Cerita Momo Cuma Nulis Aja Jadilah Kaya Supaya Bisa Membeli Yogurt Greek Tanpa Pikir Panjang

Jadilah Kaya Supaya Bisa Membeli Yogurt Greek Tanpa Pikir Panjang

Jadilah Kaya Supaya Bisa Membeli Yogurt Greek Tanpa Pikir Panjang – Belakangan ada geger-geger tentang pendapat seorang pesohor bernama Nadin Amizah. Nadin memberikan pendapat soal pandangannya terhadap kekayaan dan kemiskinan. Ngomongnya sih di acara youtubenya Deddy.

Ia berkata begini, “jadilah orang kaya, karena kalau kamu kaya kamu akan lebih mudah menjadi orang baik. Dan saat kita miskin, rasa benci kita pada dunia itu sudah terlalu besar sampai kita nggak punya waktu untuk baik sama orang lain lagi.”

Ributlah. Trendinglah.

Banyak yang merasa ucapan Nadin ini menyinggung. Dirujaklah sama warganet sampai akhirnya meminta maaf di akun instagramnya.

#Dahla…

Warganet itu ngomongin Han Ji Pyeong dan Nam Dosan aja bisa ribut. Bubur diaduk dan tidak diaduk aja ribut, apalagi ngomongin orang kaya dan miskin.

Pendapat Saya Soal Nadin yang Minta Maaf

Padahal nggak ada yang nanya.

Emang keras sih jadi publik figur. Kalau menurut netizen salah. Bisa jadi bulan-bulanan.

Padahal sah-sah saja berpendapat. Dia punya kacamatanya sendiri. Netizen juga. Lebih enak sih buka forum diskusi supaya sama-sama sinau satu sama lain.

*mana sempat keburu emosi. *gitu kata warganet.

Tapi, Apakah Benar, Orang Kaya Itu Mudah Menjadi Baik?

Bisa ya, bisa juga tidak tergantung diri masing-masing. Sulit sekali mencap mudah menjadi baik atau buruk dalam kondisi kaya dan miskin.

Tapi lihat saja, yang baru gajian biasanya lebih sumringah (menulis di tanggal gajian nih, nyampe nggak sumringahnya?). Ahhh nggak ya? Abis mau gimana lagi, harus bayar utang yang lumayan gede bulan ini.

CURHATLAHHH CURRHAAATT…

Tapi yang jelas, kalau hidup nggak ada uang itu mudah galau. Bahagia disaat kondisi kekurangan juga diperlukan hati yang damai sedamai-damainya.

Yah lagi-lagi, kemikinan memang susah diberantas, tapi kadang tidak terlalu sukar untuk diromantisasi.

Kamu Merasa Miskin Nggak?

Kalau saya jujur aja merasa miskin. Salah satu indikator yang sangat terasa bahwa saya miskin adalah saat dihadapkan dengan label harga sebuah yogurt yang enak banget.

Sebutlah yogurt itu adalah heavenly hlush yang greek. Harganya macam-macam. Yang pernah saya makan diantaranya yang beli di indomaret harganya sekitar 15 ribu. Ada juga dapat minta sama temen (Mude namanya), saya icip banyak yang varian ada potongan buah strawbery besar dan sendok merah didalamnya, harganya hampir 23rb. Tempatnya satu dualah sama wadah nyam-nyam.

Enak banget.

Pokoknya enak.

Tapi harganya berat.

Saya mulai mikir, kalau hidup saya menggunakan pedoman, “cintai ususmu, minum yogurt tiap hari.” kemudian jatuh pilihannya pada yogurt geek. Maka harga yang harus saya bayar pertahunnya untuk jajan yogurt adalah Rp8.395.000.00 (dari 23rb dikali 365).

Melihat angka-angka itu tbtb saya menderita.

Bahwasanya saya tahu betul tidak mungkin saya menghabiskan nominal sebesar itu hanya untuk yogurt.

Untuk urusan tidak merokok saja, saya sangat berterima kasih pada Tuhan karena saya bukan perokok. Saya tidak tega bakar-bakar uang begitu saja.

Nominal 23rb untuk waktu singkat, bisa untuk beli beras 2kg.

Yaahh. Begitulah jiwa kemiskinan saya meronta-ronta hanya karena dihadapkan dengan kenikmatan di lidah karena yogurt.

Dulu…

Saya sempat punya keinginan mengisi galon dengan yakult. Tapi sekarang sudah nggak gitu. Yakult dibuat sekecil itu karena memang ada takarannya untuk menjaga kualitas. ‘Kan di dalamnya ada makhluk hidup yang membawa “agen kebaikan” bagi yang mengkonsumsi.

Dari kasus ini saya belajar. Bahwa benar adanya kalau manusia harus banyak berdoa pada Tuhan dari doa-doa yang telah dipanjatkan.

Memandang, memikirkan, memperhitungkan soal yogurt geek. Diam-diam saja memanjatkan doa supaya jadi kaya. *nggak diam juga sih. ini ada diketik juga.

Soal Kemiskinan dan Secuil Cerita

Kalau ada yang bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan, bagi saya uang bisa membeli banyak hal yang bisa membuat manusia menjadi tidak terlalu khawatir.

Uang bisa membeli rumah, sehingga penghuninya tidak kehujanan, aman dan jauh dari tindak kejahatan.

Saya jadi ingat Jiho dalam drama korea Because This is My First Life. Jiho tidak punya sepetak kamar untuk tidur. Ia tidur di ruangan yang disediakan oleh asisten sutradara agar bisa bekerja menyelesaikan naskah. Ehhh malah mau diperkosa sama cowok berengsek itu.

Sebuah kejadian yang memicu Jiho untuk pulang kampung. Membuat Jiho berhenti menulis naskah. Membuat Jiho mau menikah dengan pria yang saat itu belum disukainya, hanya untuk sepetak kamar. Kalimat Jiho saat itu masih saya ingat dengan baik, “Menikah karena cinta hanya untuk orang-orang kaya.”

Nyatanya, kenyataan menampar keras-keras. Bahkan untuk “cinta pada pasangan” bisa jadi kemewahan. Perasaan dibutuhkan oleh orang lain untungnya bisa mengkompensasi kepedihan dalam dada.

Di sisi lain. Pada kisah nyata di lingkungan dekat. Orang-orang sering sekali tidak dihargai karena miskin. Bahkan dihari ketika sudah tiada. Saya punya sedikit cerita tentang dua orang yang meninggal dalam waktu bersamaan. Katakanlah A kaya raya dengan keturunan yang tentu saja kaya banget. Sedangkan B hanyalah orang biasa. Tidak bisa dibilang kaya.

Pada acara tahlil sampai 7 hari, orang-orang lebih suka pergi ke rumah mendiang A karena dengan harapan dapat berkat yang bagus dan enak-enak. Sementara rumah B sepi, hanya dihadiri keluarga dekat. Padahal waktu tahlil dibuat berbeda selama 7 hari.

(Apa yaa istilahnya berkat di masyarakat umum? Itu lhooo yang suka dikasih-kasih. Isinya makanan).

Saya yakin tidak semuanya demikian. Tapi hal ini terlalu nyata hadir di kehidupan saya. Betapa yang kaya dan miskin diperlakukan berbeda bahkan setelah orangnya nggak ada lagi.

Miskin Itu Berat (Ini Opini)

Hati orang miskin itu kadang mudah terluka. Kalau Nadin bilang, orang miskin mudah membenci dunia sampai nggak punya waktu buat baik sama orang.

Jadi orang miskin itu harus melalui banyak sekali percobaan-percobaan untuk menghibur dirinya sebab banyak hal kejam terjadi padanya.

Kenapa saya bilang hati orang miskin kadang mudah terluka?

Misalnya begini, si miskin sakit. Dia butuh penanganan medis. Karena takut sama biaya, akhirnya dia merenung dan memutuskan untuk tidak mengobati penyakitnya. Si miskin sudah ditampar terlebih dahulu untuk nota tagihan yang bahkan belum sempat ada.

Lalu, sempatkah orang miskin membenci dunia? “Dunia” justru yang jarang sekali memberikan kemudahan-kemudahan pada si miskin. Si miskin hanya merindukan dunia yang sedikit lebih lunak pada dirinya. Atau malah sibuk mencari dunia yang tak kunjung mendatanginya dengan “lebih ramah”.

Kesimpulan Biar (Abis Tulisan Saya)

Yang disampaikan Nadin Amizah memang sangat multirafsir sekali.

Semoga setelah minta maaf, Nadin Amizah dan warganet bisa lebih mesra. *lah.

Dan saya membuka diri apabila ada yang mau traktir yogurt geek.

Terima kasih.

Salam.

0 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 Comment

  1. Saya miskin tapi saya tidak membenci dunia,karena saya masih bisa bernafas dan makan tiap hari. Bersyukurlah setiap hari,tersenyumlah setiap hari walau dompetmu kosong. Maka kau akan mencintai dunia dan segala isinya. Dunia yang hanya sementara.

  2. Kalau menurutku memang ada benarnya, pas kita kaya kita akan lebih mudah punya kesempatan untuk membantu orang lain. (Terlepas kesempatan itu mau diambil atau ngga, atau bahkan justru bisa jadi orang jahat sekaligus)

    Cuma kalau miskin yang membenci dunia, kayaknya ngga juga sih. Karena ada juga yang miskin tapi hidupnya lebih bahagia dan tentram dari pada yang kaya.

  3. Kita rada-rada mirip soal ingin jadi kaya ini. Aku ingin jadi kaya raya supaya kalau aku makan enak di restoran gak pakai lihat harga lagi, langsung pesan saja. Hihihim