Followers (Sebuah J-Drama di Netflix) dan Sambatan

Followers (Sebuah J-Drama di Netflix) dan Sambatan – Sudahkah kalian sambat hari ini? yhaaa. Saya mau sambat. Tapi selain sambat, saya juga mau ngomongin salah satu j-drama yang ada di Netflix.

Nonton J-Drama di Netflix, Saya Jadi Ingin Ke Jepang Masa?

Corona woi corona…

Jepang digambarkan begitu warna-warni dalam drama ini. Penuh orang dengan ambisi, ingin yang terbaik dalam hidupnya meski jatuh bangun aku mengejarmu… namun dirimu tak mau… *bisakah kepala saya ini tydack dangdutan sekali-kali gitu?

Followers tayang di Netflix perdana pada 27 februari 2020. Sutradaranya adalah Mika Ninagawa dengan penulis yang disembunyikan. Durasinya pendek kayak rambut saya, hanya 9 episode.

Nggak cuy, rambut saya nggak sembilan helai. Tidak begitu.

Drama ini dibintangi oleh Miki Nakatani, Elaiza Ikeda, Mari Natsuki, Yuka Itasa, dll. Kenal nggak?

Saya sih nggak kenal. Mentok tahu Naomi Watanabe aja. Itu pun karena Naomi ada di iklannya SK-II. Itu lho, yang pakai SK II sambil beat box. Saya pakai SK II netes satu tetes aja langsung nangis. Sayang banget per tetesnya. Ahhaha.

Mengingat-ingat J Drama yang satu ini tuh…

Udah agak lama nontonnya, jadi, saya agak mikir keras.

Dikisahkan ada seorang gadis yang gagal terus ikut audisi untuk main film. Sampai akhirnya ada fotografer wanita yang terkenal memotretnya dan memasukkannya ke dalam instagram.

Mendadak, pengikutinya jadi banyak hingga dapat tawaran menjadi model. Jadi model kurang sreg, malah kena masalah dan banyak di hujat di media.

Sampai akhirnya mencoba membuat filmnya sendiri dengan kekasihnya yang seorang youtuber. Hingga akhirnya ada yang meliriknya. *Lho ini spoiler apa gimana?

Baca Juga Tentang Sex Education Seasaon 1 dan 2.

Tapi…….

Itu baru satu kisah. Ada kisah fotografer yang pengen banget punya anak dan mengurusnya sendiri. Doi nggak perlu suami guys ceritanya.

Ada cerita tentang wanita paruh baya yang melawan kanker payudara dan punya hubungan dengan lelaki yang jauh lebih muda.

Dan kisah lain, soal perempuan yang suka sama perempuan juga ada.

Sepanjang sembilan episode?

Sepanjang sembilan episode. Saya nonton cuma dua hari doang. Beberapa momen dalam drama ini juga begitu mengharukan. Yaaa ampooon. Lagi-lagi saya tuh nangis sebab nonton drama, nggak korea nggak jepang. Lemahnya hati hayati.

Kalau ngomongin dramanya. Saya bisa bilang bagus-bagus aja. Meski isinya kehidupan mewah dan nyentik abis. Beberapa hal bisa diambil, meski beberapa hal lainnya mending dibuang aja.

Mari Sambat Saja Soal Followers

Satu hal yang nempel banget di kepala adalah dalam drama ini, ada satu orang penyanyi yang selalu dihujat di sosmed. Walaupun ia bergelimang prestasi, ia juga bergelimang cacian. Hingga ia depresi dan susah banget buat menciptakan lagu.

Orang yang benar-benar ada di sampingnya berkata (kurang lebih), “kenapa kamu peduli sama omongan orang yang nggak kenal kamu? Kenapa nggak peduli aja sama orang yang selalu ada di samping kita.”

Sederhana sih.

Tapi bener juga.

Di hidup dengan ukuran selalu menjadi pertimbangan besar. Akan selalu ada rasa kecemasan. Cemas ditinggalkan pengikut yang sebenarnya nggak kenal sama sekali. Cemas dicap tidak disukai lagi setelah pernah ada dalam masa pujian begitu mengalir dengan deras.

Saya Agak Aneh Sama Orang yang Ingin Selalu “diikuti” di Sosial Media

Makanya kalau punya sosmed. Itu saya nggak banyak pengikut. Ada titik di mana saya merasa keberadaan saya di sosmed itu nggak usah deh untuk diikuti. Buat apa? nggak guna juga ngikutin saya.

Ini bukan merendah untuk meninggi ya. Kalau ada keinginan untuk difollow biar nggak 0 aja pengikutnya. Saya nggak bisa mengerami angka 0 supaya dia pecah.

Misalnya, saya bikin twitter (lagi). Saya ngerasa twitter saya gunakan untuk sekadar cari informasi saja. Cari berita update atau cari barang incaran yang pengen banget dibeli. Selebihnya paling isinya keluhan di jasa pengiriman atau marketplace.

Adanya atmosfer sosial media kayaknya nggak begitu kompatibel sama diri saya.

Aneh lho punya pengikut itu, misalnya begini, untuk kasus blog dengan tema tertentu. Pembaca yang biasanya mampir, kadang suka nyuruh-nyuruh gitu. Misalnya suruh begini dan begini biar dia tetap langganan baca.

Duh ileeeeeee…

Kenapa jadi disuruh-suruh sih?

Ini saya punya blog supaya lebih punya kebebasan aja dalam ngebacot. Kenapa nyuruh-nyuruh sih?

Followers Juga Bentuk dari Kekuatan, Tidak Bisa dipungkiri

Yang bisa dipungkiri itu cuma perasaan kamu sama doi aja Sob, hal kayak followers nggak bisa dipungkiri keberadaannya.

Di drama yang saya bicarakan di awal juga menunjukkan bagaimana hanya karena sebuah foto dan caption dari fotografer terkenal mampu melejitkan nama seorang perempuan yang susah mati pontang panting meniti karirnya.

Jalannya terkenal lebih dahulu dibandingkan prestasinya. Akhirnya, polesan orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan membuat cita-citanya nggak murni lagi.

Karena terkenal, ia mudah mendapatkan pekerjaan. Jadi model, bukan cita-cita sebenarnya yang ingin jadi aktris yang punya karya dalam film.

Punya banyak pengikut kayaknya bikin kepala jadi gaduh ya? Bagaimana mendapatkan suara yang murni dari diri kita? Kayaknya, kita emang butuh waktu untuk sekadar sendirian ya.

Tanpa pengikut. Harusnya tidak akan pernah menjadi masalah. Pengikut seharusnya hanya konsekuensi logis atas apa yang kita lakukan. Berguna atau tidak.

 

 

 

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *