Kalau Cantik Tidak Kelihatan Gimana?

Kalau Cantik Tidak Kelihatan Gimana?

Kalau Cantik Tidak Kelihatan Gimana?

Yha nggak gimana-gimana sih.

Eeh tapi nggak begitu cara mainnya di tulisan kali ini.

Oke. Begini nih awalnya. Beberapa hari lalu sempat trending di twitter tentang salah seorang yang saya lupa namanya mengomentari seseorang yang dianggapnya membuat polusi mata saat ada di pusat kebugaran. Katanya bau, pantatnya kelihatan, yang begitu-begitu sampai bikin dia kesal dan mengutarakannya di sosmed.

Ada pula video Mbaknya yang mengatakan kalau merasa kurang sama anggota tubuh itu harus melakukan “usaha”. Kalau kekurusan harus begini…. kalau jerawatan ya pakai skincare. Intinya usaha gitulah.

Nggak tahu sih Mbaknya ini sebenarnya siapa, saya juga males cari tahu. Tapi ya sudahlah. Ketika kepoin komentar, ternyata banyak yang nggak suka sama pendapat Mbaknya. Banyak yang merasa terusik sama ucapan dan twit dari Mbaknya ini.

Kalau saya sih biasa ajalah. Nggak pundung sama pendapat Mbaknya. Malah nyari celah buat bahan tulisan.

Cantik dalam Media yang Suka Viral

Media kebanyakan biasanya kurang bahan konten kayaknya. Misalnya begini, ada berita tentang penjual soto yang penjualnya cantik. Tiba-tiba naik beritanya ke permukaan, masuk TV segala. Viral katanya. Mbak-mbak yang jual kelapa juga pernah, karena cantik dagangannya jadi laku.

Pernah juga ada yang viral dimana ada Mbak tambal ban yang katanya cantik.

Pokoknya yang cantik-cantik itu gampang banget naik jadi bahan pembicaraan banyak orang.

Beberapa anggapan juga sering muncul diantaranya keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking saja.

Fisik terus mainnya.

Apa benar demikian?

Yang Terlihat Lebih Dulu Adalah Masalah Fisik

Saya pernah punya tulisan nggak mateng tentang tema yang agak mirip dengan tulisan ini disini *mongggo kalau mau baca. Tapi baca tulisan ini dulu aja sampai akhir. Tulisan sebelumnya menyoal tentang mata sebagai organ yang fungsinya mendominasi.

Untuk masalah komentar soal fisik, yang saya ingat dari pengalaman pribadi adalah dikomentari sama dokter yang biasanya berobat. Kalimat yang muncul pertama bukan soal ada keluhan apa. Tapi begini, “Kok makin putih aja?”

Dalam hati agak kaget juga ditanya demikian. Mau jawab apa coba? Ohh makin putih? Gimana ya? perasaan segini-gini aja? Perasaan saya agak gosong soalnya main di kebon mulu. Ahh matamu salah kali.

Jawaban yang tidak ilmiah dan empiris. Tapi pertanyaannya memang pelik dijawab.

Lagi-lagi, mata mendominasi sekali.

Oke kembali ke yang cantik-cantik tadi.

Kalau Cantik Tidak Kelihatan Gimana?
sumber :Pixabay

Bukannya yang Orang Lihat itu adalah Wajah, ya?

Bukannya yang orang lihat itu wajah ya? Tentunya dengan susuan yang sama-sama diketahui, ada mata, hidung, bibir, pipi, alis, dll. Kemudian entah ada landasan apa kemudian membagi-bagi menjadi ohh ini cantik, yang ini tidak cantik.

Misal ada anggapan bahwa punya hidung mancung itu cantik, sedangkan punya hidung nggak mancung itu nggak cantik. Siapa yang bilang?

Logisnya, mancung atau tidaknya, hanyalah ciri-ciri fisik manusia. Sifatnya juga netral banget.

Hal-Hal yang Berjarak

Asin dengan garam punya jarak.

Manis dengan gula punya jarak.

Pedas dengan cabe punya jarak.

Cantik dengan wajah juga harusnya punya jarak.

Eehh gimana ya maksudnya? Emmm…

Garam misalnya, punya ciri-ciri tertentu dalam bentuk fisik, mulai dari warna, tekstur, dll. Tapi untuk urusan level asin bisa jadi lidah sebagai pengecap punya versinya sendiri-sendiri. Akan terlihat pada nyicip masakan yang bisa jadi keasinan di lidah A, tapi biasa aja di lidah B, kemudian malah kurang asin di lidah C.

Lidah sebagai organ yang bisa mendeteksi rasa saja sama sekali bukan alat ukur yang punya reliabilitas.

Mata juga dengan segala kelebihan dan kelemahannya hanya mampu menangkap gejala-gejala fisik saja.

sumber : pixabay

Jadi, (kesimpulan ini juga untuk saya) nggak perlu risau kalau orang-orang punya standar soal cantik harus begini dan begitu, yang mereka bicarakan biasanya tidak pernah jauh dari ciri-ciri fisik yang bisa dilihat mata dengan keterbatasannya sebagai organ. Urusan cantik dan fisik itu ada jaraknya. Tidak sama.

Tanda-tanda fisik itu bisa dilekatkan dengan mudah dan dimanipulasi. Burung beo bisa diajari nyanyi indonesia raya, apa bisa diambil kesimpulan kalau burung beo punya ciri-ciri nasionalisme dalam dirinya?

Manekin itu bisa dipakaikan gamis, apa bisa manekin disebut dengan… ah sudahlah.

Itu lho, masalah nggak mengaktifkan centang biru di whatsapp saja dibilang perbuatan tercela. Mampuslah saya yang nggak pakai centang biru, nggak ada last seen, sampai nggak ada foto profil. Pengguna WA paling tercela kayaknya. Serius nih? ukuran perbuatan tercela bisa diambil dari hal-hal seperti ini?

Ya sudah. Mari sudahi tulisan ini.

*tarik napas.

Meletakkan definisi cantik pada penglihatan tidak pernah bertemu pada titik kebijaksanaan. Akhirnya kalau nggak bijak ya ribut lagi, ribut lagi. Urusannya nggak pernah selesai. Biarkan orang mau bilang apa. Cukup kenali jarak baik-baik antara cantik dan wajah.

Tentu saja.

Saya lebih suka beranggapan bahwa cantik itu nggak kelihatan.

You May Also Like

2 Comments

Tinggalkan Balasan