Bekerja Sampai Mati

Bekerja Sampai Mati – Saya pernah cerita bahwa menjadi anak penjahit memberikan pengalaman yang kurang menyenangkan soal baju lebaran. Di saat orang-orang semangat dengan baju lebaran saat ramadan. Ingatan saya lebih terawat soal bagaimana kedua orangtua yang bekerja keras bahkan sampai jam 3 pagi.

Suara mesin jahit dan gunting menjadi dominasi diiringi suara takbir. Esok hari, mereka dalam keadaan lemah letih.

Bagi saya, hal itu menjadi pengalaman tidak menyenangkan. Ada perasaan tidak tega sekaligus ketidakberdayaan di hati.

Saat Bapak sakit. Ibu saya terus bilang; cepat sembuh agar bisa bekerja. Karena ada pekerjaan yang harus segera selesai. Karena pemilik baju akan menggelar kenduri, hajatannya sebentar lagi, menghitung hari. Sedangkan uangnya sudah diterima.

Tapi Bapak dipensiunkan oleh Tuhan. Dengan repot sekali, baju-baju itu jadi meski tidak sebagus buatan Bapak. Ibu saya membuatnya dengan kemampuan terbatas dan dibantu dua orang. Jika diingat kembali, hari-hari itu adalah hari sebelum Bapak berpulang, Ibu saya harus bekerja juga padahal kondisi kesehatannya belum benar-benar pulih.

Pada bulan yang sama, agustus kemarin, bulan dimana Bapak lahir dan berpulang. Pun saya menjadi saksi bahwa Bapak masih bekerja seorang diri. Saat itu Ibu saya masih terbaring sakit, positif Covid 19 dan diinfus di rumah.

Hari-hari sehatnya yang terakhir, Bapak masih bekerja dan ngurusi mesin air yang mampet.

Bekerja Menghidupi Hidup

Bapak saya benci pemalas. Bapak rajin bukan main. Jam 12 malam saja masih nyapu kebun belakang atau menata kerikil. Bahkan mencuci piring jika ada piring kotor.

Saat muda, Bapak membuat bata merah hasil cetakan dan bakaran sendiri yang kemudian dijadikan rumah yang kini kami tinggali sebagai anak.

Lewat pekerjaannya sebagai penjahit yang bisa buat apa aja. Bapak bahkan tidak paham berapa tarifnya. Urusan ongkos buat baju semua diserahkan pada Ibu. Ibu saya mengelolanya penuh seorang diri. Hampir sebagaian besar waktunya, Bapak tidak memegang uang satu peser pun.

Bapak cuma cukup dengan diberi makan dan diberi rokok.

Tak pernah terlihat Bapak menginginkan satu menjadi dua. Kemudian dua menjadi tiga. Tiga menjadi empat. Bakat alaminya tidak di sana.

Bapak tidak tegaan melihat barang rusak. Banyak sekali barang-barang yang sebenarnya tidak berguna disimpannya dengan baik. Dimuat dalam kardus-kardus. Berharap satu hari bisa berguna untuk sesuatu.

Bapak tidak pernah tega pula membeli barang yang baginya mahal. Dulu kala, Bapak sempat balik lagi dari Mal karena tidak mau membeli apapun. Baginya, barang yang dijual di Mal terlalu mahal.

Kalau ada baju di lemari yang beli di Mal, itu hanya diperolehnya dari sang anak. Banyak yang jarang dipakai karena Bapak jarang pergi-pergi, sampai ada yang belum dipakai sama sekali.

Kesehariannya hanya memakai baju gratisan dari produk.

Penjahit yang bisa bikin apapun. Tidak terlalu semangat membuatkan baju untuk dirinya sendiri.

Saya Tidak Mau Seperti Bapak

Sungguh.

Saya tidak mau seperti Bapak yang bekerja sampai mati.Pada momen sakitnya, masih dibayangi dengan bagaimana bekerja dan memenuhi kebutuhan. Lagi-lagi, ada perasaan tidak menyenangkan jika mengingat hal ini. Perasaan sedih dan tidak berdaya.

Seumur hidup harus bekerja namun kebutuhan mendasar saja sungguh sulit dipenuhi. Bapak berpulang dalam keadaan ekonomi keluarga yang tidak baik.

Saya tidak mau menghakimi bagaimana orangtua saya mengelola keuangan. Meski saya juga jengkel pada beberapa waktu. Perjalanan hidup mereka sudah terjadi, bahkan sudah berakhir.

Pada perjalanan kisah hidup saya. Ada warisan utang yang harus dibayar.

Setelah perginya Bapak, saya bekerja lebih keras. Pada hari di mana saya sakit. Kepala saya memikirkan banyak hal tentang pekerjaan. Isi kepala ini seperti arus yang tidak mau diam.

Saya belajar perlahan mengenai  mengelola keuangan, mulai dari dana darurat, dana pensiun dan hal-hal lain yang biasanya manusia modern sebutkan untuk menuju kemandirian secara finansial.

dokumen pribadi

Kembali lagi ke dunia saham setelah saya tinggalkan di tahun 2013 menjadi keputusan sadar dan berasa belajar dari nol lagi.

Petik

Dari Bapak saya belajar untuk tidak serakah dan bagaimana mengelola keuangan dengan baik itu sangat penting.

Nama Bapak saya itu tidak banyak dikenali. Hidupnya seperti kebanyakan manusia lain yang lahir kemudian pergi. Sebagai wayangnya Tuhan, hidupnya penuh dengan penderitaan. Sebagai orangtua, jelaslah Bapak bukan orangtua yang sempurna. Namun sebagai anak, semoga doa-doa  yang dipanjatkan menjadi cahaya baginya.

Acap kali saya menghibur diri dengan kalimat, “mungkin, Tuhan Yang Maha Pengasih akan terharu dengan daya juangnya mengatasi segala cobaan hidup. Semoga Tuhan lapangkan kuburnya, mengampuni dosanya.”

Saya bener-bener nggak tahu kebahagiaan dalam hidup itu seperti apa. Saya merasa tidak begitu yakin ketika ada di suatu titik yang orang lain yakini hal-hal itu adalah kebahagiaan.

Saya cuma belajar paham jika penderitaan itu nyata dan harus dikurang-kurangi atau dijinakkan.

“Bapak. Istirahatlah dengan tenang.”

7 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment