Benci dan Cinta Terhadap Instagram

Benci dan Cinta Terhadap Instagram – Saya pernah ada di posisi off dengan semua sosial media. Ketika benar-benar masuk dan mencoba lagi. Ada perasaan yang berbeda. Saya menjadi orang yang banyak bertanya ini itu tentang bener nggak sih kalau saya punya sosmed ini?

Buat apa saya punya sosmed? Instagram misalnya.

Saya Benci Sama Instagram

Instagram kadang muncul sebagai tempat yang mirip dengan tempat jualan besar-besaran. Saya melihat iklan dimana-mana. Di instagram para pesohor apalagi.

Kalau instagram resmi dari brand tertentu, saya biasanya ikhlas mengikuti karena memang “butuh”.

Saya juga benci sama instagram yang ngasih rekomendasi yang aneh-aneh. Kontennya juga tidak jarang merupakan repost dari sosmed lain, misalnya tiktok atau twitter.

Semacam kurang mandiri gitu.

Ketika mengklik kaca pembesar di deretan menu bawah. Seringkali berita viral dan viral yang muncul. Kayak saat ini misalnya, entah sudah berapa banyak saya melihat gambar Aurel anaknya Anang beserta hal-hal tentang pernikahannya dengan pria yang pakai iket kepala itu.

Agak membosankan, menjenuhkan, dan bikin dahi berkerut-kerut. Padahal skincare anti aging itu sama sekali nggak murah. Nggak mau dong saya cepat tua karena masalah ini doang.

Jadi tombol kaca pembesar itu lebih sering saya abaikan saja. Demi kedamaian pribadi dan mencegah tidak berlarut-larut di dalamnya.

Instagram juga kadang terasa seperti marketplace saja. Tak mengapa. Ada sisi bagusnya, demi perkembangan perekonomian. Tentu saja hal ini bukan hal buruk, konsumsi penting adanya demi perekonomian yang terus bergulir.

sumber : pixabay

Saya Juga Cinta Sama Instagram

Pada dasarnya saya adalah orang yang demen sama dunia fotografi dan lagi banyak belajar di dalamnya. Melihat foto-foto keren, terpesonalah saya.

Beberapa akun juga membagikan beberapa ilmu gratis soal dunia fotografi. Sedikit banyak saya cari tahu di dalamnya.

Saya bahkan pernah nangis gara-gara sebuah foto. Pokoknya kecintaan saya pada jeprat-jepret cocok-cocok aja kalau dikoneksikan dengan instagram.

Awalnya saya juga mikir, gpp deh pakai instagram. Buat portofolio fotografi juga. Kalau beli domain lagi, sewa hosting lagi. Harus bener-bener butuh “wadah” yang gede demi kecepatan website yang baik.

Instagram dirasa menjadi solusi yang cukup praktis.

Tapi sampai sekarang saya belum ngapa-ngapain tentang nyusun portofolionya.

*ingin menertawakan diri sendiri.

Dasar saya.

Parah.

Kayaknya saya mulai butuh admin.

Wah sepertinya ini salah satu saya bisa memberdayakan orang lain. *tbtb kepikiran aja pas buat tulisan ini.

Menyenangkan!!!

Sekarang saya mulai merasakan bahwa memotret itu sangat menyenangkan. Padahal saya dulu melakukannya “sambil lalu” saja.

Di dalamnya ada aktivitas menghargai momen. Berasa satu dua sama aktivitas menulis. Cuma atmosfernya beda aja.

Asyik pokoknya.

Tapi instagram nggak sepenuhnya asyik seperti memotret.

Okeh. Saya butuh admin!!!

*kemudian mikir siapa kandidatnya.

 

You May Also Like

6 Comments

  1. Kalau aku buka IG buat lihat-lihat story orang. Melihat betapa bahagianya mereka. Lumayanlah buat bahan materi overthinking di malam hari.

    1. Hahaha. kok gitu banget yah.

      Kalau aku cuma biar terlihat keren aja smartphonenya.
      Dengan RAM yang masih 2 GB, Instagram merupakan aplikasi penguras RAM smartphone.
      Tapi tetep aku pertahanken di layar utama smartphone jadulku. Padahal servicenya aku matiin biar tidak ada notifikasi masuk hahaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *