Belajar Tanpa Khawatir

Belajar Tanpa Khawatir  – Yang membuat rasa iri dalam hati adalah bukan melihat Sisca Kohl makan dengan taburan emas atau makan kudapan mahal.

Rasa iri muncul pada momen dimana ada seseorang yang bisa menempuh pendidikannya tanpa rasa khawatir pada bayaran.

Lagi-lagi soal uang ya?

Akan saya ceritakan kisah lagi.

Kisah R yang Malu ditagih Terus

Pernah nemu momen ini nggak? guru berkeliling satu kelas ke kelas lain untuk menagih dan atau mengingatkan perihal bayaran.

R, pemuda yang pintar. Ia juga sangat menyenangkan sebagai teman. Begitulah menurut M. M adalah teman SMP yang beda kelas dengan saya.

Sebuah alasan yang sangat sederhana sekali, tapi memengaruhi keputusan seseorang. R memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah SMA/SMK. Alasannya adalah tidak mau mengulang rasa malu yang sama ketika ditagih. Ia sadar betul kemampuan ekonomi keluarganya dan sudah lelah dengan tagihan dan tagihan.

Entah bagaimana kabar R saat ini. Seingat saya, M menceritakannya dengan sedih. R anak yang cemerlang di akademik, tapi lagi-lagi. Bisa sekolah lagi juga merupakan kemewahan.

Tidak Menyangka

“Saya tidak akan akan sekolah.” Begitu ucapan R dulu. Teman baik saat SMP. Saya duga lagi karena masalah ekonomi.

Satu lagi teman saya W (Teman sebangku R). Teman yang tidak pernah menolak ketika saya ajak menemani untuk pipis. Ia rangking 2 di kelas. Sangat rajin, sangat cerdas. Tapi karena masalah biaya, ia harus menunda untuk sekolah lagi selama satu tahun. Tahun berikutnya barulah ia sekolah di SMK. Katanya agar cepat dapat kerja.

Entah bagaimana kabar W. Sudah lama tidak lihat. Pernah kontak, tapi kemudian saya kehilangan kontaknya.

R masih sering lihat. Ia kadang lewat di depan rumah. Ketika kami saling menyadari satu sama lain, kami menyapa sambil teriak.

Saya kehilangan banyak teman baik saat masuk SMA.

Tapi memang begitulah hidup. Melewati kehilangan satu dan kehilangan lainnya.

Saat SMA mulailah hal-hal itu terasa. Hal seperti menyadari bahwa keterbatasan-keterbatasan ekonomi keluarga begitu nyata. Saya tidak pernah dapat sepatu yang baik. Untuk pergi karya wisata, saya harus mengumpulkan sendiri uangnya bahkan uang jajan.

Masih saya ingat, hari itu. Uang selembar 50rb, ibu saya memberikannya sebagai sangu untuk karya wisata ke Bogor. Tapi apa kalimatnya?

“Jangan dipakai uangnya. Dipegang saja.”

Jadi, ketika yang lain membeli banyak oleh-oleh. Saya duduk di pohon yang rindang menikmati kesibukan mereka. Lepas itu, uang 50rb itu saya kembalikan lagi.

Perjalanan SMA saya juga sama kayak R. Nama saya selalu disebut untuk nama-nama yang belum bayar SPP.

“2 BULAN BELUM BAYAR? KAPAN MAU BAYAR?” begitulah, suara dan nadanya masih saya ingat. penagihnya adalah Pa Lilik, yang tahun ini sudah berpulang. Semoga sudah di sisiNya dengan damai.

Kabar baiknya, keterbatasan-keterbatasan soal biaya di SMA masih bisa ditutupi dengan menjual cincin yang saya miliki. Dari SD kalau dapat yang lebaran selalu dibelikan emas, dulu 1 gram masaih 70rb. Begitu terus sampai cincin saya banyak. Tapi semuanya habis, entah buat beli buku atau keperluan bayaran lainnya.

Zaman SMA kalau ada suara Pa Lilik nagih di kelas sebelah. Anak-anak yang nasibnya kebagian ditagih mendadak minta izin ke belakang. Apalagi kalau tidak ada guru. Yaaa sudah mereka bisa kabur.

Tapi saat itu saya adalah anak yang memilih menghadapinya saja, dengan jawaban sekenanya kapan mau bayar.

Urusan duit biaya sekolah pada masa lalu selalu menjadi keresahan saya (nanti saya ceritakan kapan-kapan cerita lengkapnya).

Kesempatan yang dibiarkan Begitu Saja

Namanya A. Lagi-lagi anak keluarga berada. Setiap melihatnya, sudah tidak usah dijelaskan lagi. Anak yang tumbuh dengan gizi yang baik dan tidak pernah resah soal bayaran sekolah atau kuliah.

Pada beberapa percakapan di masa lalu ia berkata, “Mbak, saya harus lebih dari mantan saya yang jahat itu. Kalau dia cuma S1, saya harus S2.”

A pun menjalani sekolahnya. Ia nampak sibuk mengerjakan ini dan itu. Saya sering dimintai bantuan dalam hal teknis.

Semua lancar. Bayaran kuliah jelas lancar. Hingga satu langkah lagi. A hanya harus menyelesaikan tesisnya.

Sudah bimbingan sana sini. Hingga semangat itu entah menghambur kemana. A tidak melanjutkan pekerjaannya. Sampai saat ini pun A masih tidak menyelesaikan kuliahnya.

Sayang.

Sayang sekali.

Nanggung sekali.

A bagi saya adalah manusia yang beruntung. Bisa sekolah lagi tanpa repot memikirkan banyak hal. Tinggal sungguh-sungguh belajar. Bebas tanpa kekhawatiran. Hal yang tidak pernah saya peroleh di masa lalu.

Menyelesaikan sekolah bagi saya adalah proses bisa selamat dari perang.

***

Kemarin, teman saya meminta bantuan yang mendesak. Ia membawa laptop dan berkata akan ujian untuk jenjang pascasarjana yang akan ia lewati di semester baru nanti.

“Sekalian bantu dikerjain ya.”

“Kalau bisa itu juga. Jangan mengharap banyak.”

Satu persatu soal dijawab. Banyak yang bisa dijawab dengan baik. Nilainya juga lumayan. Secara teknis, sayalah yang lebih banyak menjawab soalnya. Tapi tentu saja kami banyak berdiskusi.

Usai ujian selesai. Saya memberi pesan.

“Nanti kuliahnya diselesaikan ya. Jangan sampai nggak. Selesaikan sampai wisuda. Jadikan happy ending.”

sumber: pixabay

Soal Kuliah di Masa Depan

Saya tidak punya keinginan besar bisa kuliah lagi. *Saya sebut sekolah saja.

Apabila saya diberi kesempatan dalam hidup, entah sekolah di tahun apa. Maka saya harus benar-benar lepas dari pikiran soal bayaran, kemudian kalau ada yang tanya, kenapa kamu kuliah ini?

Jawabannya sederhana sekali, “karena ingin saja.”

Saya haruslah pribadi yang lepas dari kegalauan; nanti sekolah ini, jadi apa? atau keharusan dapat jabatan ini dan itu usai tamat study.

Ketika saya sekolah lagi, tidak ada perasaan galau ria ketika nilai tidak yang didapatkan tidak sempurna. Saya akan menganggapnya sebagai hal wajar atas tindakan saya.

Saya tidak akan memberatkan diri saya pada banyak hal.

Lakukan saja, dulu saya selalu melakukan banyak hal untuk orang lain. Keputusan yang diambil jarang murni. Bahkan beberapa hal berjalan tanpa pemikiran yang benar-benar dipikirkan.

Sampai ada titik dimana saya kebingungan apakah saya sudah melakukan tindakan yang tepat? Sampai ada di titik perasaan menyesal yang menyala-nyala. Termasuk menyesal soal kuliah juga *nanti saya ceritakan.

Urusan sekolah, akan menjadi urusan untuk memenuhi keinginan dan kebahagiaan pribadi. Saya masih percaya, output orang berilmu itu mudah jadi bahagia, kalau sekolah bisa menjadi salah satu jalan, maka saya ingin membuktikan hal itu. Pada diri sendiri.

Berbahagia saja.

Sekolah bagi saya bukan untuk menampakkan diri yang lebih hebat. Tapi diri yang tertaklukan karena proses menimba ilmu.

Saya akan seperti orang yang mabuk cinta kalau ditanya kenapa kamu cinta?

“Yaa karena cinta saja.”

Tapi kalau hal semacam sekolah lagi tidak pernah ditakdirkan pada saya.

Saya mensyukuri hal itu.

Tidak masalah.

Tulisan ditutup

Selamat bagi kamu yang menjalani sekolah dan atau kuliah tanpa mikirin betapa susahnya dapat membayar tagihan sekolah, yang tidak pernah resah nggak bisa ikut ujian karena belum bisa membayar administrasi.

Selamat untukmu kawan. Hidupmu terberkati.

 

 

6 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *