Bekerja

Bekerja  – Saya nggak tahu judul yang tepat untuk tulisan ini. Kayaknya kurang pas. Tapi ya sudahlah.

Belum lama, saya memutuskan untuk melepaskan suatu pekerjaan yang sudah cukup lama saya lakoni dalam hidup.

Di perjalanan pulang, saya banyak berpikir. Ternyata, manusia memang menjadi penghuni waktu saja. Kita pada akhirnya akan dipertemukan dengan batas. Di sinilah batas itu. Waktu saya telah berakhir dan saya beranjak. Tempat yang saya tinggalkan akan mudah diisi dengan orang lain, seperti cangkir yang siap diisi dengan teh atau kopi.

Sebelumnya. Saya bicara banyak pada teman lama saya. Kami mengenal lama sekali. Tidak perlu basa basi. Saya bicara tentang bagaimana saya yang tidak pernah suka hidup dengan banyak drama tidak perlu. Saya mulai mundur dari lingkungan orang-orang yang membuat kepala saya pening. Saya lebih memilih untuk bungkam dan bicara seperlunya. Irit sekali.

Sampai ada cap di mana saya terlihat begitu cuek.

Sama seperti yang ditulis oleh ical di sini,  “Saya merasa lebih sehat ketika sendirian.” Itu juga benar-benar saya rasakan. Saya benar-benar merasa terlalu nyaman dalam sendirian. Sampai pekerjaan yang saya lakukan saat ini pun semuanya hampir dilakukan sendirian.

Kalau ada kontak dengan orang lain, paling email, eh telepon juga dink.

30 tahun

Dalam drama Be Melodramatic dikatakan, orang yang masuk usia 30an sudah lebih luwes dalam menghadapi pekerjaan karena pengalaman keberhasilan dan kegagalan di masa lalu, walau kerutan di wajah mereka mulai mengurangi peluang yang datang.

Keluar dari pekerjaan lama sama sekali tidak membuat gagap. Setidaknya saya masih punya keterampilan lain yang masih bisa dipakai sebagai penopang kebutuhan hidup. Untuk urusan cari nafkah, saya masih diberi rizki sama Sang Pengasih.

Makin tua, saya makin sadar apa yang saya mau beserta kecenderungannya. Saya mudah lelah setelah bertemu dengan banyak orang. Untuk mengisi energi saya butuh tidur siang. Beda kalau di rumah doang, saya nggak butuh tidur siang. Introvert nih? Kayak youtuber yang sempat dihujat itu.

Tapi saya juga suka cerita. Kadang suka rindu bercerita, ngobrol yang remeh-remeh.

Emang bener, menyendiri memang ampuh sekali digunakan untuk berpikir dan berpikir. Bahkan belajar juga. Karena akal akan bahagia kalau diberi ilmu.

Terus ada yang bilang lagi. Kalau mau bahagia, juga perlu ilmu.

*ini siapa yang bilang sih? denger di mana ya…

Titik

Teman saya sedih karena dibandingkan dengan Kakak Iparnya yang menghasilkan uang lebih banyak. Ia disindir terus oleh sang Ibu. Sindiran keras berupa kompor yang dijual temanku belum terjual satupun. Beda dengan kakak iparnya.

Membandingkan hal-hal gaib seperti pembeli kompor yang datangnya ke arah mana ini emang agak bikin jengkel sih. Makanya teman saya sedih.

Saya bilang, kalau saya punya anak kayak dia (teman saya itu) pasti senang, anaknya baik hati dan gemoy.

Saat ini, titik pandang saya soal pekerjaan ada di titik kerja apa saja semampunya, lakukan semaksimal mungkin dan terus belajar. Itu sudah bagus. Itu sudah membanggakan.

Sudah tidak ada lagi pekerjaan yang lebih unggul dibadingkan pekerjaan lainnya di mata saya. Kepala saya sudah menolak bahwa pekerjaan yang satu lebih baik dibandingkan pekerjaan yang lain (ini maksudnya kerja yang halal ya).

Beda orang, beda kisah. Beda kemampuan. Beda nasibnya.

Tukang becak yang masih narik penumpang dengan semangat. Ojek pangkalan yang masih rebutan calon penumpang yang baru turun dari bus. Mbah yang jualan jagung rebus di dekat tugu. Pedagang yang jualan sayur jam 3 pagi.  Semuanya tidak lebih rendah dibandingkan pekerjaan dengan jabatan dan kekuasaan tertentu. Sama-sama mengagumkan.

Kalau ada Tukang Cimol lewat. Saya mengagumi bagaimana mereka bertanggung jawab penuh atas hidupnya. Tanggung jawab atas keluarganya.

Kenapa saya bilang begini?

Karena ada seseorang dalam hidup saya, usianya sudah hampir 40 tahun dan masih tidak mau bekerja. Masih menggantungkan kebutuhannya pada orangtua. Tidak pernah sadar orangtuanya sudah tua. Padahal lengkap tubuhnya secara sempurna. Kemudian selalu seenaknya menginginkan ini dan itu dan mengharap dipenuhi.

Siapa dia?

Salah satu kakak saya sendiri.

Ketika ada tetangga saya yang katanya tidak terlalu cerdas dan hanya melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkut pasir. Hati saya kagum sekali. Sebab ia masih dikarunia tubuh yang lengkap dengan kegunaannya untuk bekerja. Tidak perlu memandang rendah seseorang dengan kemampuan intelektual terbatas bukan?

Saya ada di pandangan ini setelah melihat adik saya sepanjang hidupnya masih dalam pelukan Tuhan sebab cacat fisik dan syaraf yang menjadi takdirnya. Sudah 23 tahun ia hidup tidak memahami apapun kecuali minta makan dan mandi.

Tubuhnya menua dan melemah seiring bertambahnya tahun. Bahkan yang dulunya bisa duduk, sekarang sudah tidak bisa. Sepanjang hari, ia lebih banyak tidur. Rambutnya sudah banyak beruban. Tangannya berbintik coklat seperti nenek-nenek.

Kemudian Saya Bercermin

Tidakkah kamu berpikir? Tidakkah kamu bersyukur? Sudikah berhenti meneriaki dirimu sendiri karena sudah bertahan dan berjuang sejauh ini semampumu? Jika kamu begitu kagum melihat orang lain, tidakkah jahat dengan melihat dirimu dengan kecil hati. Tidakkah orang yang harus kamu maafkan dengan sepenuh hati adalah dirimu sendiri.

 

8 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 Comment

  1. Semakin berjalannya waktu, saya kok ya makin paham bahwa rusaknya hati dan pikiran seseorang banyak disebabkan oleh orang-orang lain di sekitarnya. Semua orang bisa hidup bahagia andai semua orang juga bisa bicara dan bertindak seperlunya, tahu urusan masing-masing, dan hanya mementingkan pertolongan bila diperlukan.

  2. Wah saya semakin menghargai pekerjaanku meski keluarga besar sering menyindir kata mreka capek2 dikuliahin malah milih jadi karyawan swasta 😕. Mreka berpatokan bahwa kalau kuliah harus jadi PNS 😪