Kamu (1)

Kamu.

Kamu selalu tahu jalan-jalan di depanmu layaknya jaringan meristem yang aktif membelah. Kemudian dengan lelahnya pada wajahmu, kamu harus memasukinya. Satu persatu tiada habisnya. Entah sampai kapan.

Jalanan Tanpa Pintu

Kamu memasuki sebuah jalanan tanpa pintu, hanya jalan setapak yang tidak bisa muat banyak orang. Kamu memasukinya tanpa ragu karena menyukai hal-hal dimana kamu bisa menyendiri dengan leluasa. Kamu benci jalan besar dan ramai di mana orang-orang nampak terburu-buru dengan wajah penuh kebencian akan rutinitas.

Perlahan kamu memasukinya. Jalan setapak yang damai. Tapi, kamu menemukan sebuah papan kayu yang sedang ditancapkan seorang anak kecil. Pada papan kayu bertuliskan β€œtidak boleh lewat kecuali anjing.”

Seketika kamu ingin menggonggong, tidak rela bahwa kedamaian perjalananmu direnggut begitu saja. Tapi kamu hanya diam menatap wajah bocah kecil yang menatapmu tajam. Tatapan yang lebih berbahaya dari putus cinta, bahkan virus mematikan.

Kamu tidak jadi menggonggong. Kamu putar balik dan keluar dari jalan setapak itu.

Kamu tahu gonggongan palsumu akan terdengar terlalu lemah jika dibandingkan tatapan bocah tadi. Kamu kalah. Tanpa kata bahkan suara.

Jalan Menuju Bulan

Laut. Kamu lebih suka laut daripada gunung. Kamu suka bermain-main dengan ombak. Kamu melihat jalan menuju laut dan semangat mendatanginya.

Di sana ada perjamuan pesta. Entah pesta apa. Seorang Ibu bertubuh gempal dengan senyum ramahnya menarik tanganmu. Kemudian memberimu sepiring hidangan. Dalam hidangan itu ada seekor ikan yang sudah matang. Siap disantap.

Tapi kamu masih bingung. Sebab pendengaranmu akan suara manusia tiba-tiba mati begitu saja. Kamu seperti menonton adegan film dengan suara yang dibisukan. Kamu tidak tahan dan menuju bibir pantai dengan membawa hidangan ikan lezat dalam piring.

Pandanganmu pada laut teralihkan karena mendengar suara dari piring yang kamu bawa. Kamu melihat keajaiban seperti di dalam dongeng. Ikan yang bisa bicara.

Ikan itu bicara panjang lebar betapa ia merindukan aroma laut, sebab aromanya kini telah menjadi aroma kunyit. Sang ikan menceritakan banyak hal tentang laut dan para temannya di samudra. Kamu diam mendengarkan. Hanya itu yang bisa kamu lakukan. Kamu ragu saat ingin membalas ucapan sang ikan, kamu takut dikira gila oleh para tamu pesta yang berkerumun tidak jauh darimu.

Ya. Kamu selalu ragu. Padahal mungkin saja para tamu pesta tidak akan mendengar apa yang kamu ucapkan. Sebagaimana mereka hanya tayangan bisu bagimu.

Di depanmu nampak mangata. Bayangan bulan di air laut yang terbentuk seperti jalan.

sumber pixabay

Kamu ingin berjalan ke sana. Berjalan menuju bulan. Tapi kamu tahu itu bukan jalanmu meski nampak seperti jalan yang indah. Kamu akan mati hanya dalam beberapa langkah yang nampak menuju bulan padahal bulan hanya nampak sebagai tujuan dan bukan tujuan sebenarnya.

Kamu lelah.

Kamu sudah tidak tahan lagi dengan keluhan sang ikan. Kemudian kamu memakan ikan itu dengan lahap. Suara sang ikan sayup-sayup menghilang.

Kamu memilih pergi dari jamuan pesta yang tidak kamu mengerti. Tapi kamu berterima kasih atas hidangan ikan yang kini ada dalam perutmu. Kini kamu menganggap dirimu sebagai pusara kerinduan bagi sang ikan akan lautan.

Menjelma Malam

Kamu setengah marah dan heran pada dirimu sendiri karena sepertinya telah memilih jalan yang salah. Sebuah pintu yang kamu pilih telah meleburkan dirimu menjadi malam yang paling gelap.

Pada malam itu, pada dirimu sendiri. Kamu melihat seseorang yang kamu sukai melangkah mengikuti cahaya-cahaya yang bertaburan menuju pagi. Kamu kalap. Kamu ingin berteriak agar orang yang kamu sukai itu menyadari kehadiranmu. Tapi tidak ada kata dari malam kecuali keheningan dan keheningan.

Kamu menyadari banyak hal karena seseorang itu ada pada dirimu. Seseorang yang kamu sukai itu terasa seperti rasa sakit dalam perut yang bisa kamu bedakan rasanya. Rasa sakit perut karena lapar, karena harus buang air besar, atau rasa sakit karena sakit diarea tertentu. Seseorang itu selalu mewakili rasa aneh pada perutmu.

Menjelma malam kamu harus menyaksikan tingkahnya sepanjang malam meski dia tidak menyadari hadirmu.

Senyumnya pada titik-titik cahaya yang menuntunnya terasa nyata. Kamu melihat kebahagiaan di sana. Kebahagiaan yang polos seperti bahagianya anak-anak pada hal-hal baru.

Seseorang yang kamu sukai itu telah mencintai matahari. Kamu sadar itu setelah waktu malammu telah habis.

Kamu pun pergi setelah berterima kasih pada malam paling gelap yang melebur bersama dirimu. Ketiadaan cahaya pada dirimu telah menunjukkan kebenaran yang harus ditelan begitu saja.

Kamu pun pergi, seperti biasanya untuk memilih pintu dan perjalanan lain.

Jalan Tol yang Lurus

Hadirmu langsung disapa oleh seorang paruh baya memberikanmu sebuah kunci dan kendaraan. Pria itu menjelaskan bahwa kamu akan melakukan perjalanan pada jalan tol yang lurus dengan sedikit pengendara lainnya. Cukup lengang katanya.

Kendaraan dengan bahan bakar penuh sudah disampingmu. Kamu malah banyak diam dan menunduk sambil melihat kaki-kakimu yang tanpa alas kaki.

Anehnya kamu tidak bertanya dimana alas kakimu atau mencoba mencarinya. Kamu menatap kaki-kakimu dengan takjub.

Kaki yang penuh bekas luka karena jalanan yang biasanya kamu lalui tidak pernah ramah. Kamu sadar betul bahwa daging dan tulangmu ditumbuhkan oleh ketidaknyamanan satu ke ketidaknyamanan lainnya.

Kamu hampir tertawa mendengar penjelasan sang pria yang memberikan petunjuk dan keunggulan jalanan yang kamu lalui dan kenyamanan apa yang akan diperoleh. Keadaan yang mungkin jauh berbeda dengan jalan-jalan yang telah kamu lalui sebelumnya.

Tanpa pikir panjang, kamu memberikan kunci itu kembali pada sang pria. Tak lupa berterima kasih dan pergi. Kamu tidak jadi berkendara dan bepergian. Kamu terlalu takut dengan rute yang akan dilalui.

Sebuah jalan seharusnya tidak pernah benar-benar lurus. Struktur bangunan jalanan sengaja dibuat berkelok dan diberi penanda agar pengemudinya tetap dalam kesadaran dan sampai pada tujuan.

Kamu takut tidak selamat pada jalan tanpa hambatan dan penuh kenyamanan. Kamu takut menjadi lalai. Kamu takut terlena. Seperti biasanya. Kamu pergi lagi.

Kali ini langkahmu sesekali menatap pada kaki-kaki yang penuh dengan luka berharga.

Dalam Pujasera

Kamu suka itu, pusat jajanan serba ada. Langkahmu ringan memasukinya dan matamu langsung berkeliaran melihat-lihat tempat jajanan yang bisa kamu beli.

Tanganmu kemudian merogoh kantong dan hanya menemukan selembar uang sepuluh ribu. Tidak lebih. Bukan sepuluh ribu dolar. Tapi sepuluh ribu rupiah.

Pandanganmu yang lebar jadi semakin ciut. Kamu hanya berfokus pada jajanan yang bisa kamu beli. Sampai ditemukanlah kata-kata bertuliskan otak-otak sepuluh ribu satu porsi.

Kamu menghampirinya dan memesan dengan level pedas sedang.

Saat otak-otak itu kamu santap. Kamu kesal karena harganya sama dengan satu kilo beras. Kamu merasa harganya terlalu mahal hanya untuk otak-otak. Tapi pilihan membeli otak-otak menjadi sangat logis daripada membeli beras mentah. Kamu tidak mungkin membeli beras dan langsung memakannya seperti ayam.

Pada gigitan terakhir. Kamu bersyukur. Setidaknya kamu tidak ditakdirkan menjadi ayam. Otak-otaknya enak.

sumber pixabay

You May Also Like

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *