Belajar Menyikapi Sosial Media dari Kasus Para Seleb Embuh

bijak di sosmed

Artis, seleb tv, influencer, selebgram, selebtwit, seleb-embuh… di mana-mana ada aja dramanya, ada aja kabarnya. Dramanya nggak cukup nongol di TV saja sebagai hiburan, sosial media mereka pun penuh dengan drama.

Kayaknya nggak pernah sepi gitu ya para pesohor ribut-ribut di sosial media? Yang ini ngatain ini, berantem saling buka aib di IG Story. Kadang lawannya bukan sesama pesohor juga, para pesohor lawan netizen juga sering.

Akun gosip? Nggak pernah sepi sampai sekarang. Selalu ada saja kabar yang disampaikan lewat kekuatan hengpon jadulnya itu. Kabar berita tentang aib? Masih lebih disukai ketimbang kabar tentang prestasi.

Sebagai netizen yang sudah hadir sejak zaman pluto, kompor minyak tanah, yahoo! Messenger, friendster, sudah hadir sejak twitter ada RT RT  sampai zaman bikin thread. Agaknya ada beberapa hal yang barangkali bisa saya atau kamu gunakan agar bisa menggunakan sosial media lebih bijak lagi. Lebih khusunya belajar dari kasus-kasus para pesohor atau beberapa kasus yang pernah jadi viral.

  1. Sadar penuh apa yang dibagikan

Suatu ketika, di twitter pernah diomongin beberapa seleb embuh di instagram yang lupa ngedit caption untuk post berbayarnya, masih ada tulisan “Mbak nanti ditulis begini yaaa…. bla bla bla.”

Heh?

Udah captionnya nggak mikir sendiri dan lupa diedit pula. Gimana gitu yaa kalau jadi bloger? Yang harus nulis dan ngedit sendirian? 

Saya sih bertanya-tanya aja, ini kenapa ya? Apa sibuk banget sampe nggak konsen? Apa nggak dibaca dulu gitu? Apa lagi kurang cairan kayak di iklan itu? Entah apa  yang membuat para influencer ini lupa ngedit, yang jelas dia tidak sadar penuh akan apa yang dia bagikan.

Yha, kita mesti sadar betul apa yang kita bagikan. Kalau mau membagikan sebuah tlisan, tanyakan lagi apa dari sumber yang dipercaya, apa bukan HOAX? Kalau kamu merasa hal-hal dalam internet itu share able, pastikan hal tersebut memberikan pengetahuan baru atau sesuatu yang punya makna.

Jadi, jangan asal comot dan bagikan bagikan bagikan….

Dari kasus cation seleb ini juga saya jadi tambah yakin kalau menulis itu nggak gampang, kalau copy paste mah jelas gampangnya.

*ketawa.

  1. Porsi Ketidaktahuan adalah porsi terbesar

Dalam waktu yang serba terbatas, kita hanya mendapatkan kesan dari apa yang kita lihat. Impresi, impresi dan impresi.

Apa yang bisa kita ketahui seutuhnya dari sosial media? Tentang karakter dan kepribadian yang sebenarnya?

Hanya sedikit. Itupun adalah hal-hal yang memang sengaja dibagikan oleh pemiliknya. Jadi, jangan telalu kaget jika suatu hari para pesohor menunjukkan wajah lainnya yang berbeda dengan image yang sudah dia bangun.

Memposisikan ketidaktahuan sebagai bagian terbesar barangkali akan membuat kita tidak mudah menghakimi orang lain.

Seorang netizen bisa dengan mudahnya menduga bahwa para pesohor tertentu kerjaannya hanya pamer barang mahal, jalan-jalan ke luar negri, dan senang-senang saja. Kita nggak pernah tahu lho, mungkin sisi dia yang lain sengaja ditutupi dan dia memang pandai menutupinya. Mungkin dia tahu sekali bahwa ketika melakukan perbuatan baik dengan tangan kanan, tangan kiri kita nggak perlu tahu.

John Lenon pernah bilang, “Don’t hate what you don’t understand.” Karena ketidaktahuan, kita nggak akan pernah bisa ada di level paham. Saya atau kamu nggak pernah tahu apalagi paham apa yang terjadi dalam suatu kasus yang sedang viral kan ya?

Lihat kasus pelakor itu? Berbondong-bondong orang jadi pembenci. Lihat artis yang katanya merebut suami teman duetnya? Nggak kelar-kelar apa yang dia post pasti ada hujatan.

Lihat awkarin? Benci? Lihat YoungLex? Benci? Lihat Reza Arap? Benci… Lihat Raditya Dika wawancara Young Lex di youtube, eh dibajak blognya Raditya Dika karena dia benci YoungLex.

Hambok, hidup kok dikit-dikit benci. Kalau nggak suka sama konten yang para influenser bagikan, tinggal nggak dilihat aja kan beres?

Kalau kita tahu diri bahwa porsi tidak tahu selalu jadi porsi yang paling besar. Mungkin kita nggak akan berani dengan mudahnya membenci.

  1. Suka 100% sangatlah tidak bijak

Kalau suka bisa digambarkan dengan presentase, suka 100% sangatlah tidak bijak. Kalau 100% diskon, itu baru bagus.

Ada yang menyukai seseorang hingga apa yang sang idola lakukan dari A sampai Z tak peduli baik atau nggak selalu dapat pembelaan. Semacam cinta yang membutakan. Netizen jenis demikian dengan mudah kamu temui di sosial media.

Saat idolanya diterpa kabar miring, mereka bersiap dengan kalimat-kalimat pembelaannya. Hingga kadang sudah tidak logis lagi kelakuan para netizen ini.

Masih terkenang dalam ingatan (eahh ciehh) saat fans AgnesMo dan Anggun yang tak habis-habisnya membandingkan mereka berdua. Masing-masing kubu terlalu menganggap satu lebih ungul dari yang lain, hingga akhinya menciderai satu sama lain.

Kalau saya?

Mungkin karena sudah bukan umurnya kali ya? Saya tidak dalam kondisi mendewa-dewakan seseorang? Kalau suka pasti karena beberapa alasan dan sudut pandang, sisanya biasa aja, nggak ada yang sangat disukai apalagi benci. Daripada kata suka, saya lebih suka menggunakan kalimat “belajar dari”.

Bisa dong saya belajar dari Awkarin? Bisa kan? Ini soal ketabahan dia dalam menghadapi para pembenci tapi tetap tabah. Kalau saya mungkin nggak akan bisa menerima kebencian sebanyak itu. Kagum deh sama ketabahannya. *kalau nerima cinta yang banyak sih bisa.

Salah satu teman saya pernah mengomentari dan bertanya mengapa saya menyukai salah satu budayawan. Padahal menurut dia, sang budayawan ini anu dan anu. Jawaban saya adalah saya tidak pernah suka 100%, ada saja pemikiran beliau yang saya tidak setuju. Tapi harus saya akui bahwa porsi “belajar dari” doi ini emang banyak.

Pegangan saya kalimat ini : jangan gampang sinis, apatis, menolak atau menerima segala yang datang. Ambil yang kiranya bisa menjadikan kita lebih baik, lebih dekat sama Tuhan, lebih kagum dengan ilmu pengetahuan, dan takjub dengan kemungkinan-kemungkinan kehidupan. *nyari-nyari file usang tulisan lama *kata doi.

  1. Selalu mengontrol emosi walaupun dalam japri

Saya pernah melihat mendengar sendiri salah satu artis melontarkan kata kasar pada artis lainnya di salah satu stasiun TV yang siaran langsung. Beberapa hari kemudian, artis tersebut tidak kelihatan lagi di acara tersebut. Mungkin diberhentikan.

Ini masalah kontrol emosi.

Contoh di kasus di sosial media yang menyeret para pesohor juga banyak. Kasus yang belum lama, ada seorang influencer yang katanya punya image positif, anak baik-baik, cerdas, dll ternyata bilang nyet dan sangat emosional saat berinteraksi dengan mas-mas yang katanya fotonya diambil dan digunakan oleh orang yang  tidak bertanggung jawab.

Okeee sebut nama saja. Hahaha…

Saya nggak tahu banget siapa Gita Sav. Tapi saya agak tahu karena beberapa bloger pernah ngebahas tentang doi di salah satu tulisannya. Influenza katanya sih, eh maksudnya influenser. Doi punya banyak pengikut dan banyak yang suka sama doi. Belum lama bikin buku dan laris manis.

Terlepas apa yang menjadi pemicu Gita Sav hingga berkata kasar, kontrol emosi memang selalu dan selalu harus dijaga. Apalagi para pesohor. Ahh netizen biasa juga harus menjaga emosinya kok.

Kemajuan teknologi selain memberi banyak keuntungan. Saya merasa bahwa rekam jejak percakapan sangat rentan kebocorannya karena fasilitas screen capture/screenshot/SS/tangkapan layar.

See? Emosi yang tidak bisa dikendalikan (walaupun dalam japri) bisa menjadi bumerang dikemudian hari. Jadi tetaplah berkepala dingin.

Kalau buat saya, nggak ada salahnya menjaga jarak dengan media sosial karena sedang dalam kondisi yang terlalu marah. Jauh-jauh deh sama hape kalau emosinya lagi nggak bisa dikendalikan, bisa terlalu marah, terlalu sedih, terlalu bahagia atau terlalu-terlalu lainnya.

Jadi, nggak ada nyet di antara kita? Walaupun saya marah sama kamu *eaaa…

Masing-masing diri kita pasti tahu dan sadar apa yang menjadi kebiasaan saat kita dirundung emosi yang sulit dikendalikan. Kalau saya memilih menghindar, bisa jadi hilang selamanya. Alasannya? Saya nggak mau melukai orang hanya karena emosi yang sedang saya alami. Saya nggak mau itu.

  1. Walaupun dunia maya, ada manusia dibaliknya

Manusia.

Bukan umbi-umbian.

Maka sudah sewajarnya memperlakukan orang lain sebagai manusia. Masa iya foto wajah manusia diedit jadi gambar monyet (kasus ATT belum lama). Orang lain dikatain nyet. Beda pendapat dikit di twitter dikatain macam-macam… Ribut sampai lupa konteks yang sedang dibahas itu apa.

Ada manusia di balik sosial media milikmu atau milik orang lain.

Jadilah manusia.

bijak di sosmed
sumber gambar : pixabay.com

Kesimpulan….

Semoga kita bisa menyikapi dengan bijak sosial media yang kita miliki, bisa menjaga emosi saat berinteraksi dengan para pengguna lainnya juga.

Bijak di sosmed?

Kalau saya kayaknya belum bijak-bijak banget. Masih diusahakan. Masih sering alay-nya.

Baeq... suda dulu bosque… tetapla uwuwuwuw….

Terima kasih sudah membaca. Gimana? Sudah follow twitter saya?

*mon maap kesimpulannya kurang uwuwuw karena nggak konsen gara-gara bola. Heu… (nulis sambil nonton bola itu tidak bijak).

4 thoughts on “Belajar Menyikapi Sosial Media dari Kasus Para Seleb Embuh

  1. Seleb embuh. Oh seleb embuh. Hahahah

    Tapi ada 2 hal yg saya amat sangat setuju. Sama seperti saya jangan suka 100% dengan seseorang karena akibatnya fatal. Sebab bila kita amat sangat menyukai seseorang dengan takaran yg berlebihan akan membuat kita seolah mendewakan dia. Sehingga apappun yg seseorang lakukan akan kita anggap sebagai sebuah kebaikan.

    Sama ” Don’t hate what you don’t understand” ya walaupun saya tidak begitu faham bahasa inggris tapi saya sedikit bisa memaknau dari tulisan berikutnya hihihi. Janganlah membenci sesuatu yg tidak kamu ketahui/pahami.

    Jadi teringat sama teman yg tiba tiba melarang anaknya menonton upin dan ipin hanya karena dia benci orang kafir dan sesuatu yg berhubungan dengan amerika dan israel. Saat itu dia melarang anaknya karena dia membaca berita yg tidak jelas sumbernya yg mengatakan bahwa upin dan ipin adalah buatan amerika dan israel. Kan konyol 😂😂😂

Tinggalkan Balasan