Iseng-Iseng Menulis di Medium

Iseng-Iseng Menulis di Medium – Orang-orang pernah iseng dalam hidupnya. Entah itu iseng-iseng bikin oseng-oseng, atau iseng-iseng makan durian yang dicocol pakai kecap. Yha, namanya iseng yaaa.

Saya juga pernah iseng kok. Diantaranya adalah iseng nulis. Oh ya, kehadiran saya di wordpress pun sebenarnya dari keisengan semata. Walaupun, katanya zodiak Leo itu nggak pernah murni iseng. Leo adalah orang yang “penuh” dalam melakukan sesuatu. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Cinta Laura. Kalau pertanyaanmu nggak dijawab. Yha, artinya kamu sedang iseng tanya-tanya hal nggak penting ke Cinta Laura.

dari pixabay

Tahukah kalian kalau 13-3 adalah hari tidur sedunia?

Jadi, saya pengen tidur aja malam ini. Tidur cepat sebab kepala saya rasanya berat banget. Saya pulang jam 05.30 sore, makan nasi yang bekas kemarin dan agak keras, masak sebentar, makan dan minum antibiotik lagi.

Baahh. Saya habis dari dokter dan biaya konsultasinya sebesar 200k. Ngomongnya bentar banget. Cuma dikasih antibiotik sama anti mual. Nebus obatnya habis 19.500 doang.

Jadi dokter ngomong sama satu orang 200rb cuy. Saya mau dapat 200rb aja tulisannya harus dibaca berapa puluh ribu. Wkkwkwkw. Terkadang jiwa misqueen saya meronta-ronta. Tapi bersyukur aja, nebus obatnya murah. Uuwuwuuwuw.

Nahh… asli saya tuh males nulis kali ini. *gilak tapi bisa bikin pembukaan panjang.

Jadi, saya cuma mau pamer aja kalau saya juga menulis di medium. Buat yang punya medium, kita bisa mutualan yaaa. Saya nggak mau bahas soal mediumnya karena mending dibahas di tulisan yang berbeda aja.

Saya menulis di sini. Klik saja monggo…

Kenapa namanya @tidur

Ya iseng aja. Namanya aja bikinnya iseng kok. Tulisannya juga iseng semua. Tulisan itu rata-rata tidak dibuat “segar”. Kebanyakan tulisan lama yang sudah lapuk dan nggak berguna. Mau dibuang sayang, jadi saya publikasi di medium saja.

Saya buat medium tahun 2018 dan tulisannya nggak banyak di sana. Herannya, ada aja yang follow saya, terus yang follow orang asing. Pastilah mereka nggak paham saya nulis apaan ya. hahahah.

Diantaranya tulisan di medium saya comot dimari.

Yha biar tulisan saya kali ini panjang aja.

***

sumber pixabay

200 menit

Aku punya waktu 200 menit. Setidaknya itu lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa kamu istimewa. Hitung, berapa detik yang dibutuhkan. Bahkan seandainya ada potongan pajak waktu di dalamnya. Sisa waktuku masih banyak. Rasanya aku ingin menggombal. Kupikir urusan menggombal adalah hak siapa saja. Termasuk perempuan, termasuk aku tentunya.

Tentu saja aku adalah di antara deretan perempuan yang berani memilih dengan siapa ingin mencinta. Aku bukan perempuan yang sengaja mengumpulkan gebetan demi memiliki pilihan. Aku punya sikap. Aku lebih suka bicara terus terang, kenapa harus diam?

Walaupun aku tahu, bicaraku tak ada ubahnya dengan banguan-bangunan kota. Tidak saling melengkapi. Hanya waktu dan ruang yang bicara sendiri-sendiri.

Mencintaimu, membuka perspektif baru. Jika cinta diartikan sebagai pertanyaan dan jawaban. Kamu pertanyaannya, aku jawabannya. Aku ubah perspektifnya. Kamu Menteri Pendidikannya, aku papan pengumuman bertuliskan “harap tenang sedang ujian.” Ada bagusnya, setidaknya aku bukan host Mancing Mania.

Ah ya gombalan!

Apa yang salah dari perempuan yang menggombal?

Ketika aku menuliskan kalimat perempuan yang menggombal di mesin pencarian google. Judul yang masuk dalam laman pertama begini; kalimat gombalan yang membuat cewek mabuk cinta, cara jitu merayu cewek, reaksi asli cewek saat digombali yang harus cowok tahu, alasan perempuan tidak boleh langsung baper ketika digombali.

Seakan gombalan hanya milik lelaki. Perempuan hanya menerima dengan peringatan dini mengenai kemungkinan dibohongi mulut manis lelaki.

Padahal, perempuan punya hak menggombal yang sama seperti lelaki bukan? Maka percayalah, ketika perempuan menggombal bisa saja itu jauh lebih serius dibandingkan wacana kepindahan Ibu Kota dari pulau jawa.

Kuharap kamu tidak salah paham mencap aku perempuan agresif dan murahan. Percayalah, menggombalimu butuh energi yang banyak dan beberapa butir pil aspirin.

Mari Sedikit Pemanasan

Sebuah buku gambar dan sekumpulan pensil warna. Aku paling suka warna biru. Kuberi warna biru pada banyak gambar, sebab biru adalah warna yang paling kusuka. Hingga diam-diam, pensil itu memendek dan tidak bisa digunakan lagi.

Aku tipikal seperti itu.

Jadi, karena kalimat yang ribuan kali ingin aku sampaikan padamu adalah aku rindu padamu. Maka kubuat kata r-i-n-d-u tidak berfungsi pada gawaiku. Sebab, kutakut kata r-i-n-d-u hilang makna dan rasanya karena begitu mudahnya kuucapkan.

Mau tahu bagaimana caranya aku merusak kata r-i-n-d-u di gawaiku?

Dengan cara memikirkanmu yang mendapatkan rindu dari perempuan lain, yang sangat kamu rindukan lagi. Maka tak bergunalah rinduku, sudah seperti menanyakan keberadaan bir kaleng di minimarket dekat rumah. Sia-sia.

Ah, sepertinya ini tulisan pemanasan tentang gombalan yang gagal.

Suatu Sore dan Segelas Bir

Seorang perempuan tepat di hadapanku dengan segelas bir. Ia benar-benar sober ketika bicara tentang lelaki yang ia puja.

Sementara aku duduk dengan sebotol air mineral dan sibuk mencari tiket kereta untuk pulang esok hari.

Saat menatap matanya, sedikit aku berharap. Jika luka di hati bisa dianestesi.

Dia selalu bilang bahwa aku adalah salah satu temannya yang masih waras pikirannya. Ia meminta untuk disadarkan karena sudah menyukai pria beristri.

Tapi aku malah meraih bir miliknya dan meminumnya.

“Nggak enak.” Kataku.

Ia malah tertawa.

Ingatanku melayang pada beberapa bait puisi dalam buku perempuan yang dihapus namanya.

Tapi kita sama-sama tahu “jangan” adalah mantra pemikat dan Tuhan telah menggulirkan dadu.

Di perjalanan pulang esok harinya. Aku sadar bahwa kata “jangan” memang terlalu memikat. Jangan mencintai lelaki beristri, temanku malah melakukannya. Jangan minum minol, aku melakukannya.

Jangan memikirkanmu, tapi aku melakukannya, sampai tahun berganti dan berganti.

Kembali ke 200 Menit

Mungkin durasi 200 menit terlalu panjang.

Aku hanya butuh dua detik saja untuk mengatakan. Kamu istimewa.

Meskipun aku bukan siapa-siapa di matamu. Seperti yang kamu katakan pada mereka.

*udah.

*abis. gitu aja.

6 komentar pada “Iseng-Iseng Menulis di Medium

  • 13/03/2020 pada 9:55 PM
    Permalink

    Wah aku baru tau ada yang namanya Medium. Selama ini taunya cuma wp, blogspot dan tumblr.

    Balas
    • 14/03/2020 pada 6:39 PM
      Permalink

      yup. ada medium dengan tampilang “bersih”. agak mirip twitter dengan versi tulisan yang panjang.

      Balas
    • 14/03/2020 pada 6:38 PM
      Permalink

      saya suka kuning.

      Balas
    • 14/03/2020 pada 6:38 PM
      Permalink

      yaaahhh, sudah dihapus

      Balas

Tinggalkan Balasan