Belajar Menulis Tanpa Menyesal

Masih dalam tema menulis 100 hari dengan tema terserah kepala mau nulis apaan. Akhirnya, setelah memeras kepala saya yang mulai kering kayak kanebo yang airnya sudah mulai ilang, hadirlah tulisan ini.

Emm…. Mana baru hari keenam cuy. Masih panjang Hayati harus menulis.

Pernahkah kamu menyesal menulis sesuatu? Paling sederhananya adalah menulis di status sosmed? Pernah?

Penyesalan ini datangnya dengan gejala ketika membaca tulisan sendiri bawaannya mau muntah dengan perasaan jijik. Ingin rasanya menghapus tulisan-tulisan itu dengan segenap jiwa raga. Kalian tiba-tiba merasa kotor gitu sama perbuatan sendiri.

Pernah?

Saya pernah alhamdulillah (agak ragu sih ini harusnya disyukuri apa nggak). Kadang saya ingin pulang ke masa lalu dan mengomeli diri saya sendiri saat itu. Tapi apalah daya, itu tidak akan terjadi. Karena Doraemon pemilik pintu kemana saja hanyalah sahabat dari Nobita. Momo bukan sahabat dari Doraemon. Bukan.

Momo sahabat siapa? Nggak punya sahabat saya. wkwkwk. Cuma punya Kekasih (di sini tulisannya. Hiyaahh terus aja promosi, lumayan kalik ada yang nyangkut).

Tapi drama di sosmed kayak gitu udah nggak terlalu ada. Maklum aja, kisahnya pernah saya tulis di tulisan yang ini. Maaf, males cerita ulang.

Nah Kali ini Menyesalnya adalah Tentang Menulis di Blog

Tarik napas dulu.

Saya juga pernah tanpa pikir panjang menghapus tulisan lama di blog, padahal trafiknya nggak buruk. Alasannya sepele aja.

“Sepertinya saya terlalu emosional di tulisan, udahlah hapus aja.”

Padahal, yang dipublikasi adalah 40% dari 100% tulisan emosional yang pernah saya buat. Hahaha. Saya sampai geleng-geleng aja bacanya.

Tapi sudah, semuanya sudah berlalu.

Bodohnya lagi, saya menghapus tulisan lama saya di sini (titik dua kurung buka)

Alasannya mau nulis dengan tema. Jadi, tema yang tidak bersesuaian saya hapus aja.

Padahal kan gagal tuh niatannya. Saya kembali nulis ngalir sesuai apa yang saya mau di sini. Makanya, saya nggak mau hapus-hapus tulisan di sini lagi. Udahlah, biarkan saja. Memang beginilah adanya saya.

Kembali Lagi Jadi Cerita Momo, Kumpulan Cerita yang Sekenanya dibuat!

Senang ya tulis aja senang. Sedih ya sedih aja. Begitu deh, dapat pengalaman baru kayak sakit gigi juga ditulis. Kali aja ada yang butuh.

Saya pernah dengar dari bacotnya Soleh Solihun, dia bilang “Kenapa orang harus keluar dari zona nyamannya? Kenapa nggak tetap tinggal di zona nyaman kemudian lebih digali untuk jadi yang lebih baik dan manfaat lagi. Orang hidup butuh kenyamanan bukan?”

*kurang lebih begitu.

Dipikir ada benarnya juga.

Berbekal pengalaman 3 tahun mondar mandir nulis, saya juga belajar kecenderungan saya dalam menulis. Saya lebih suka nulis dengan tema hiburan atau yang santuy-santuy gitu. Bukannya nggak bisa nulis yang serius. Tapi ini masalah “panggilan hati lebih ke arah mana”.

Bukannya sombong sih, tapi saya merasa “suara” saya lebih keluar saat nulis sekadar opini atau nulis dengan tema hiburan. Makanya di tempat web sebelah saya nulis yang temanya sama sekali nggak serius (nggak bole bilang, tutup mulut, nanti dibunuh).

Katanya kalau penyesalan yang datang itu dari kesadaran yang telah berpindah.

Kesadaran manusia berpindah dari kesadaran satu ke kesadaran lainnya. Timbulah berbagai pergolakan di dalam diri. Hal itu sangat manusiawi.

Manusia memang perlu hal-hal begitu. Kalau nggak? Bagaimana manusia bisa berubah?

Saya juga berubah kok, jadi, pembaca di sini jangan pernah berpegangan pada hal tertentu soal saya. (saya pernah nulis di sini penjelasannya).

Salah Satu Resep Menulis Tanpa Penyesalan Menurut Mbah Nun begini;

Di salah satu maiyahan pernah tuh dibahas. Inget banget saya.

Bahwa Mbah Nun mengatakan ketika menulis, ia mencoba melihat dengan pandangan yang lebar. Jadi, nggak menyesal dia nulis apa. Tulisan lamanya bahkan masih sangat relevan. “Kamu harus menjadi lebih tua dari umurmu.”

Tapi saya beda banget sama Mbah Nun.

Mbah Nun memang canggih. Dia menulis satu dua kata kemudian “ada yang meneruskan hingga titik.”

Nah saya?

Nulis satu dua kata terus dihapus. Lalu bingung nulis apaan.

Huh.

Makanya saya cuma bisa belajar nulis tanpa menyesal, rumusnya masih saya pelajari yang sesuai sama diri sendiri. Minimal, saya nggak membuat hati orang lain terluka karena tulisan yang saya buat.

Semoga nggak ya.

 

You May Also Like

7 Comments

  1. Kak momo katanya penyesalan datangnya belakangan yak. Karna kalau duluan mah namanya pendaftaran.

    Tapi aku pernah tuh nyesel duluan. Pas tau yang masuk ujian lisan belakangan soalnya gampang2 dan ujiannya sebentar, beda sama yg duluan. Kan, nyesel duluan~

    #komenspamapalagiini. :p

    1. wkwkwk. nah iya. kalo lisan belakangan aja, pengujinya udah capek.

      ***
      yahhh namanya belajar, mesti aja ketemu salah

    1. wuiihhh, mantaabb.. sudah tiga tahun mondar mandir jadi penulis di website.. wah seumuran dong umur kita menulis di blog.

      kalau urusan pernah menyesal nulis di medsos atau wordpress kayaknya enggak siih.. misalnya iya , ya udalah tinggal dihapus aja. delete langsung mitigasi penyesalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *