Ditampar Keras

Seorang perempuan, sudah menikah, berusia 40an tahun. Saat muda dulu, ia membayangkan dirinya yang berusia 40 tahun sudah mempunya satu atau dua anak, tinggal di pinggiran kota, menulis dan menerbitkan buku yang bertuliskan namanya sebagai penulis.

Apa kenyataannya?

Kenyataan menamparnya berkali-kali. Bayi yang ia kandung meninggal dalam kandungannya tanpa benar-benar ia sadari. Karyanya “diambil” orang dan harus cukup puas menjadi penulis bayangan yang dilupakan begitu saja. Segala populatitas atas karyanya bukan miliknya.

Ia kehilangan banyak hal dan merasa sendirian. Amarah hanya bisa ditangkap oleh orang terdekatnya. Padahal emosi yang paling jujur adalah bahwa ia sangat sedih.

Sedih sampai bergabung pada klub bunuh diri. Sebuah rencana mengakhiri hidup yang tidak ia lakukan pada akhirnya.

Perempuan itu punya ayah yang sering ia kunjungi. Sang Ayah membantu mencari uang dengan mengumpulkan kardus bekas. Sampai akhirnya, sang ayah berpulang, meninggalkan putri satu-satunya pada kehidupannya yang bahkan belum reda dukanya.

Pada hari kematian ayahnya, sang putri dengan kesadaran baru, ia percaya bahwa dalam hidup, yang penting adalah prosesnya, bukan ujungnya jadi apa.

Ia pun kembali menapaki hidupnya. Perlahan.

Kisah yang saya tulis di atas adalah sebuah potongan dalam drama korea yang judulnya Lost atau punya judul lain yaitu Human Disqualification. Sebuah drama yang tayang sepanjang september sampai oktober 2021.

Waktu dimana saya juga sedang berduka.

Masih berduka.

2021, menampar saya begitu keras.

Sama seperti Lee Bu Jung, saya juga ditinggalkan Bapak. Lalu harus berjalan kembali, karena esok datang lagi dan lagi.

Bajingan sekali.

Banyak hal tidak mengizinkan saya untuk bersedih. Tapi di banyak waktu, saya mudah bersedih. Perasaan yang tiba-tiba berubah kelabu begitu saja.

Saya bisa memangis di banyak kesempatan. Saat menyetir atau bahkan saat mengerjakan soal ujian MMPI.

“Ayahku adalah orang yang baik.”

Begitulah. Jenis soal seperti itu saya temui tidak sekali. Perasaan seketika ingin menangis, kadang mengganggu konsentrasi.

Saya bisa menangis hanya karena melihat mangga atau irisannya.

Saya tidak bisa mengupas buah mangga, karena sepanjang usia, buah mangga yang siap makan selalu dikupas Bapak.

Bahkan simpul yang terlihat ditumpukkan kardus, itu khas Bapak sekali.

Saya melihatnya dimana-mana. Kepala ini seakan mau meledak.

2021. Tidak hanya menampar saya pada kehilangan dan kehilangan. Tapi juga momen setelahnya, dimana tanggung jawab mulai menjadi besar.

Saya juga menjadi mudah marah.

Lalu.

Jika sepanjang usia saya bersama Bapak. Entah mengapa, saya tidak pernah benar-benar melihat Bapak bahagia. Hidup terlalu keras pada Bapak.

Keterlaluan sekali.

“Ayah, aku tidak menjadi apapun.” Itu kalimat Lee Bu Jung pada Ayahnya.

Saya juga ingin mengatakan sesuatu pada Bapak, “Bapak, saya lelah sekali. Lelah sekali tapi tidak bisa istirahat. Mereka dan semuanya tidak pernah mengizinkan saya sekadar bernapas lega. Apa harus menunggu kematian sampai saya benar-benar istirahat?”

6 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *