Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?

Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?  – Di saat kerjaan numpuk, saya selalu kangen nulis yang aneh-aneh dan di sinilah salah satu tempatnya. Setelah gosok gigi dan pakai obat kumur. Tidak lupa skincare-an supaya hidup nggak burik. Saya pun kembali menulis.

*ngiket rambut dulu. *udah gondrong kayak preman.

Saya pernah berkelakar soal CV pada salah satu teman. Sekiranya adakah bisnis startup yang bakalan merekrut saya yang aneh ini. Hobi saya jatuh cinta, kemampuan saya membagi cinta kasih sepenuh hati, sedangkan pengalaman panjang hanyalah patah hati.

*ngik

Keknya ada ralat tuh sama kalimat di atas. Pengalaman saya yang cukup panjang diantaranya adalah sakit gigi.

Kalau di luaran saya orang-orang membandingkan sakit gigi dan sakit hati. Saya pernah keduanya. Tidakah itu keren? Ditambah asam urat, saya masih sanggup lho. *keren banget Momo ini.

Mari ngomongin gigi tapi bukan istrinya Raffi Ahmad yang kaya raya itu, bukan!

Gigi permanen manusia dewasa ada 32. 16 di bagian atas, 16 ada di bagian bawah. Yang sangat spesifik dibahas di tulisan ini adalah si bungsu. 4 gigi yang tumbuhnya paling akhir sesuai dengan namanya.

Kabar gembiranya adalah 4 gigi saya harus dicabut. Tahu di umur yang sudah setua ini.

Dua bungsu bagian atas berhasil keluar menembus gusi. Namun, karena letaknya di ujung, sering nggak kena sikat dan saya demen banget makan manusia yang manis. Alhasil dua gigi bungsu bagian atas mengalami karies gigi hingga dalam.

Karies gigi itu apaan?

Giginya menghitam cuy, sangat tidak elok. Kalau sakit juga nggak main-main. Rasanya sampai ke leher dan kepala. Mantap betul memang.

Beda kasus dengan dua gigi bungsu bawah. Gigi bungsu bawah saya mengalami impaksi keduanya. Si bungsu nggak berhasil menembus gusi. Sebelah kiri gigi saya terpendam dengan posisi berdiri nan dalam. Sebelah kanan gigi saya terpendam dengan posisi tiduran nggak tahu malu.

Dua bungsu bagian bawah memang ada, ia diam-diam tumbuh dan nggak bisa muncul hingga batas waktu manusia normal hidup dengan semua gigi permanennya. Gigi terpendam ini hanya bisa dilihat lewat hasil rotngen. Juga hanya bisa bisa dirasakan sakitnya doang…

Kadang saya heran sama si bungsu. Kalian ini ada, tumbuh diam-diam, nggak kelihatan, nggak guna juga, cuma bikin sakit doang, sudah kayak…

Sudahlah sudah…

Sebuah sakit yang membingungkan akibat 4 gigi bungsu

2 gigi bungsu atas yang karies nggak bisa dilihat langsung dengan mata. Posisinya jauh bener dah, kayak di Arab. Jauh…

Mangap-mangap doang dikaca malah bikin kayak orang bego. Bisa kelihatan pakai kaca yang digunakan dokter gigi. Itupun yang lihat dokter giginya aja.

Yang merasakan saya. Yang lihat orang lain. Begitulah hidup. Sekali lagi, menderita sakit gigi mengajarkan banyak arti hidup bagi saya. Raimu Mo… wkwkw nguyu dewe aku.

Selama bertahun-tahun dari 2015, saya merasakan sakit di kepala. Makin tua sakitnya makin sering. Migren sana… Migren sini, bahkan sampai ke telinga. Bodrex pun menjadi teman andalan. *udah kayak iklannya.

Saya juga pernah ngira kolesterol saya yang tinggi. Karena leher rasanya kenceng banget. Nyatanya kolesterol masih diambang normal. Kalau lagi kumat, nengok aja susah. Hidup begitu menderita karena nggak bisa menikmati geleng-geleng sambil dangdutan.

Hingga agak telat tahu. Ternyata sumber sakit berasal dari 4 gigi bungsu tadi. Itu pun tahu karena ndilalah banyak berurusan dengan Sp.Orth.

Kembali ke judul…

1 gigi utuh dan 1 gigi dipotong 3

Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?

Saat memang sudah merasa terganggu dengan kehadiran si bungsu yang nampak atau tidak nampak. Mending cabut aja.

Tapi nggak bisa sembarangan cabut. Khusus untuk kasus gigi bungsu, dokter yang tepat untuk menanganinya adalah spesialis bedah mulut.

Bahasanya sih operasi.

Pada kasus saya. Saya harus cabut lewat dua kali operasi. Ambil dua dulu atas dan bawah sebelah kiri. Kemudian selang tiga bulan. Ambil  dua gigi sisanya. Untuk gigi atas, walaupun hanya cabut, ternyata dijahit juga gusinya.

Pada kasus impaksi (gigi bungsu bawah). Karena nggak nongol sama sekali. Prosesnya adalah bedah minor. Jadi, gusi dibedah, dipotong-potong giginya, dicongkel, abis itu ditutup dan dijahit. Katanya ada juga yang tulang rahangnya dikikis kalau susah ngambilnya. *kurang lebih gitulah. Kalau salah mohon koreksi. Maklum, hanya cari tahu di internet doang. Kejadian aslinya nggak paham. saya kan dibius total.

Beh…

Masa Iya Tumbuh Hanya untuk Menyakiti?

Beruntunglah kalian yang punya gigi bagus rapi dan giginya tumbuh dengan sempurna.

Beberapa orang (saya termasuk) harus mendapatkan banyak tindakan, suntikan, dan perawatan yang bahkan menahun untuk mendapatkan gigi yang sesuai dengan fungsi dan susunannya.

Yhaaa saya hanya bisa memandangi bekas infusan yang baru dicabut dan mau pulang. Sambil terus berpikir…

Pernah dong saya mikir bahwa para gigi bungsu ini ada cuma buat bikin sakit doang. Nyatanya, cuma masalah tempat dan waktu yang salah. *berasa kayak lagunya siapa gitu. Gigi geraham yang tumbuh normal, fungsinya jelas untuk pengunyahan.

Barangkali ini memang nasib saya.

Masalahnya gigi bungsu saya salah tempat. Harusnya mahkotanya keluar. Dia masih sepenuhnya di dalam. Mana posisinya ada yang tiduran segala. Waktunya muncul, dia kesulitan muncul karena rahang saya kekecilan.

Untuk masalah karies, itu murni kedunguan saya yang nggak menjaga kesehatan gigi dengan baik.

tapi… ada peraturan di mana kalau ada satu gigi cabut. Maka yang “pasangannya” harus cabut. Atau kalau memang giginya harus ada. kalau nggak ada pasangannya, pasangannya harus “dibuat.”

Wahhh…

Gigi aja berpasangan cuy… 😀 dan seharmonis itu hubungan mereka.

Tapi segala tindakan termasuk bedah minor pun ada konsekuensinya. Saya tulis terpisah deh. Udah kepanjangan.

Kesimpulannya?

Jika yang tumbuh itu kegunanannya nggak ada. Maka lebih baik cabut aja. Gigi yang di dalam gusi itu nggak ada gunanya sama sekali. Dia gabut gitu. Maka mending cabut aja kalau kamu-kamu masih muda. Jangan nunggu tua kaya saya.

Sekian saya cabut dulu.

Previous Post

No more post

You May Also Like

2 Comments

Tinggalkan Balasan