Di Tengah Kesedihan dan Kebahagiaan

*semacam sebuah tulisan untuk diri sendiri. itu saja.

Sebuah amplop coklat berisikan tiga lembar kertas ukuran A4. Saya baca bolak-balik, tidak ada kabar bagus dalam lembaran-lembaran itu. Dokumen itu setidaknya sudah sah menurut spesialis kedokteran jiwa dan psikolog. Tertulis pada kesimpulan kalau A mengalami stres berat yang bisa mengganggu aktivitas kesehariannya.

Siapa A?

Dia seseorang yang saya kenal. Saya tidak akan bilang siapa demi menjaga privasi.

Saya terdiam sambil melipat kembali kertas-kertas itu dan memasukkan ke dalam amplop. Mengingat apa yang terjadi belakangan pada A, atau lebih lama. Kemudian dari tiap kata maupun kalimat dalam amplop itu memang demikian adanya.

Tidak bisa disangkal.

Menarik napas panjang. Mata saya sudah berkaca-kaca. Kemudian ingat salah satu kalimat dalam drama korea; “Manusia hanya punya sedikit kenangan tentang kebahagiaan dan hidup dengan kenangan yang sedikit itu.” *lupa drama apaan.

Mari bicara tentang kebahagiaan (lagi).

Dulu, saya pernah nulis tentang tema ini. Saya agak lupa apa isinya. Apapun itu, kebahagiaan memang tema yang nggak ada abisnya, karena dicari dan didamba terus sama manusia.

Semoga bahagia dengan hidup barunya *biasanya nikahan. Semoga bahagia dengan bentuk barunya *biasanya sunatan. Dan semoga-semoga lain yang dipadankan dengan kata bahagia.

Manusia yang mencari bahagia?

Mencari, sebuah kata yang lekat dengan sesuatu di luar diri. Kebanyakan memang begitu sih, nggak bisa dipungkiri bukan? Banyak yang bilang bahagia kalau sudah kaya raya, kerjaan bagus, terkenal, punya jabatan, mobil bagus, rumah bagus, pasangan setia, anak yang lucu, liburan yang menyenangkan, dan nggak tua-tua, bahkan nggak mati-mati tapi sehat terus.

Kemudian ada hal yang sering dihindari, yaitu kesedihan…. yang sering disangkal keadaannya. “saya baik-baik saja. Saya bahagia.” Begitu biasanya.

“Kamu apa kabar? Sudah bahagia hari ini?”

Ketika kesedihan mencari “wadahnya”

Saya pernah dikasih tahu salah satu teman bahwa A, B, C, D E suka banget umbar kesedihan di sosmed hingga dibilang baperan, galauan, dan lebay.

Masalahnya macam-macam, dari galau tidak juga dikasih keturunan, berantem dengan suaminya, duit ilang, marah sama jalanan macet, tentang ditinggal salah satu anggota keluarganya, bahkan kesal karena pesan kembang mawar dikasihnya kembang kol dan kembang tahu hingga napas kembang kempis.

Komentar para netizen beragam tentunya. Tapi percayalah, netizen yang tidak komentar secara langsung pada postingan biasanya menganggap bahwa A, B, C, D, E dengan nada sedikit nyinyir. Mentok A, B, C, D, E tadi dibilang raja dan ratu drama.

Sosmed bukan tempat yang “ramah” untuk membagai kesedihan.

Kemana kesedihan harus dibawa?

Apa pendapat kamu tentang orang yang dalam keadaan sedih hingga membutuhkan pertolongan para ahli? Misal berobat ke klinik poli jiwa di rumah sakit? Atau ngobrol dengan psikolog mungkin?

“Sakit jiwa ya kamu? Edan?” begitulah biasanya, langsung aja main cap gila. Padahal, para ahli butuh pemeriksaan menyeluruh untuk tahu apa yang terjadi pada pasien hingga mendapat penanganan yang tepat.

Ngobrol dong ngobrol…. sama teman, saudara, pacar, suami, istri?

Tahu nggak? Ada jasa curhat dan pendengarnya dibayar sama yang curhat? Dan yang curhat ini setuju untuk membayar. *cari deh, salah satu selebtwit pernah buka jasa curhat.

Sesusah itukah dapat pendengar yang baik?

Bisa jadi sih iya. Berkaca pada pengalaman saya, susah sekali menemukan pendengar yang baik. Ketika kita mulai cerita, alih-alih mendengarkan curhatan malah jadinya dia yang curhat. Keluarga? Beberapa orang saya yakin nggak semuanya menemukan ruang aman ketika bicara dengan anggota keluarga. Teman? Sahabat? Ada kalanya mereka sibuk dengan kehidupan dan masalah mereka sendiri.

Atau ketika mulai curhat, eehh nggak mau dengerin cerita saya. *yowes kan.

Ada momen bisa curhat, malah dikomentari dengan hal-hal yang kayaknya ngampangin. Jangan drama dan seneng-seneng lagi aja. *biasanya sih gitu.

Seolah kesedihan yang dialami adalah hal yang “iyuhhh banget.”

*makanya saya lebih suka nulis. Soalnya bisa lebih puas aja. *dan punya cita-cita jadi teman diskusi yang asoy buat anak-anak saya kelak *uhuk.

kebahagiaan
sumber pixabay

Kesedihan itu masih ada….

Kisah nesatapa itu masih ada di dalam dada. Terkadang kisah itu dihindari, tapi ketika ingatannya dipanggil kembali. Kesedihan itu muncul kembali. Seperti kabut gelap yang tiba-tiba muncul ketika Pelahap Maut akan muncul dalam serial Harry Potter.

Bahkan, manusia dengan sistem ajaibnya ini. Punya banyak kisah menarik bahwa kesedihan bisa muncul tanpa diketahui sebabnya. Seseorang bisa hilang semangatnya melakukan aktivitas sehari-hari hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidupnya.

Kesedihan yang ada pada hidup kita, entah itu jelas sumbernya atau tidak jelas sumbernya, sangat dekat dengan keseharian. Kesedihan bahkan bisa terasa lebih dekat dengan kebahagiaan.

Lalu, pertolongan macam apa untuk kisah-kisah nestapa ini? membangun kisah baru yang bahagia? Bagaimana jika kesedihan yang dirasa hilang malah diam-diam menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja?

Ketika saya sedih, saya malah menganggapnya tidak ada, dan itu malah…

Saya sakit saat itu. Saya tahu saya sakit. Selama satu minggu saya demam *naik turun. Tapi, deman itu saya “tolak” keberadaannya. Saya masih bekerja dan beraktivitas seperti biasa, minum pereda demam yang hanya mampu meredakan demam dalam beberapa saat kemudian mulai lagi.

Dan yha, opname juga pada akhirnya.

Tubuh saya memberikan signal ketidakberesan dalam tubuh lewat panas tubuh. Hingga di satu titik saya sudah tidak tahan lagi.

Nggak beda jauh ketika saya bersedih. Alih-alih menyadari bahwa kesedihan itu ada, saya malah menganggap diri saya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Tidak ada kesedihan. Tertawalah, buat lelucon yang bagus untuk kesedihanmu itu!

Sampai saya sadar. Saya nggak sembuh. Ketika sedikit saja mengingat “kata kunci” tentang kesedihan itu. Sedih lagi. Respon saya nggak bagus. Respon saya sama saja. Sedih.

Jadi, menampik adanya kesedihan bukan hal yang bijaksana.

Melupakan? Saya punya ingatan layaknya manusia normal. Jika ada tragedi yang saya benar-benar lupa, maka jalan satu-satunya barang kali adalah kerusakan otak. Saya nggak bisa lupa tentang kisah nestapa itu.

Ketika kesedihan adalah cara Tuhan “bicara”

Di salah satu sinau bareng Maiyah yang saya tonton, pernah ada pembahasan hal itu. Bahwa kesedihan adalah cara Tuhan “bicara”. Tuhan berkomunikasi dengan kita salah satunya dengan rasa.

Pun saya ingat, air tidak pernah menolak apa yang datang padanya. Manusia sebagian besar berisi air, maka menolak yang datang akan jadi pertarungan yang melelahkan kembali.

Saya memilih untuk menerima, termasuk menerima kesedihan. Tapi, saya juga belajar kembali berdialog dengan diri saya sendiri. Saya mencoba melihat sesuatu dengan apa adanya, menurut sifat aslinya.

Ketika saya sedih karena laptop tersiram segelas susu. Saya bertanya kenapa saya harus bersedih? sesayang-sayangnya saya dengannya, laptop adalah benda yang rusak jika dipakai lama, apalagi disiram dengan segelas susu. *egh.

Lalu, ketika bicara tentang meninggalkan dan ditinggalkan sampai bikin sedih. Tentunya saya bersedih. Tapi, lagi-lagi saya harus menanyakan kembali kesedihan saya.

Ditinggalkan hewan atau seseorang yang disayang memang bikin sedih. Tapi bukankah itu bukan kisah baru, hal itu dialami semua manusia. Kenapa saya harus sedih secara berlebihan?

Ditinggal mati? Semua orang akan mati.

Ditinggal karena entah kenapa? Bukankah seseorang yang menghargai kita tidak akan pergi? Untuk apa berlarut-larut dalam kesedihan?

Sedih karena nggak punya barang ini itu, yang merk ini itu, yang bisa ini itu? Emmm… bukankah kebutuhan asli manusia, pada dasarnya nggak banyak? Kenapa pula orang yang kaya raya itu tidak bisa menggunakan uangnya untuk membeli rasa bebas dari berkeinginan?

Jadi ingat salah satu nasihat lagi ; “Pakai kepalamu, hatimu itu selalu menampung sebanyak apapun yang datang padamu. Tapi kepalamu bisa berhitung. Dititik mana cukup itu berada.”

Penutup

Hidup emang nggak bisa bahagia terus. Hidup juga nggak sedih terus.

Tapi, saya sepenuhnya bertanggung jawab atas kesehatan mental saya sendiri.

Saya bertanggung jawab atas kesedihan saya sendiri. Saya biarkan kesedihan itu masuk dan mendekapnya, merasakannya betul-betul. Kemudian, saya mengizinkannya berlalu.

Sepanjang hidup, secara alamiah, nggak ada emosi yang bertahan selamanya. Hari ini saya bahagia akan sesuatu, esoknya belum tentu. Bahkan dalam keadaan yang relatif tidak jauh berbeda.

Sedih itu berapa lama? Satu hari? Satu minggu? Dua minggu? Tidak selamanya. Kenapa saya merasa terganggu seakan-akan kesedihan itu akan mendekam selamanya dalam dada?

Melihat sifat alamiahnya, sedih dan senang adalah peristiwa yang tidak datang selamanya. Tidak berlebihan atas kedua peristiwa mental itu akan membuat semuanya baik-baik saja. Bukankah tidak ada peristiwa mental yang benar dan salah?

sumber ; pixabay

Untuk kesedihan;

Karena kamu tidak akan menetap selamanya, kehadiranmu tidak akan pernah cukup menggangguku hingga ke dalam keterpurukan. Bahkan kehadiranmu lebih sering mendewasakan.

Untuk kebahagiaan;

Karena kamu tidak akan menetap selamanya , untuk apa saya mengejar-ngejarmu? Untuk apa saya mengatakan bahwa kamulah yang saya cari sepanjang hidup.

Akhirnya, saya belajar lagi untuk tidak menghakimi peristiwa yang menyangkut emosi. Alih-alih mengharapkan kebagaiaan dan dijauhkan dari kesedihan. Doa berdoa agar saya punya hati yang jembar.

4 komentar pada “Di Tengah Kesedihan dan Kebahagiaan

  • 09/09/2019 pada 10:11 PM
    Permalink

    Sepakat.
    Kesedihan memang tidak bisa ditolak, apalagi dilawan.
    Biarkan saja ia menyelusup masuk. Karena ia tak bisa dipisahkan dari kebahagiaan.
    Mau singgah sebentar, atau menetap lama, tapi tak boleh menguasai tempat yang dimasukinya.

    Balas
  • 10/09/2019 pada 12:11 AM
    Permalink

    Hidup kan memang seimbang antara kesedihan dan kebahagiaan. Untuk menyikapi kesedihan klo aku lebih ke bodo amat deh, I survive by being bodo amatan for the entire life.

    Balas
  • 10/09/2019 pada 3:14 PM
    Permalink

    Kesedihan pun “tertutup” setelah membaca kalimat penutup yang super wah ini 😎

    Balas
  • 11/09/2019 pada 11:10 AM
    Permalink

    Sosial media bukan wadah yang ramah untuk membagi kesedihan. Aku tercenung lama karena kalimat ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan