Kalau Lagi Jatuh Cinta Jadi Susah Nulis? Benarkah?

Kalau Lagi Jatuh Cinta Jadi Susah Nulis? Benarkah?

Salah satu orang yang dulunya pernah nulis (sekarang udah nggak jelas sih, saya juga udah nggak ngefans lagi) pernah bilang sesuai yang tertulis di judul.

Benarkah?

Mari kita raba hati masing-masing.

Sebelum masuk ke tulisan utamanya yang jelas nggak utama-utama banget. Kalian bisa baca tulisan lama yang lumayan berkaitan.

Diantaranya:

Kalau Lagi Patah Hati Tulisan Jadi Mantul. (di sini)

Sedang Tidak Mood Nulis adalah Omong Kosong. (di sini).

Gitu sob, kalau mau nulis dengan kaidah SEO. Suka kait-kaitkan sama masa lalu. Jadi, tidak selamanya mengaitkan dengan masa lalu itu tidak perlu. Siapa bilang masa lalu harus dilupakan? Siapa?

Okelah. Mari kita jawab pertanyaan pada judul.

Jatuh Cinta Gitu? Emang Momo Pernah? Bukannya Momo itu cuma makanan ringan? Momogi?

Jelas saya bukan makanan. Mana bisa makanan bisa ngetik bukan? *oke garing.

Begini. Entah gimana ceritanya saya menemukan tulisan yang menarik pada buku catatan saya sendiri. Tulisannya pendek banget. Gini.

“Orang kalau sudah ingin sesuatu, dia sudah tidak jernih lagi. Kesenangan juga sama.”

Ini pasti saya dengar di suatu kesempatan kemudian ditulis. Tulisan saya jelek banget gitulah. Kayak buru-buru.

Yang punya kaitan sama kisah jatuh cinta adalah kesenangan. Kemudian manusia yang sudah tidak jernih lagi. Jadi, bisa saja karena kesenangan itu membuncah dalam dada, makanya nulis itu jadi susah.

Jangankan nulis. Kalau udah kelewat senang, makan aja jadi susah. Rasa lapar mendadak tidak terlalu perlu untuk dihilangkan dari perut. Nggak tahu kalau yang lain. Tapi saya demikian.

Berdasarkan pertimbangan saya yang sok-sokan. Maka bisa jadi banget kalau nulis menjadi perkara yang susah kalau sedang jatuh cinta.

Tapi Saya Membiasakan Diri Untuk Jatuh Cinta

Saya mempersilahkan hati ini untuk mudah jatuh cinta pada apapun. Lihat kucing jatuh cinta. Lihat anjing langsung jatuh cinta. Lihat kecoak sedang berbaring aja saya jatuh cinta.

Kenapa bisa begini?

Supaya imbang aja. Kalau dibuat statistiknya, porsi patah hati saya itu banyak (bangga sekali ngetiknya). Dengan demikian agar yin dan yang nggak rusak. Saya harus mengimbanginya dengan jatuh cinta ~

Padahal menurut saya (saat ini). Energi menulis lebih banyak muncul dari pengalaman-pengalaman yang menggugah hati (menyentuh atau membangkitkan hati). Bukan menitik beratkan pada patah hati atau jatuh cintanya. Tapi yang paling bikin “bangun”.

Alarm di hape? Suara ayam? Sudah ketemu?

Pernah nggak sih kalian punya pengalaman sederhana seperti ketika sudah membaca buku kemudian kalian mikir lama. Masih gagal selesai sama bukunya padahal udah selesai baca. Nonton drakor misalnya, dramanya kelar 16 episode. Tapi masih bergerak seperti pendulum di hati? (Di sini pernah saya ceritain).

Atau pengalaman nyata akan sesuatu. Kemudian kamu bisa melihat dari beberapa sudut pandang. Mengendap lama di dada kemudian menimbulkan pengalaman yang berbeda dalam hati?

Saat Patah

Saya punya teman namanya Ayu. Seperti namanya dia ayu. Dia bersumpah pada dirinya usai patah hati bahwa dia harus mengalahkan mantannya dalam hal apapun. Jadi, misalnya sang mantan lulus S2. Ayu juga harus demikian. Setidaknya setara.

Pokoknya nggak boleh ada “di belakang” akan mantannya berdasarkan kacamata ayu.

Saya manggut-manggut. Saat Ayu cerita ini. Bukan karena setuju. Tapi saya juga punya benang merah yang sama.

Saya nggak boleh kalah. Kalau ada yang hilang. Harus ada yang ditemukan kembali. Orangnya adalah saya sendiri.

Filosofis memang.

Makanya. Orang-orang yang sudah pernah patah itu. Bukan orang yang sama lagi. Syukur-syukur sudah sampai pada “wisdom”. Bahasa lainnya ada hikmah yang bisa diambil.

Lho jadi kemana-mana?

Yha nggak apa-apa. Biasanya tulisan saya suka begitu.

Apa yang paling menggugah dalam hidupmu? Hidup kita?

Saya suka iseng nanya-nanya gini sama beberapa orang yang saya kenal. Misalnya sebut saja namanya Yani.

Saya tanya ke Yani yang pinter pakai banget dan S2nya mau kelar. Saya tanya. “Apa yang paling menggugah dalam perjalananmu nyari ilmu sampai S2? Belajar teknik sipil sampai S2 apa yang menarik menurutmu? Apa dampaknya sama sudut pandang besar dalam hidupmu? Apa kamu sudah merasa ada di jalan benar? Apa tolak ukurnya kalau kamu merasa ada di jalan yang benar. Benar atas kacamatamu. Bukan orang lain.

Yani…. pingsan dikasih pertanyaan ini. wkwkkw.

Nggak dink. Dia bingung dan saya harus ngurai pertanyaan saya satu-satu. Sampai Yani malah curhat banyak hal soal kementrian tertentu. Hingga saat ini Yani belum menjawab apa yang paling menggugah dirinya atas perjalanan mencari ilmu yang dia pilih.

‘Kan ceritanya saya boro-boro sekolah tinggi gitu. Sangat menerima ilmu pokoknya dari anak-anak muda nan cerdas itu.

Lah? Saya sendiri? Yang Menggugah itu Pengalaman Apa?

Banyak. Harus dibuat kategorinya. Bisa panjang urusannya. Metode nulisnya pun bisa lain tergantung atmosfernya. *hidih sok-sokan.

Tapi berhubung tulisan ini soal jatuh cinta. Maka saya bisa jawab gini. Jatuh cintanya saya atau patah hatinya saya itu selalu menggugah. Makanya dua-duanya selalu bisa jadi energi besar bagi saya untuk menulis. Jadi, nggak pernah condoang ke perasaan seperti apa.

Karena dibalik kisah sedih adalah semacam jalan menuju kebahagiaan. Kemudian berlaku kebalikannya. Mungkin saya cuma butuh menjadi manusia lingkaran yang menganggap keduanya hanyalah putaran hidup semata. Toh kadang mencap kejadian sedih pun adalah nggak jauh dari keinginan yang nggak jadi nyata. Kebahagiaan diartikan tidak jauh dari keinginan yang jadi nyata.

Kacamatanya selalu diri sendiri.

Hidup di dunia itu selalu bisa punya potensi bahwa kebahagiaan seseorang adalah penderitaan bagi yang lainnya.

Di akhir tulisan ini. Daripada bikin kesimpulan. Entah mengapa saya ingin agar setiap makhluk bisa bahagia.

Kalau lagi jatuh cinta jadi susah nulis itu nggak bener buat saya. Susah nulis itu kalau pas lagi ngetik ada kucing gangguin kamu. Apalagi kucingnya ngajak main.

Udah deh. Susah.

You May Also Like

3 Comments

  1. Kalau aku sih, kalau sedang gak ingin nulis, jadinya gak bisa publish konten 🤣🤣
    Kalau menurutku sih lebih condoang pada niatan aja. Kalaupun patah hati maupun jatuh cinta, kalau niatannya gak pengen nulis yah tetep gak jadi tulisan. 😚😚😚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *