Cerita Momo buku bacaan Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga – Adalah sebuah sebuah hal yang indah ketika satu buah buku yang dibaca oleh pembaca menginspirasi pembaca lainnya, kemudian lahirlah buku yang lain. Begitulah sekiranya kata-kata yang dijelaskan oleh penulis. Bahwa dia sangat tercerahkan dengan gagasan pemikiran seorang Adler.

Nggak mau merasa sendirian dapat buku bagus, ia pun mengolahnya menjadi sebuah buku yang diisi dengan pertanyaan seorang pemuda yang dijawab oleh filsuf. Di dalamnya berisi perjalanan panjang dialog. Dua tokoh dalam buku ini tentunya nggak kayak netizen ditwitter yang habis dua twit aja kemudian langsung ribut, ujung-ujungnya nyerang pribadi.

*makanya sob, mending banyakin baca buku aja daripada baca twit war.

Soal Berani Tidak Disukai

Belum baca bukunya. Menelan kalimat berani tidak disukai akan dijawab oleh sama diri saya sendiri dengan jawaban singkat.

“Bukan berani lagi. Tapi keharusan. Karena saya nggak ngapa-ngapain aja, ada yang sebel sama saya.”

Sedangkan setelah membaca pertama kali, saya merasa buku ini asyik bener. Sentuhan pertama pada lembar-lembarnya telah mengantarkan saya pada halaman lebih dari 100. Sampai tidur jam 12 malem.

Saya sempat tertohok dengan semacam pandangan sosok filsuf yang bilang kalau trauma itu nggak ada, bahwa masa lalu adalah bagian yang tidak begitu diperhatikan.

Tapi tumpukan landasan pemikiran di dalamnya yang bilang kalau hidup bukan sesuatu yang diberikan oleh orang lain, tapi sesuatu yang dipilih sendiri, dan kitalah yang memutuskan untuk menjalani hidup adalah hal logis.

Semacam orang yang sudah selesai dengan dirinya.

Yang paling kenceng digaungkan dalam buku ini adalah pandangan bahwa semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal.

Kemudian munculah berbagai terapan-terapan yang merupakan jawaban dari pemuda oleh filsuf. Diantaranya adalah soal kesendirian. Kesendirian tidak membuat merasa kesepian. Kesepian adalah tahu ada orang lain, tapi merasa dikucilkan oleh mereka, untuk merasa kesepian. Seseorang membutuhkan orang lain. Dalam konteks sosial, manusia menjadi individu.

Hal-hal di atas erat kaitannya sama keinginan manusia menjadi superior.

Bahwa keingian manusia menjadi “pusat” dunia seringkali menjadi banyak masalah yang menjadikan manusia nggak “santuy”.

Gimana? paham tak?

Di dalam buku juga dijelaskan bahwa soal bahagia, manusia bisa bahagia saat itu juga. Tanpa mikirin yang kemarin-kemarin atau meresahkan masa depan yang belum terjadi.

Kalau sudah dalam konteks itu, saya ingat perkataan Prie GS. Selain hidup itu keras, maka gebuklah. Hidup juga lunak, maka bentuklah.

Jadi, dalam pandangan otak atiknya saya. Buku berani tidak disukai ada pada jalur hidup itu lunak, maka bentuklah. Dengan memandang masa lalu yang katakanlah yowis nggak usah dipikiri banget sampai trauma ini itu, maka ada kesempatan bagi manusia untuk membentuk hidupnya sendiri sesuai dengan gaya yang dia mau.

Menjadi manusia berdaulat.

Ada juga hal-hal mengenai hidup yang dijalani bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, juga tidak mencari pengakuan. Bahwa hidup untuk diakui jatuhnya malah capek sendiri karena terus mengukur perasaan orang lain. Maka berani tidak disukai adalah opsi yang membebaskan.

Berat Nggak Bukunya?

Nggak, paling berapa MB. Saya baca ebooknya. Masih lebih gede ngunduh drakor di Netflix.

*semoga nggak diracun pembaca.

Bagi saya malah ringan-ringan aja. Dialog dua tokoh di sini tektokannya keren. Filsuf terus digali dengan pertanyaan-pertanyaan pemuda yang sebenarnya nggak jauh dari masalah manusia biasa dalam hidupnya.

Sayangnya ada gangguan saat membaca ditengah-tengah.

Jadi pas baca lagi agak keder sama irama yang sudah dialami sebelumnya. “widiw siyi binging jigi”

Selebihnya buku ini asyik.

Saking asyiknya saya sampai joget.

Ahh nggak gitu maksudnya. Saya sampai beli buku kelanjutannya yang berjudul berani bahagia. Sampai tulisan ini dibuat, bukunya belum saya baca sama sekali.

Ponakan saya Aul yang baca. Ceritanya Aul lagi belajar membaca, masih ngeja cuy. Tapi lumayan.

Sok-sokan malu, btw tangannya gede banget ya?

Btw, harga bukunya mahal juga, Berani Bahagia menyentuh angka 105.000 di gramed.

Berani Tidak Disukai, Buku yang Menarik

Kalau saya buka catatan saya, saya cukup banyak dapat hal-hal kece dari buku ini. Termasuk soal kemarahan sebenarnya hanyalah alat komunikasi yang digunakan manusia untuk menekan lawan bicara dan memenangkan dirinya.

Juga soal bagaimana anak-anak yang ingin mendapatkan pengakuan dari orangtua, terlepas cara mereka adalah menjadi anak baik atau anak yang buruk. Anak yang ingin dipuji akan pencapaiannya, atau anak yang terus ditegur karena perilakunya.

Bahwa ada sebuah jalan tengah dalam hidup. Menjadi normal sudahlah cukup, yang di dalamnya mencakup penerimaan diri adalah langkah yang vital dalam hidup. Bukan urusan ingin dapat perhatian oleh orang lain secara terus menerus oleh orang lain

“Kalau kamu bisa memiliki keberanian menjadi normal, caramu memandang dunia akan berubah drastis”

Kesimpulan Ngomongin Buku Berani Tidak Disukai – Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Kayak dapat wejangan dari Mbah-Mbah, dengan konstruksi landasan pemikiran yang bisa dibilang merupakan antitesis dari gagasan yang ada.

Kadang suka bingung di beberapa bagian, tapi bingungnya nggak bikin mules. Yha, yang bikin mules itu minum dulcolax malam hari. Besoknya mules.

Seru sih bisa belajar filsafat dan psikologi secara berbarengan dengan adanya tanya jawab pemuda dan filsuf. Begitulah ilmu, kayak cahaya, kalau bawa lampu senter dari dua sumber, dua-duanya bisa menjadi cahaya yang saling bersamaan.

7 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment