Cerita Momo Ngomongin Kesehatan Dermatitis Atopik Sepanjang Hayat?

Dermatitis Atopik Sepanjang Hayat?

Dermatitis Atopik Sepanjang Hayat? – Belum genap usianya satu minggu sudah punya masalah kulit di bagian lipatan leher. Warnanya kemerahan, bersisik, dan seolah-oleh seperti leher yang habis “digorok”.

Siapa dia?

Saya. Waktu bayi. Begitu kata Ibu saya.

Sepanjang Sejarah Kanak-Kanak

Ada anak namanya Aziz yang satu SD dengan saya. Entah bagaimana dalam beberapa situasi, ia sering ngatain saya dengan “macan tutul.”

Seringkali saya dirundung karena masalah kulit dan bekasanya yang sangat nampak. Biasanya di tangan atau di kaki.

Kena rumput yang basah, bisa bikin kaki saya gatal-gatal.

Ada momen dimana digigit nyamuk sudah jadi masalah sebab nanti jadi bentol, kemerahan, dan berisi air.

Saya sering cantengan.

Saya sering kena bisul.

Bagian lipatan di sudut bibir pernah sangat kering, mengelupas, sampai berdarah.

Tangan saya juga sering mengelupas sampai kemerahan.

Ke Dokter Spesialis Kulit

Adalah “jajanan biasa.”

Yap.

Level sakit kulit saya adalah dokter spesialis, sampai banyak sekali tahu dokter spesialis kulit.

Faktor Genetik

Begitulah penyebab internalnya. Meski penyebab eksternalnya bisa macam-macam dari debu, salah skincare atau bahkan digigit serangga.

Faktor keturunan memang tidak bisa dielak. Saya punya “setinggan pabrik” di bagian kulit yang berbeda dengan orang normal kebanyakan.

Manusia menghasilkan kelembaban alami yang dihasilkan tubuh. Tubuh saya tidak memproduksi kelembaban yang cukup. Sehingga banyak masalah yang sering muncul.

Saat usia bayi sampai anak-anak memang lebih sering dalam pengalaman saya. Hal itu karena sistem imun anak-anak belum terbentuk sempurna. Namun, ketika dewasa, masalah kulit tentu saja tidak pernah benar-benar hilang.

Timbul dan tenggelam dengan tempat yang berbeda.

Saat tulisan ini dibuat, saya merasa gatal dan punya bintik-bintik kemerahan di bagian kaki, paha dan punggung.

Eksim sedang eksis di tubuh saya.

Urusan Produk yang Dipakai

Menjadi sangat pemilih.

Sabun yang mengandung antiseptik, pewangi menyengat, yang bikin kering adalah yang harus benar-benar saya hindari.

Saya juga sebenarnya tidak boleh mandi lama dan sampai bikin kering. Kalau mau nggak ketemu sama “kumat” di masa depan.

Kemana-mana memang harus bawa produk sendiri.

Yaah nggak bisa tuh pakai sabun gratisan kalau lagi jalan-jalan dan menginap entah di mana.

Mimi dan Bapak

Kemarin saya berobat.

Abisnya banyak menurut kantong saya. Ada nominal “juta”. Hanya untuk mengatasi kulit saya yang lagi kumat gatalnya.

Tidak pakai BPJS karena nggak bisa.

Kebanyakan obatnya racikan dan ada krim pelembab yang memang sudah tahu kalau harganya memang cukup mahal.

Huh.

Yaklik dokternya mau kasih rujukan dari faskes satu.

Saya mendadak “melow galau”. Betapa ribetnya punya anak seperti saya. Punya dermatitis atopik yang memang tidak mematikan, tidak menular, tapi tidak bisa disembuhkan, akan ada kambuhan sepanjang hayat jika tidak dijaga perawatannya dengan baik.

Pas remaja tangannya harus dijahit malah jahitannya tambah parah dan harus ke SPKK lagi. Pernah juga gatal sebadan, biduran ketika dingin dan masih banyak lagi.

Orangtua saya selalu kasih yang terbaik yang bisa mereka kasih.

Masih terpelihara dengan baik dalam ingatan kalau dulu pernah jual sepeda buat nambah uang berobat.

Kemarin, pulang dari berobat naik gojek. Di lampu merah mendadak menangis.

Baru sadar ternyata sepanjang hidup. Banyak sekali merepotkan orangtua. Orangtua mana yang tidak khawatir punya bayi dengan banyak masalah seperti saya.

Dokter Menjelaskan

Ibaratkan bamper mobil, bamper saya kecil.

Ibaratkan pelindung di lapisan layar ponsel, punya saya tipis.

Saya punya kelembapan yang kurang. Memang sudah begitu yang Tuhan kasih. Hanya bisa dijaga agar tidak kambuhan.

Adalagi pendapat yang bilang. “kulitnya memang butuh perawatan sultan.”

Agak nggak salah sih. Karena nyari produk keseharian untuk kulit yang kena dermatitis atopik rata-rata memang tidak murah. Belum lagi interval konsul jika ada masalah.

Yha semoga saja. Rezeki saya rezeki sultan.

2 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *