Cerita Momo Cuma Nulis Aja Bisa Kuliah Adalah Suatu Kemewahan (2)

Bisa Kuliah Adalah Suatu Kemewahan (2)

Bisa Kuliah Adalah Suatu Kemewahan (2)

Emang lagi males buat judul. Jadi, buat yang mau baca tinggal baca. Enaknya bikin judul blog itu nggak akan ditolak, nggak kayak skripsimu itu. *hah.

Bagian dua kali ini lain soal dengan bagian pertama. Sesuatu yang sama sekali nggak bisa dibeli oleh uang secara langsung. Apa itu?

Kisah D

D adalah anak bungsu, jenis kelamin perempuan. Punya tiga kakak. Kakak pertama sudah jadi bankir dengan jabatan tinggi. Kakak kedua adalah anggota polri, dan kakak ketiga adalah pegawai bank. D tumbuh menjadi anak yang spesial.

Saat kecil sampai dewasa. Saya pernah melihatnya kejang-kejang. D sebenarnya anak yang baik, ingin berteman. Namun ia sering dirundung oleh teman-temannya karena kekurangannya.

Ibunya pernah cerita bahwa D saat sekolah SMA pernah disuruh pulang mengambil sendok oleh temannya, tapi D sangat menurut dan tidak berpikir bahwa hal itu adalah tindakan perundungan. Ibunya menangis karena anaknya begitu polos. Yaa bayangkan saja, D harus pulang jauh ke rumah hanya demi sendok.

Impian orangtua pada D sangatlah besar. Ibunya ingin anaknya kuliah.

Awalnya saya cukup takjub melihat bahwa D rajin kuliah. Ya, D benar-benar kuliah dengan jurusan Komunikasi. Saya sering melihatnya sabar menunggu angkutan untuk pergi ke kampus yang lokasinya masih di kota yang sama dengan D tinggal.

Hingga perkuliahan itu berakhir, ada hari dimana D menangis dan memohon pada Ibunya agar ia berhenti kuliah. Dengan jujur D berkata bahwa perjalanan kuliahnya telah sampai pada titik ia benar-benar tidak mampu mengikuti. Ibunya marah, tetap mendorong anaknya untuk kuliah. Mimpi-mimpi sang ibu pada D masih belum selesai.

Tapi D memilih mogok kuliah. Hingga permintaan itu diiyakan sang ibu. D berhenti kuliah dengan izin yang alot. Kurang tahu jelas di semester berapa D benar-benar mundur dari dunia kuliahan. Yang jelas semua orang tahu D sudah berhenti kuliah.

Saat kecil, D sering dirundung dengan panggilan, “D bodoh.” Bicaranya gagap, ia seperti lama memproses kalimat-kalimat yang harus ia katakan. Kepolosan yang ia miliki kadang memilukan, ia tidak terlalu paham mana temannya dan mana yang mengerjainya.

Simpan dulu cerita D.

Ada lagi.

Kisah N

Sama seperti D, N adalah anak bungsu. Kedua orangtuanya adalah ASN dengan jabatan tinggi. Tiga anak sebelumnya semuanya kuliah. N tumbuh spesial. Saat SMP, demi bisa sekolah ia masuk ke sekolah yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Jenjang berikutnya ia memilih SMK, ia pun lulus.

Keadaan fisik N agak berbeda dengan D. N tidak bisa fokus menatap seseorang, ia juga tidak mampu bicara secara jelas. D masih lebih baik, meski terbata, pelapalan katanya jelas.

N adalah anak kesayangan, kedua orangtuanya tidak pernah tega melepas N sendirian. Pulang sekolah pokoknya antar jemput menggunakan kendaraan pribadi.

Ada rasa takjub saat N akhirnya bisa sampai di semester 5 untuk program D3nya. Sebentar lagi selesai.

Tapi semua rasa takjub menjadi luluh lantah ketika saya tahu bahwa N mengalami kesulitan di hal-hal yang seharusnya sangat mudah dikuasai untuk anak kuliahan.

N tidak mengerti bagaimana mengubah format data. Misalnya JPG ke Pdf, berkali-kali diajari tapi tetap saja tidak bisa. Bahkan untuk mengetik pun tidak bisa.

Begini cara N mengetik. Misalnya ia menyalin dari satu tulisan. Ia akan meng-enter tulisan sesuai dengan baris di tulisan asli. Padahal seperti yang kita paham, tinggal lanjut aja nulis sampai ganti paragraf baru baru enter. Untuk rapi-rapi ada menu lain. *yaa kalian pahamlah yang begini.

Saya jadi ingat kemampuan saya saat belajar ngetik pas SMP kelas 8. Persis seperti N.

Adalagi momen dimana N mengetik ulang hasil tulisan yang sudah diprint. Padahal tulisan itu sudah ia dapatkan soft copynya dalam bentuk word. Seperti tetap cinta pada orang yang tidak mencintai balik, semacam perbuatan sia-sia.

Darimana saya tahu?

Pokoknya tahu aja.

N juga mengalami kesulitan dalam memahami materi kuliah. Apapun materinya. Tapi ia terbukti bisa lolos. Suasana hatinya pun bisa sangat berubah-ubah. Ia bisa marah karena banyak tugas dan nampak tertekan.

Saya tahu menempuh pendidikan adalah hak semua manusia. Sempat cari info juga apakah ada kampus yang ramah untuk anak berkebutuhan khusus? Yaa ada aja. Tapi tempat dimana N menuntut ilmu adalah kampus yang sebenarnya nggak ramah untuk anak berkebutuhan khusus. Saya tidak tahu wacana kuliah N berasal dari siapa. Tapi kedua orangtuanya sangat mendukung, bahkan kakak-kakaknya juga membantu dalam mengerjakan tugas.

Namun, melihat mata N yang nggak bisa fokus, mudah terganggu, dan kebingungan yang terlalu sering sejalan dengan numpuknya tugas. Sulit memahami materi yang sebenarnya sederhana membuat saya terdiam menanyakan banyak hal.

Soal Kuliah, Uang Memang dibutuhkan

Banget. Terkisahkan di tulisan saya sebelumnya di sini.

Dari kasus D dan N. Kedua-duanya dalam keadaan ekonomi keluarga yang mampu, orangtua pun mendukung. Tapi ada hal fundamental lain yang sama mewahnya, yaitu masalah kemampuan. Hal ini nggak bisa dibeli.

Kuliah itu kayak cinta, nggak bisa dipaksakan. *Pada dasarnya.

Saya yang belum jadi orangtua kadang bertanya-tanya, apa memang tugas orangtua mengantarkan anaknya pada pendidikan setinggi-tingginya?

Apa benar poin itu yang paling penting?

Wajar jika orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi bukankah tugas orangtua yang paling penting adalah menemani anak-anaknya meniti jalan yang mana anak tersebut mampu berkembang menjadi versi terbaiknya?

Bukan versi orang lain.

Maka urusan kuliah bisa cocok-cocokan sekali, udah kayak skincare.

Tapi itu sih cuma pendapat saya saja. Cuma pemikiran saya saja.

Orang-orang kayak D dan N itu pada dasarnya adalah manusia-manusia yang baik. Pikiran mereka bahkan nggak pernah sampai untuk berperilaku buruk pada oranglain. Kalau orang yang terpelajar belum tentu outputnya jadi orang baik. Nahh mereka-mereka ini langsung di jalan tol untuk jadi orang-orang yang tulus.

Buat kalian-kalian yang bisa punya IPK tinggi-tinggi itu, bisa debat sengit saat diskusi di kelas, bisa selesai kuliahnya tanpa kendala yang berarti. Itu juga kemewahan.

Dan tulisan soal kuliah, masih bakalan berlanjut. Tunggu sob.

*kayak pembacanya nungguin aja hih.

 

7 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment