Hari Terakhir Bekerja

Hari Terakhir Bekerja

Hari itu sabtu, jam terakhir. Saya melihat sendiri Bapak Semut pergi ngajar di hari dan jam terakhirnya. Bulan februari adalah bulan terakhirnya menjalankan tugas. Usianya genap 60 tahun. Saatnya pensiun.

Pada beberapa periode hidup, saya mengenal Bapak Semut sebagai guru saya saat sekolah dulu. Kemudian menjadi rekan kerja di hari yang lain.

Guru saya ini awet muda sekali. Masih sangat lincah dan disiplin.

Bapak Semut kalau lihat saya bawaannya sering ngomel-ngomel kayak lihat murid yang datangnya kesiangan kemudian layak dapat hukuman.

Kalau saya lagi ngobrol dengan yang lain, Bapak Semut menimpali dengan, “jangan percaya, jangan percaya, itu hoax.” Padahal baru saja muncul.

Kadang suka seenaknya mengganti nama murid yang terlambat dan mengganti namanya menjadi nama saya.

Terakhir pas minggu kemarin pada acara makan-makan di rumahnya. Ketika saya pamit pulang, beliau berkata. “Dewekan bae ya nok. Laka bature”. (Sendirian saja ya, Nok. Tidak ada temannya).

Perhatian sekali emang. Saya datang dan pergi udah kayak anak ilang. Bingung cari alamat.

Dulu

Dulu, Bapak Semut ini pernah baik sekali membukakan pintu saat saya terlambat masuk kelas di jam terakhir karena baru selesai solat.

“Ayo cepat masuk.” Kemudian daun pintu itu dibukakannya.

Saya merasa perbuatannya saat itu tidak perlu. Tapi bikin saya jadi merasa istimewa juga.

Setelah saya masuk kelas. Ingat sekali, siang itu ada semacam promo sekolah untuk jenjang yang lebih tinggi.

Siang itu. Menjadi siang yang istimewa.

*saya kayaknya mudah tersentuh dari bocil yaa. Pas gede jadi mudah marah. Duh.

Seseorang yang Hadir

Bapak Semut itu bener-bener eksis. Kerjaannya bener-bener langsung dengan murid. Kalau nggak salah dulu beliau Wakasek Kesiswaan. Meski tidak pernah diajar secara langsung di kelas. Wajah dan gerak-geriknya selalu ada.

Bahkan di tahun saya datang di sekolah sebagai pura-purahnya tuh guru pun masih sangat aktif dalam berkegiatan.

“Pak, dulu saya murid di sini lho. Masih satu angkatan sama G.”

“Ah pas ketua osisnya Lira ya?

Edun, nama ketua osis zaman saya aja masih ingat.

Pas ingat kalau besok-besok nggak ada beliau kok rasa-rasanya sedih yaa.

Terakhir upacara senin, beliau sempat ngomel ke saya yang datangnya nggak cepet-cepet ke bagian barisan.

Beruntungnya saya, pagi itu bawa kamera dan bisa jeprat-jepret si Bapak Semut.

Membayangkan

Nanti saya gimana ya? sampai nggak di angka pensiun di 60 tahun? Apa berhenti di tahun sebelumnya sebab kematian atau hal lain?

Apa nanti saya bisa dikenang dengan baik kalau pergi?

Pokoknya, pada zaman saya sekolah di situ. Guru-guru saya banyak yang keren dan rata-rata sudah memasuki masa pensiun dan akan segera pensiun.

Tapi jadi guru emang sering ditinggalin sih. Ditinggalin murid yang tiap tahunnya berganti karena arus hidup yang jalan jelas sudah biasa.

Mereka tumbuh dan setia pada nasib mereka.

“Kalian tahun depan udah SMA/SMK. Nanti Ibu masih di sini aja.”

“Ibu pensiun kapan?” *celetuk salah satu bocah.

“Masih lama.”

“Iya yah. Ibu masih muda. 25 tahun kan, Bu?”

“Kalian menyenangkan sekali.”

Betulah saya yang sering kegirangan dikira masih muda.

Pada Kepergiaan

Pada kepergian yang layak dikenang. Semoga keselamatan keluarga. Umur yang bisa dinikmati dengan kesehatan dan rezeki yang berkah melekat pada Bapak Semut.

Terima kasih untuk hari-hari biasa yang jadi istimewa. Terima kasih karena sudah kasih yang terbaik bahkan di hari terakhirnya.

7 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.