Cerita Momo Cuma Nulis Aja Bisa Kuliah Adalah Suatu Kemewahan

Bisa Kuliah Adalah Suatu Kemewahan

Bisa Kuliah Adalah Suatu Kemewahan – Saya mau cerita. Kisah nyata, mungkin akan dibagi menjadi beberapa bagian.

Saat saya SMA, di hari pendaftaran itu saya bilang ke V tentang niatan untuk masuk IPS karena saya demen sama mapel ekonomi. V saat itu bilang ia akan masuk IPA.

Begitu hari pemilihan tiba antara IPA dan IPS. Saya memilih IPA karena teman-teman saya banyak yang milih ke sana. Begitulah saya remaja yang mudah dipengaruhi oleh ketakutan nanti nggak ada temannya. Padahal cinta diam-diam itu menyala di jurusan IPS.

Diterimalah saya di jurusan IPA. Masuk kelas XI.

Pagi itu nampak ada desas-desus. Bahwa W teman saya di kelas X yang jelas-jelas tertera masuk IPS akan masuk IPA.

Ternyata benar. W masuk di kelas saya, XI-IPA3. Pada hari sebelum benar-benar masuk kegiatan belajar, saya sempat melihat ayah dari W di sekolah. Beliau nampak sibuk dan mimiknya serius setelah bicara dengan guru.

sumber: pixabay

Konon, Ayah dari W ngamuk-ngamuk karena anaknya masuk IPS. Tapi kebenaran Ayah W ngamuk atau tidak masih tidak bisa dipercaya, yang ada hanyalah fakta bahwa W kini masuk kelas IPA, bukan IPS yang tertera di amplop saat bagi rapot kenaikan kelas.

Inisial nama saya di awal adalah T, secara urutan T dan W itu cukup dekat. Hal ini membuat saya sangat tahu bagaimana W menghadapi lembar-lembar ujian saat ada tes di sekolah. W biasanya nyontek di temannya V. Hal itu berlangsung sampai tiga tahun, kelas X sampai XII. Pokoknya langganan nyontek. Sampai-sampai W menjanjikan V makan pizza di PH saat hari ultahnya. Namun hal itu tidak pernah terjadi.

W memang anak orang berada. Kedua orangtuanya punya pekerjaan tetap dan bisnis rotan. Ibunya ASN di dunia kesehatan, sementara ayahnya anggota Polri. Ia juga anak bungsu dari dua bersaudara. Rumahnya dekat dengan sekolah, seringkali ia jalan kaki ke sekolah atau kadang naik motor gedenya. *pokoknya gede, bukan mio.

Kalau diingat kembali, W adalah sosok yang dibilang santai sekali. Semua tugas sekolah ia santai kerjakan karena bisa lihat teman.

Oke. Mari simpan pengetahuan kalian tentang W.

Saya akan perkenalkan satu nama lagi. Sebut saja S.

S adalah penampakan yang berbeda dengan W. Rumahnya jauh sekali dengan sekolah. Sangat jauh. Tapi S pergi ke sekolah naik sepeda sampai lulus. Kebiasaan S adalah membawa air minum di botol aqua yang botolnya sudah mulai kusam karena sering diisi ulang. Pokoknya beda dengan botol minum zaman sekarang. S menggunakan botol minum seadanya.

S anak sulung. Ia punya beberapa adik yang masih kecil. Soal sepeda yang digunakan S pergi ke sekolah juga bukan karena alasan keren-kerenan yang pamer sepeda bagus. Sepedanya sangat biasa. Ia melakukannya demi menghemat ongkos. Panas atau hujan, yang dilakukan S tetap dengan mengayuh sepedanya.

Di kelas, S menjabat menjadi ketua kelas satu tahun, kalau nggak kelas XI, kelas XII. FYI dulu yaa. kelas kami nggak berubah untuk kelas XI dan XII. Bahkan ruangannya pun tidak pindah. Kami bersama orang yang sama dan ruangan yang sama selama dua tahun.

Cara menghemat ala S juga ada-ada saja. S jarang memfotocopy catatan sebagai cara praktis. Ia akan mencatat satu demi satu yang perlu ia catat. Lagi-lagi soal masalah uang yang ia miliki cukup tipis.

Tapi Tuhan kasih S otak yang cukup cemerlang. Ia pandai di hampir semua mata pelajaran, yang paling mencolok adalah bahasa inggris dan matematika. Nilai di rapot pun sungguh indah-indah.

Rajin, tidak pernah malu akan kekurangannya, tidak gengsi, dan juga teman yang banyak tersenyum. Itulah S.

Waktu berlalu…

W masuk FKG di salah satu universitas swasta di bandung. Ia berhasil menamatkan studynya, dan sudah jadi dokter. Penampakan fisiknya juga berbeda, yang dulunya gemuk sekarang menjadi kurus. Ia banga sekali di bio twitternya sebagai dokter muda.

Jika mengingat sepak terjangnya di masa lalu. Bagaimana untuk masuk IPA saja, ayahnya harus datang ke sekolah. Bagaimana untuk sekadar ujian saya ia menyontek sepenuhnya pada temannya V.

Dan S kini menjadi pedagang es buah di alun-alun.

Saya tahu dari teman lainnya. Sempat ngecek instagramnya dan ia nampak mempromosikan jualannya.

Mengingat kepintarannya. S tidak punya akses yang cukup baik untuk mendapatkan pendidikan ke yang lebih tinggi. Padahal saya yakin ia mampu akan itu. Pokoknya dibanding saya yang biasa aja ini, nggak ada apa-apanya pokoknya.

Di jalanan, saat saya punya kesempatan lewat alun-alun. Saya melirik ke tepi. Sebuah gerobak es buah yang tidak jualan. Padahal kalau jualan, saya mau beli dan sekadar sedikit menyapa teman lama.

Lama tidak jumpa juga, mungkin sudah lebih dari satu dekade. Kira-kira kalimat apa yang saya ucapkan ya?

Huh…*tarik napas.

Kuliah itu memang kemewahan bagi sebagaian orang. Bahkan bagi saya (nanti saya ceritakan kapan-kapan). Orang-orang mungkin bisa bilang ya cari beasiswa dong!!

Nyatanya dibeberapa orang, beasiswa juga merupakan kemewahan juga.

W tentu saja ada dalam keadaan ekonomi yang baik, orangtua yang mendukung. Entah bagaimana ia berkuliah, yang jelas saya yakin ia juga berusaha hingga mendapatkan gelar. W hadir sebagai wujud bahwa “start” manusia memang beda-beda, salah satu hal penunjangnya adalah keberadaan uang. Selama kamu ada uang yang cukup, kamu bisa mendapatkan akses yang baik, salah satunya adalah akses pendidikan.

Sementara S yang hidupnya dekat dengan keterbatasan meski punya kemampuan harus cukup puas menamatkan SMA saja.

Hidup suka begitu.

Mungkin seringkali begitu.

Kalau kesuksesan seseorang hanya diukur dari bagaimana dia menamatkan sekolahnya, penghasilan dan jabatannya. Dunia akan mengerikan sekali. Lebih mengerikan dari fakta botol kemasan sirup marjan makin kurus kayak diet habis-habisan.

Diakhir tulisan. Semoga W menjadi dokter yang baik. Semoga S tetap murah senyum dan gampang bahagia kayak dulu.

4 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 Comment

  1. Lagi-lagi masalah privilege ya Kak,
    Makanya kalau ada orang yang udah dikasih privilege ga dimanfaatin sama sekali itu rugii banget, rasanya pengen ku tampoll

    -tertanda, orang yang gak punya privilege juga wkwkwk