Cerita Momo Cuma Nulis Aja Jadi Orang Biasa, Tidak Terkenal, Itu Juga Enak

Jadi Orang Biasa, Tidak Terkenal, Itu Juga Enak

Jadi Orang Biasa, Tidak Terkenal, Itu Juga Enak  – Nganu…. pas saya buka twitter, mendadak nama Zara trending. Ributlah. Di otak saya, ini Zara jualan apa kok trending? Apa harga pakaian di Zara jadi kek di pasar malam atau gimana?

Ternyata Zara nama orang.

Baiklah. Mari lihat dulu bentukan Zara kayak gimana? Terus apa yang bikin dia jadi trending.

Setelah fokus lihat video…

“Ohh nggak tahu nih saya Zara itu yang mana?”

Wkwkkw.

Setelah kepo dikit, ketemulah bahwa Zara pernah main film Dia Garis Biru (belum pernah nonton) dan personel dari JKT48.

Okelah, yang itu. Pengetahuan saya bertambah lagi. Ada Zara yang lain. Pengetahuan yang sebenarnya nggak saya syukuri banget.

Terlepas dari vdeonya itu, bukan itu titik poinnya di sini. Tapi tentang bagaimana orang terkenal (meski nggak saya kenali, wkwkw) perilakunya semacam ditonton banyak orang dalam waktu yang sangat cepat.

Efek jadi orang yang dikenal banyak orang baik tentang yang nampak burk atau baik menjadi santapan konsumsi orang lain dengan mudah dan cepat.

Kalau nasib nggak terkenal nempel di saya atau kalian? Percayalah, paling banter yang ngomongin adalah cocote tonggo. Itu saja. Zara lain soal. Video yang hanya beberapa detik itu sukses bikin dia dimaki, bahkan tulisan brand ambasadornya dihapus dari bio IG (Lagi-lagi saya tahu berkat konten beginian nongol di beranda).

Kemudian netizen bicara ini dan itu.

Kemudian beritanya mereda berganti dengan aib-aib lain. Pasti.

Pada Hari yang Sama Saya Membaca Curhatan

Curhatan ini saya baca di medium, tentang dia yang menulis cerita yang dia suka, dia bilang yang baca paling banyak sekitar 25 orang. Dia berharap jadi seleb yang misalnya kalau foto nggak jelas di IG, yang like banyak banget.

Wajar manusia menggalaukan eksistensinya. Wajar juga kalau sudah capek bikin konten apapun, ingin cepat dapat perhatian orang lain.

Wajar punya harapan kontennya diperhatikan banyak orang. Meski banyak di sini bakalan sangat relatif.

Tapi jadi nggak wajar kalau perhatian orang lain adalah tujuan. Kata siapa?

Kata saya.

Manusia itu punya konsep “hosting” nggak sih dalam dirinya?

Ini adalah murni pertanyaan saya.

Eemmm gini maksudnya, kalau ngeblog, hosting itu semacam lebar jalan yang bisa dilewati para pengunjung untuk masuk ke rumah kita. Ketika menyewa hosting, tanya saja sama penyedia layanannya, hosting ini kuatnya berapa pengunjung dalam satuan waktu? Berapa pengunjung total dalam satu hari/bulan?

Kurang lebih begitu.

Terus manusia itu punya hosting  nggak sih dalam dirinya? Tahu dari mana parameternya? Itu bisa digedein nggak?

*kemudian mumet sendiri atas pikiran sendiri.

*maaf ini cuma tulisan sekenanya pertanyaan-pertanyaan nggak jelas dalam kepala aja.

Kalau Orang-Orang pada Ingin Terkenal? Yakin hostingnya kuat? Yakin bandwidthnya gede?

Saya lebih percaya bahwa apa-apa yang saya lihat di internet ketika terlihat begitu sempurna, maka palsunya juga kuat. Itu ‘kan komposisi manusia? Toh masih manusia biasa, ‘kan?

Yakin dirinya kuat kalau banyak yang bisa mengakses tentang dirinya apapun di internet akan membuatnya baik-baik saja? karena apapun pasti ada paradoksnya?

Seperti harapan saja. Harapan bisa membuat orang melangkah dengan kemauannya. Tapi, ketika harapan itu tidak terwujud, maka bersiaplah untuk kecewa.

Oksigen itu bisa membuat makhluk menjalani hidup. Tapi udara juga salah satu unsur penyebab yang bikin daging apel jadi coklat. Oksigen bikin kita tua?

Yakin Punya Fans itu Enak?

Punya fans itu menurut Panji Pragiwaksono itu nggak enak. Katanya dia malah diatur-atur dan jadi nggak bebas. Ada benarnya juga.

Misalnya nih…

…coba aja kalian cukup terkenal di satu kanal dalam urusan tulis menulis. Itu nanti biasanya yang nggak ngaku-ngaku fans bilang gini, “kakkk bikin ini kaakk…” “kakkk coba ini kakkkk.”

Fans menjelma menjadi sesuatu yang lain. Wajah yang lain. Seolah apapun yang kalian suguhkan nggak akan pernah cukup memuaskan mereka.

Kalau kalian penyanyi misal. Nanti pertanyaannya, kapan bikin album baru? Kapan kolaborasi sama ini? kapan?Dan kapan lainnya.

Dipikir-pikir, yang kuat pasti Tuhan. Soalnya banyak yang diam-diam ngatur Tuhan dalam doanya.

Jadi Orang Biasa, Tidak Terkenal, Itu Juga Enak

Ini yang lagi saya rasakan.

Kemarin saya naik mobil pickup dengan belasan orang di dalamnya, perjalanan bolak-balik total empat jam. Melintasi kabupaten yang berbeda. Seru banget dan nggak usah malu, ‘kan bukan orang terkenal juga.

Ini bukan karena ikut-ikutan film pendek Tilik ya, kalian mesti tahu, budaya naik mobil bak terbuka di Indonesia itu dekat sekali di kalangan biasa. Kalangan lain mah lain soal.

Mobil pickupnya dimodifikasi dengan terpal di atasnya, ditambah percakapan yang lucu-lucu sepanjang perjalanan.

Ceritanya, tetangga saya suka ngajakin jalan-jalan pakai mobil yang biasanya dipakai buat ngangkut sayuran ke pasar. Gratis cuy. Makanan tinggal bawa sendiri dan kalau masuk tempat wisata baru bayar sendiri-sendiri.

Coba…

Coba tetangga lain yang mobilnya super mewah, mana ada dia ngajakin tetangga. Mana bisa juga mobil bagusnya menampung sampai belasan manusia?

Di blog juga sama!

Tulisan saya kalau baru diterbitkan di sini, mentok dibaca berapa kali sih? Palingan 75 orang aja. Itu kalau valid. Kalau nggak?

Ya, nggak valid.

Yha.. pinter itu yang jawab.

Deh.

Tapi saya senang-senang aja. Sebab nggak punya banyak beban. Mau nulis curhatan nggak jelas pun nggak masalah.

Kayak tulisan saya yang ini dan sebelumnya. Hahaha.

Terus saya berharap ada 10 juta pembaca saya di sini gitu? Itu bakalan jadi malapetaka kalau hosting saya cuma biasa aja kayak sekarang. Yang ada bukannya bisa diakses. Malah bikin mules doang. Blog nggak bisa diakses.

Pokoke jadi orang biasa aja itu enak. :v

5 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 Comment

  1. Enak. Tidak ada yang terlalu peduli dan ngatur. Ya ada sih tetangga, paling beberapa, damagenya ya gak terlalu besar lah dibanding kalau terkenal.

    Aku pernah naik mobil pickup gitu kan udah nata rambut gitu kemudian mobat-mabit. Ya, aku gak papa si. Gak nangis juga.

  2. Zara dan Zaki jadi trending di twitter. Setiap orang pernah melakukan kenakalan di masa muda. Sayangnya kalo sekarang ada netizen julid. Sama Mo, aku juga pernah jalan jalan pake mobil pick up.