Cerita Naik Angkot

Cerita Naik Angkot  – Om Deddy pernah nanya ke Ivan Gunawan kapan naik angkot. Kemudian Deddy malah menjawab sendiri kalau Ivan Gunawan memang sudah terlahir kaya. Jadi, kayaknya nggak pernah naik angkot. Beda dengan dirinya yang saat sekolah naik angkot.

Begitu dekatnya angkot ini di dalam kacamata manusia dengan kemiskinan.

Makanya, kini saya tahu kenapa kalau orang punya uang lebih, yang dipikirkan itu untuk membeli mobil. Tidak semuanya begini. Tapi pada kenyatannya di lingkungan saya demikian.

Sebagai orang yang hidupnya lebih dekat ke kemiskinan daripada kekayaan soal materi. Saya kerap kali menggunakan angkot sebagai sarana transportasi buat pergi ke kota.

Bukannya tidak ada kendaraan sendiri, bukannya nggak bisa bawa kendaraan sendiri. Tapi memang ada semacam dorongan untuk naik angkot.

Meski di angkot juga ada saja kisah tidak mengenakan. Tapi dorongan naik angkot itu terus ada. Mungkin seperti dorongan anak-anak yang ingin naik odong-odong sambil disuapin sama Emaknya.

Kalau pertanyaan kapan terakhir naik angkot. Belum lama, rabu kemarin. Saya ke kota untuk acara makan-makan bersama teman-teman.

Keadaan Sebelum dan Sesudah Pandemi

Sebelum pandemi, naik angkot itu sudah sepi angkutan. Sejak ada pandemi apalagi. Pernah suatu ketika saya naik angkot cuma dua orang yang naik. Sudah serasa angkot sendiri.

Tapi malah serem jadinya. Sepanjang jalan, saya berdoa semoga sampai tujuan dengan selamat. Bahkan berdoa supaya ada penumpang lain yang diangkut.

Setelah pandemi, masih sama sepinya. Ada lima orang yang diangkut, itu sudah mendingan.

Sebelum Naik Angkot

Naik angkot itu pokoknya jangan sampai mencolok penampilannya. Pokoknya jangan sampai seperti Melly G atau Lady Gaga.

Jangan.

Tidak menggunakan perhiasan berlebihan juga harus. Karena rawan kejahatan. Jadi, tidak boleh tuh pura-pura jadi Ibu-Ibu India. Jadilah, tidak terlalu bersinar. Cukup matahari saja yang bersinar di hari itu.

Tidak usah pakai sepatu aneh-aneh. Pokoknya yang enak buat naik turun aja. Sendal juga boleh. Atau lebih tepatnya sangat disarankan.

Disaat Naik Angkot

Lho ini kok jadi tulisan tutorial naik angkot ya?

Eh nggak juga.

Saya mengingat diri saya yang naik angkot kok jadi aneh sendiri.

Misalnya dalam kasus ternyata saya lebih banyak berdoa. Doanya juga bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain yang bahkan tidak dikenali. Orang asing. Betapa saya yang kalau makan saja suka lupa berdoa malah getol mendoakan yang lain. Kok saya bisa begitu?

Agaknya. Naik angkot ini tanpa sadar mengajarkan tentang melembutkan hati. *gosok pakai rempelas.

Ada lagi ketika melihat wajah ibu-ibu tanpa senyum, mukanya kusut, ribet bawa dagangan. Saya bantuin geser-gerer dagangan. Ibu-Ibu ini konsisten cembutnya minta ampun, asem banget pokoknya. Saat Ibunya pergi, saya doakan semoga yang kusutnya itu bisa ilang.

Semoga ada satu hal yang menyetrika wajahnya jadi rapi kembali. *gimana ceritanya ya?

Ketika Angkot Sepi

Kalau angkotnya sepi. Di dalam perjalanan saya sudah niatkan bayar lebih. Kalimat dalam konsep kepala saya adalah “Ambil aja kembaliannya, Mang.”

Dan pernah suatu ketika.

Saat uang sudah diberikan. Kalimat belum meluncur. Sang Mamang sudah meluncur seperti cahaya. Mamang pergi begitu saja.

Hati saya kesal bukan main.

Kalimat yang muncul dikepala malah. “Bajingan, asu.”.

Masalahnya di sini bukan uang. Kalau peristiwa memberi pada dasarnya adalah transfer dari A ke B. Itu sudah selesai. Baik mamangnya ngacir gitu saja. Atau dengan izin saya yang bilang, “ambil saja kembaliannya.”

Ternyata Sang Mamang mengambil hal lain. Yaitu momen.

Ada momen yang terlewatkan.

Kemudian kehilangan momen itu itu malah menimbulkan rasa kesal.

Ternyata, momen berbuat baik yang terenggut bisa membuat menderita. Bahwa mengizinkan orang lain berbuat baik adalah kebaikan juga.

Ah sudah.

Naik Angkot Itu…

Ternyata bukan sekadar pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kalau saya pikir, di dalam angkot, saya bisa memperhatikan jalanan dengan baik, karena pikiran tidak fokus untuk berkendara.

Naik angkot itu biasanya sering dapat cerita-cerita menarik. Mulai dari mencuri dengar obrolan anak SMP tentang kekayaan, muda mudi yang gandengan tangan terus nggak lepas-lepas sampe saya kira kembar siam, Kakek-Kakek yang bawa ayam dan mau ke dokter hewan, ada juga pertemuan dengan orang-orang tak terduga.

Macem-macem pokoknya.

Jadi. nanti saya naik angkot lagi.

Pengalaman paling aneh naik angkot adalah… pas duduk di depan. Dikira istrinya Mamang angkot sama penumpang.

Kok?

2 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 Comment

  1. Aku sudah lama banget ih gak naik angkot. Dan memang kalau naik angkot pas sepi, apalagi penumpangnya cuma kita doang, itu bikin ngeri banget. Langsung teringat cerita-cerita seram yang kayak di Patroli atau di koran semacam Lampu Hijau. Sepanjang jalan dalam hati tidak berhenti baca doa. Wkwkwk.