Ditolak Untuk Donor Darah

Ditolak Untuk Donor Darah – Urusan ditolak, sudah jamak dalam hidup saya. Jadi, tulisan ini hanya untuk buang sebel aja, atau secara teknis adalah buang-buang kuota. Semoga yang baca tidak buang-buang waktunya yang berharga.

Begini.

Sebuah pesan pemberitahuan sekonyong-konyong ada di grup telegram. Katanya di kantor desa anu ada PMI, acara donor darah katanya. Informan ini bilang dia ditolak kesembilan kalinya untuk donor darah. Belum pernah ia mencicipi satu kali pun darahnya disedot dalam labu.

Sebagai orang yang pernah ditolak sekali, diterima dua kali. Saya langsung tidak pikir panjang untuk ke TKP. Dengan pakaian yang seadanya banget, kaos dari giveaway zaman saya ngeblog gratisan di tahun 2017 dan saya pakai bareng celana hitam buatan Emak. Tidak lupa sendal jepit pemberian Bu Jul saat saya hujan-hujanan. Sendal jepit biru yang sudah butut itu, konon tidak usah dikembalikan kata yang punya. Sendal gratisan pokoknya.

*kalau ada tanya berapa harga outfit lo? Yang bener-bener saya bayar cuma daleman doang.

Beres dengan tampilan seadanya.

Ambil kunci. Mundurin motor. Langsung cus.

Tapi.

“INI AUL MAU LES SEKALIAN ANTERIN!”

Begitulah Mbak saya memperlambat saya yang sedang diburu-buru. Karena jam satu siang sudah kelar acaranya.

Okelah.

Aul saya anter ke tempat les dulu.

Di tempat les. Bu Gurunya bilang kalau Aul salah kostum. Hari ini ada pemotretan.

Yaaaah.

Makin lama saya nggak nyampe juga. Balik lagi ke rumah untuk bilang kalau Aul butuh seragam buat foto.

Heran. Kehidupan anak usia 6 tahun dalam hal sandang, rupanya lebih pelik daripada kehidupan saya.

Tambah buru-buru tuh.

Ngegas pokoknya. 10-15 menit nyampe tujuan.

Cukup Mlongo Lihat Kantor Desanya

Ruangan yang besar, tempat parkir yang luas, tempat yang bersih, ac yang dingin. Pokoknya kantor kepala desa terbagus yang pernah saya lihat.

Saya bisikin yak. Desa tersebut adalah desa asal mantan bupati yang korup itu. Adududu.

Buru-buru saya masuk ke belakang. Setelah isi data. Masih ngos-ngosan gara-gara buru-buru akhirnya saya sampai pada petugasnya.

Saya nimbang dulu. 47 kg.

Kemudian petugas melancarkan aksinya dengan kepo-kepo sesuai dengan tugasnya.

“Minum obat beberapa hari terakhir?”

“Oh nggak.”

“Sudah vaksin? Habis vaksin?”

“Belum.”

“Tadi malam tidur jam berapa?”

“Jam 11.30 malam.”

“Bangun jam berapa?” petugasnya sambil mengukur tensi.

Saya ingat-ingat bangun jam berapa. Belum ngomong setengah lima. Petugasnya bilang. “Wah nggak bisa mbak. Tekanan darahnya rendah. 90.”

Aigooo. Gagal niat saya mendonorkan darah dari tahap  urusan tensi saja.

Padahal Sudah Pede

Pede kalau bakalan diterima. Saya merasa badan saya oke-oke aja. Tapi kok tekanan darah rendah ya?

Masih ngos-ngosan akhirnya balik kanan.

Bubar.

Pulang-pulang puyeng.

Emang nggak beres badannya. Baru kerasa pegel-pegel khas kurang tidur.

Mau gimana lagi. Donor darah ini sama sekali tidak ada dalam rencana. Sehingga saya tidak mempersiapkan diri. Bakalan tidur lebih cepat, kalau ada pemberitahuan sebelumnya.

Karena penolakan donor darah sebelumnya juga akibat nggak bisa tidur. Menyebalkan sekali.

Mengingat-ingat Ngapain Aja

Jam 8 saya kelar nulis di sini.

Setelahnya lupa ngapain.

Malam jam 10 masih bahas bihun tapi bukan masakan, bahas kuliah padahal nggak kuliah, bahas Lee Min Ho, dan Yoo Ah In padahal nggak akan pernah memiliki salah satu diantara keduanya.

Ini Yoo Ah In. aaahh yaaakkk okelah pokoknya.

Setelah teman ngobrol pada bubar. Saya belajar. Baca-baca dikit.

Setelah belajar saya main game sampai 11.30. Itu pun dipaksa tidur. Kalau nggak. yaaa ngegame bae terus.

Begitulah…

Ketika menemui pun, tidak selamanya menemukan. Bahwa menemui dan menemukan adalah hal berbeda. Sebagaimana menemui petugas PMI untuk donor darah, tapi tidak menemukan diri saya mendonorkan darah.

Gagal untuk yang kedua kali.

Btw, donor darah itu ngangenin. Entah apa yang bikin kangen. Hanya saja beberapa alasan membuat saya tidak bisa donor darah rutin (abis operasi dan masalah lain).

Pokoknya menemui petugas PMI pun sudah tidak. Karena merasa tahu diri akan ditolak.

Begitu sudah pede kalau saya sehat-sehat saja.

Yaa begitu. Masih belum dikasih kesempatan.

Semoga lain kali.

Begadang memang tidak pernah cocok untuk saya. Sampai sorenya, puyeng nggak ilang juga.

Pernah ditolak donor darah? Apa ditolak yang lain?

2 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment