berhitung.

Hingga sekitar jam 12 lebih saya dipindahkan lagi ke ruang perawatan biasa. Lama juga, masuk jam 9an keluar jam 12an. 3 jam lebih.

Ngantuk sekali. Benar-benar bangun jam 2 siang. Perban diambil dan isinya darah semua. Dokter bilang untuk langsung gerakin badan dan rahang. Minum hanya boleh satu tutup aqua selama 15 menit sekali sampai perut bisa menerima.

Baru bisa makan dan minum jam 11 malam. Itupun susah mangap.

Rasanya bius total?

Yha jelas nggak seluruh tubuh dibuat nggak kerasa. Anehnya, selama “tidur” saya kok rasanya mimpi lagi baca ebook seperti yang ada di playbook. Kemudian saya menawarnai semua bagian yang saya baca karena dianggap penting. Semua… tanpa terkecuali. Tapi saya hanya melihat paragraf dengan warna. Tidak jelas apa tulisannya.

Barangkali, Tuhan ngasih tahu bahwa selama saya tidur. Hal-hal penting terjadi dalam hidup saya. Tapi yang lebih penting justru adalah ketika saya dibuat “tidak tahu”.

Nikmat anestesi mana yang saya dustakan?

Besoknya setelah operasi. Saya ngaca.

Bengkak sebelah.

“kamu siapa?” tanya saya dalam hati, di cermin.

4 komentar pada “Beginilah Rasanya Bius Total (Anestesi Umum)

    • 04/10/2019 pada 4:51 AM
      Permalink

      *garuk-garuk

      Balas
  • 17/10/2019 pada 9:52 AM
    Permalink

    jadi, kamu siapa ?
    eh, sudah ga bengkak ya, sudah bisa kempes lagi sekarang.

    Balas
    • 18/10/2019 pada 6:49 PM
      Permalink

      siapa aku? pertanyaan yang selalu ditanyakan manusia pada dirinya. wkwkkw.

      sudah nggak bengkak jelas dong… tapi yha begitu.

      Balas

Tinggalkan Balasan