Dari Angon Bebek sampai Pelihara Blog

Dari Angon Bebek sampai Pelihara Blog – Saya ini orang kampung. Tinggalnya juga di kampung. Jadi kalau ada yang ngatain saya “kampungan”, saya nggak akan marah. Karena itu adalah kebenaran yang hakiki yumarih…

Ditulisan ini saya mau kasih pengalaman angon yang dipaksa saya sambungkan dengan pengalaman saya ngeblog. Kayak gimana jadinya? Yasuda baca saja Ferguso.

Karir angon bebek dimulai saat saya masih kelas 6 SD. Gpp yoo disebut karir, walaupun kalau di cek di KBBI, itu sama sekali nggak pantes disebut karir.

Suatu pagi, ada mamang-mamang yang jualan anak bebek lewat. Entah kesurupan apa, langsung saya berhentikan dengan kalimat “Mangggg tukuuuuuu manggggggg.” (mang beli mang, gitu dah artinya).

Penggalang dana pun langsung saya panggil (baca; Emak) untuk bayar ke Mamang Bebek. Berhubung Sang Penggalang Dana punya kemampuan negosiasi yang kuat seperti Semen Gresik, jadilah saya dapat dua bebek betina seharga dua ribu lima ratus dan satu bebek jantan seharga seribu perak saja.

sumber gambar ; pixabay

Tiga anak bebek ini saya bawa ke kebon belakang dengan hati riang ke langit itu peeman peemann… namanya peeman….kupanggil dia peeman suaranya riang… *wah maapkeun malah nyanyi. *udah kek saeful jamil yang dikit-dikit nyanyi aja.

Karena belinya dadakkan, tiga bebek saya ini dikandangin di kardus indomie. Cukup lama juga ngekos di kardus sampai mereka udah mulai tinggi dan nggak muat lagi di kardus. Saya masih ingat setiap sore cari kardus indomie dan bikin bolongan buat napasnya si trio macam ini. *yha yhaaa… saya tahu mereka anak bebek. Tapi nggak apa-apa kan disebut trio macan?

Melihat tio macan yang sudah besar, akhirnya Penggalang Dana (baca; Emak lagihhh) memerintahkan kepada anak buahnya (baca ; kakak saya) untuk bikin kandang. Trio macan pun udah ngekos lagi. Mereka sudah punya rumah karena job manggung udah mulai banyak. *eh

Seperti Kata Emak, Manusia itu Nggak ada “Pinggirnya”

Selang tak berapa lama, saya malah beli anak bebek lagi. 4 biji. Hahahhaha… jadi total ada berapa? Ada tujuh. Yaakkk betul sekali Ferguso memang cerdas!!!! Jadi mari kali ini sebut saja tujuh bidadari dari kayangan. Yha… yhaa… saya tahu mereka bebek. Hanya “sebutan” kok.

Kenapa Malah Beli Lagi Hah????

Tak lama juga. Sekitar beberapa 2 bulanan. Emak saya beli anak bebek banyak banget. Sampai mungkin sebutan yang tepat adalah “Para Netizen yang Budiman”. Begitulah.

Tapi nasib netizen yang budiman ini nggak lama. Karena diserang oleh tikus besar dan sebagian besar banyak yang mati. Mereka mati muda.

Masa-masa suram bersama para penyitas…. *yhaa bebek yang idup.

Kakak saya yang tadinya rajin ngurusin para netizen yang budiman, mendadak lepas tangan dan nggak mau ngurus lagi. Akhirnya, sayalah yang ngurus bebek yang tersisa dengan jumlah yang…. yhaaa segitulah saya lupa persisnya. Tapi, hari-hari berikutnya tak kalah suram, karena bebek yang luka akhirnya mati juga.

Sampai akhirnya, entah nasib apa. Yang hidup hanya bebek-bebek asli milik saya yang memang sudah besar duluan dibandingkan para netizen yang budiman. Hanya tujuh bidadari yang bisa bertahan. Tanggung jawab auto ada di saya. Harus beli dedak setiap dua sampai tiga hari sekali. Juga sesekali iseng cari ikan kecil di kali buat makanan tambahan para bidadari.

Dan di tahun yang sama pula… Malah PELIHARA AYAM JUGA!!!! Awalnya cuma punya sepasang. Kemudian jadi banyak. Sampai bikin kandang lagi.

Sampai kapan punya ayam dan bebek?

Sampai SMA kelas 10.

Tanggung jawabnya adalah sebelum sekolah harus buka kandang dan ngasih makan. Ketika sore pun harus menggiring mereka untuk pulang ke kayangan (baca; kandang) dan kasih makan lagi.

Cukup mudah ya??? tapi nggak semudah itu.

Ketika musim flu burung. Ayam banyak yang ngantuk dan mati mendadak. Ada juga yang dicuri. Nyurinya nggak tanggung-tanggung. Satu kandang bisa ludes. Tapi, pencuri ini nggak pernah nyuri bebek saya. Mungkin karena permintaan di pasaran nggak sebaik kebutuhan terhadap ayam.

Terkang saya jadi sok-sokan jadi dukun hewan. Kenapa dukun? Karena dokter kan harus sekolah tinggi dan mahal. Jadi dukun aja dah ya.. wkwkwk. Demi melancarkan aksinya menjadi dukun ayam dan bebek gadungan, saya meracik obat warung berupa, oskadon,ultra flu dan entahh apa aja yang ada, dijadikan puyer dan dipaksa tuh para ayam dan bebek minum obat.

Beberapa diantaranya sembuh, walaupun yang mati pun ada.

Wabah sakitnya para unggas ini akhirnya bisa reda. Sampai akhirnya mucul lagi dan lebih parah sampai bebek saya ikutan mati. Hanya menyisakan dua bebek. Sampai akhirnya nasib Dou Racun ini masuk di panci presto. Tydakkk… yang makan tydakk mati. Duo Racun hanya sebutan. Mereka tetap bebek.

Tamatlah sudah karir anggon bebek dan ayamnya. Saya pun jadi dukun yang gagal.

sumber gambar ; pixabay

Dapat apa saya dari angon bebek dan ayam?

Saya kecil, nggak pernah punya target jadi juragan bebek yang kemudian main FTV di Indosiar. *eh. Lewat pengalaman langsung, saya tahu bahwa bebek adalah unggas yang tidak mengerami meski mereka bertelur. Dan saya nggak pernah mencoba menetaskan telur-telur bebek saya dengan cara apapun. Telur bebeknya kebanyakan dibuat telor asin atau dimasak.

Kalau ayam. Karena beranak pinak, beberapa diantaranya berakhir dengan dimasak oleh Emak. Nggak ada istilah jual beli di sana.

Yang Paling Saya Senang!!!! Yang Paling Nggak Enak!!!

Bagian paling menyenangkan dari punya hewan peliharaan adalah pas ngasih makan. Ketika saya ngaduk makanan dan mereka berkumpul mendatangi saya. Bisa ngasih makan makhluk lain itu menyenangkan.

Makanya kalau menu makan di rumah adalah mereka-mereka ini, saya nggak mau makan. tbtb nggak doyan aja. gpp kalau yang melihara bukan saya. Tapi kalau saya??? TIDAK. SAYA NGGAK TEGAAAAA. Kalau telur sih saya mau makan.

Hitungannya tahunan ya? masa kanak-kanak saya diisi dengan memelihara mereka. Suka duka sudah dirasakan. Saat musim hujan dan harus menggiring mereka ke kayangan, saya masuk “blumbang” karena lupa di situ ada “blumbang” cuy. Semua permukaan tanah ditutupi air. Saya tertipu dan masuk ke kubangan yang cukup dalam. *basah semua daaahhh.

Masa sekolah saya juga kurang diwarnai dengan kegiatan ekskul. Alasannya, karena di sore hari harus ngurus mereka dari makan sampai pulang ke kandang dengan aman. Tapi saya nggak malu. Saya nggak malu bilang ke teman-teman lain nggak ikut kegiatan apapun yang menyita waktu sampai magrib hanya karena “ngandangi ayam dan bebek”.

Saya sangat nyaman walaupun menjadi berbeda.

Apa sekarang masih memelihara ayam dan bebek?

Bebek nggak. Tapi ayam masih. Tapi bukan saya yang urus. Saya sudah pensiun berurusan dengan unggas. Wkwkwk. Ayamnya diurus Bapak. Dan ayamnya Bapak lumayan nurut. Mereka kalau magrib pulang sendiri.

Hubungannya apa sama ngeblog lah?

Mari kita paksakan hubungannya sama ngeblog.

Begini.

Ternyata benar apa yang dikatakan Pangeran Cilik di bukunya yang ngehits itu. kalau nggak salah dia pernah bilang kalau orang dewasa suka sekali dengan angka.

Pangeran Cilik ngomel; orang dewasa ketika bercerita tentang teman baru, mereka tidak bertanya hal-hal yang penting seperti bagaimana suaranya, permainan apa yang disukai, apa suka mengoleksi kupu-kupu. orang dewasa akan menceritakan tentang berapa umurnya, berapa saudaranya, berapa gaji ayahnya, kemudian mereka merasa sudah mengenal temannya.

Begitulah… orang dewasa akan sulit membayangkan rumah dengan lantai merah yang dingin, jendelanya ditanami tumbuhan merambat dan di atasnya ada sangkar burung merpati. Namun, orang dewasa akan lebih mudah membayangkan rumah dengan harga milyaran rupiah.

Saya. Yang katanya sudah “dewasa” membenarkan apa yang Pangeran Cilik keluhkan.

Pada suatu forum blog, saya akan mudah mendapati orang yang mengatakan blognya gagal hanya karena mendapatkan jumlah pengunjung yang sedikit, sedangkan umurnya sudah tua. Tak jarang, mereka mencap dirinya sebagai pecundang karena tidak bisa mengelola blognya dengan baik.

Ahhh ada lagi yang begini. Ada yang menjual blognya karena alasannya CPC-nya kecil dan mau fokus ke blog dengan CPC gede aja. *ini maksudnya bayaran tiap klik ya.

Semuanya mematok pada angka. Akhirnya saya menanyakan pada diri saya sendiri. Apakah saya tipikal dengan mereka? simomotaro.com kalau begitu gagal dong?

Saya Kemudian Mengingat “Saya Kecil”

sumber ; pixabay

Anak SMA kelas 10 masih anak kecil lho ya. kalau sakit masih ke dokter anak .

Bebek yang terakhir hidup dan dimasak adalah Jambul. Saya sebut demikian karena di kepalanya ada jambul. Semacam daging menonjol yang membuat kepalanya seperti berjambul. Kata Mamang yang jual, Jambul ini cewek. Setelah gede jambul ternyata cowok. *hidup memang suka gitu guys. *eh

Jambul hidup dengan kaki pincang karena saat kecil diserang tikus besar seperti kasus Netizen yang Budiman di atas. alhasil, kaki jambul adalah bagian yang dibuang dan tidak dimakan. Saya ingat. Semuanya dengan jelas. Bahkan bagian jambulnya dibuang.

Mungkin, pada kacamata orang dewasa yang suka angka. Saya gagal dalam angon bebek dan ayam. Tidak berkembang. Hasilnya mana? Bertahun-tahun perlihara bebek dan ayam kandas begitu saja.

Tapi saya kecil sama sekali nggak sedih. Saya menerima dan tidak pernah punya target dengan angka. Entah itu berapa telur yang bisa dihasilkan. Entah itu berapa daging yang dihasilkan. Saya hanya mengusahakan Jambul dbb, daa (dibaca; dan bebek bebek, dan ayam ayam, masa iya nulis dkk kan?) bisa makan dan aman dalam kebon/kandang. Konsekuensi logisnya saya punya telur dan daging dari mereka.

Ketika Saya Juga Suka Angka Sebagai Bloger

Saya dulu pernah sekadar bertanya pada salah satu teman. “Bisa nggak ya tampilan blognya nyampe 10k perhari?”

Baca juga ; Cara Mengurangi Kecanduan melihat ituh….. statistik blog.

Karena fokus di situ. Saya jadi suka banget lihat lalu lintas penunjung. Bahagia dan tidaknya saya adalah atas banyak dan sedikitnya tampilan blog yang saya miliki. Lucunya, saya nggak bahagia berapapun tampilan blog yang sudah saya lalui. Sedikit atau banyak. Wkwkwkwk…

Kemudian saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Atau angka-angka memang tidak seru apa gimana? Rasanya ada yang kosong.

Sampai saya mengingat anak kecil itu.

Anak kecil yang hanya suka peliharannnya makan dengan baik dan punya perlindungan. Anak kecil yang menerima tidak menerima apapun, kecuali kedamaian.

Jadi. Ingin aku katakan. SEO? Kata kunci? Target pengunjung.

MASA BODO. SAYA TAHU LIKA LIKU NGEBLOG MEMANG KEPARAT. SAYA CUMA MAU MENULIS.

Nanti. Jika tiba saatnya, aktivitas ngeblog hanya sebuah kisah dimasa lalu. Saya akan menceritakannya kembali dengan bahagia dan lapang dada.

Catatan ; tahukan kamu yang bunyi wek wek wek hanya bebek betina? Bebek jantan bunyinya khhhh khhh khhhh?

*draft lama. Keluar juga. Menulis memang butuh keberanian. Dan saya akhirnya menulis ini, setelah mencoba berbagai macam hal. ternyata saya tipikal bloger minimalis. heu.

You May Also Like

11 Comments

  1. wkwkwk. cerita ttg bebek dbbl menghibur. kenapa anak bebek betina lebih mahal dibanding jantan ya mbak? beda 250.
    pernah dengar rumor kalau bebek itu dikasih makan aja bisa bertelur, tanpa jantan, kayak ayam petelur. bener ora sih ?

    btw, kubaru tahu kalau yang suka bunyi wek wek wek itu betina heuheu

    1. beda sewu mangatus dong ikha…
      soalnya bebek betina bertelur. wajar mahal.
      waaaahhh rumor ini keknya masih simpang siur. soale bebek-bebekku tydack jomlo gitu.

      1. lo itu kukira dua ekor 2.500, ternyata seekor ya.

        wkwkwk, oke rumor perbebekan ini tidak meyakinkan.

        ayo ternak lagi mbak. ganti ternak sapi, biar bisa minum susu sapi tiap pagi.

        1. nggak punya lahan. kayaknya itu lebi ena di padang rumput. kayak peternakan di tipi-tipi.

          hewan ternah sapi/kambing kalau dipelihara dekat perumahan nanti diamuk masa.

          ternak blog ajalah 😌😌😌

          1. btw jd ingat di perumahan Surabaya masih ada sapi dan kambing yg berkeliaran di jalan. karena g ada lahan kosong jg buat nggembala. banyak warga yg protes kemana-mana sampai ke radio.

            okelah, ternak blog aja. biar tiap bulan panen 😚

          2. iyooo. pernah akutu pernah lihat rombongan kebo juga di jalan-jalan. semua kendaraan diam. seakan ada rombongan pejabat.

            😆 huaaahhh iyooo panen diakhir bulan. wkwkw

  2. Dan aku juga typikal blogger dengan angka-angka itu, rasanya aku harus lihat film little prince itu lagi deh.
    makasih mbk momo, udah mengingatkan

    1. Kalo saya pernah angon kambing dua ekor.. lumayan tuh kambingnya sampai jinak. Lah piara setahun untungnya 75 rebu doang selisih harga beli dan jualnya.. huhuhuhuuu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *