Cerita Momo Cuma Nulis Aja Kekasih yang Paling Kekasih

Kekasih yang Paling Kekasih

Agak bingung mau mulai kalimatnya kayak gimana. Saya pernah nulis dengan judul ini sebanyak 500 kata dan malah jadi tulisan yang bingung dengan tulisannya sendiri. Namun, saya masih belum mau menyerah. Saya mau tetap menulis dengan judul yang ini.

Mari dicoba lagi.

Kekasih dan segala hal yang terjadi termasuk segala kekaguman dan kecintaan

Hati saya selalu merasa kosong. Sama kayak lagunya Letto yang judulnya lubang dalam hati. Lubang ini saya coba terus sampai sekarang untuk dipenuhi.

Apakah itu “kamu”, apakah itu “dia” yang mampu mengisi lubang di dalam hati.

Ternyata bukan.

Katakanlah ketika saya merasa kagum pada makhluk bernama manusia atas kecerdasan, kepandaian, keindahan, dan hal-hal bagus lainnya menurut koordinat pandangan saya. Pasti saja ketemu dengan jalan buntu di lain hari.

Sebuah jalan buntu yang ternyata bertuliskan besar-besar kalimat, “ternyata hanya bayangan”, “ternyata hanya gambaran kecil”, “saya salah menilai” dan “saya ternyata melihat bayangan dalam cermin”.

Akhirnya, seperti anak kecil yang kecewa. Saya pulang dengan bersedih.

Kesedihan tentunya menuntun saya pada kekosongan dan kekosongan lain

Kekosongan yang sepertinya pernah terisi kembali, nyatanya hanya membuat lubang yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Awalnya saya merindukan makhluk yang hanya bayangan itu. Pada awalnya, saya merindukan kembali keindahan yang hanya bayangan itu.

Saya juga sombong dengan pemikiran saya sendiri. Bahwa saya adalah pecinta yang total. Saya adalah petarung yang jika sudah mengeluarkan pedangnya, maka akan membunuh musuhnya sampai mati, pun tak masalah jika saya mati dalam pertarungan itu. Saya bukan pengecut yang lari begitu saja.

Tidak.

Saya tidak mau mengingat diri saya sendiri yang begitu. Tidak mau.

Dipertanyakan lagi jauh lebih dalam lagi.

Ternyata saya tidak lebih baik dari pengecut.

Penderitaan nyatanya hanyalah buah dari kedangkalan saya sendiri. Kesombongan itu hanya besar mulut saja. Pada kenyataannya hanya cangkang tanpa isi.

Saya memang pernah berhenti pada jalan yang buntu, padahal penutup jalannya adalah kesempitan diri sendiri. Saya tidak pernah menjadi pecinta yang sungguh-sungguh.

Kekasih, Kekasih dengan (K) huruf besar

Saya merasa kosong dan sempit karena berhenti. Kenapa tidak dilanjutkan saja. Jika saya menyukai makhluk yang penuh kasih dan perhatian, nyatanya ada Kekasih yang memang sudah begitu namun sering saya lupakan. Kenapa tidak dilanjutkan saja pada Dia.

Jika saya menyukai makhluk yang indah, ternyata hanya gambaran kecil dari Kekasih itu sendiri. Gambaran kecil yang barang kali hanya bunga kecil di hamparan taman Sang Kekasih.

Jika saya menyukai makhluk dengan berbagai pesonanya yang memikat hati. Maka ia hanya cerminan dari Kekasih itu sendiri. Kenapa saya sering sekali mematung di depan cermin dan bersedih ketika refleksi bayangin itu menghilang?

Tidakkah saya pecinta yang tanggung?

Karena berhenti pada bayangan? Kenapa tidak dilanjutkan pada Sang Kekasih?

Maka saya belajar lagi. Mengingat Sang Kekasih lewat banyak hal.

Lewat hujan yang harus saya terjang tanpa memakinya. Percaya bahwa dalam tetesannya, mungkin ada satu tetes cinta yang akan terus menguatkan hati saya.

Lewat hembusan angin yang sejuk padahal usai hujan lebat. Membayangkan Kekasih membelai dengan kasihnya, ia selalu ada. Begitu adanya.

Lewat kepergian demi kepergian hal-hal dalam keseharian, meraba kembali bahwa Kekasih adalah tempat berasal, dan kepada-Nya saya seharusnya selalu mencari. Bahwa bertemu atau tidak, pada akhirnya Kekasih akan memergoki saya. Apa yang harus saya katakan pada Sang Kekasih itu?

Apa?

Mungkin saya akan malu sekali. Bahwa kerinduan yang pernah ada nyatanya pernah tidak dilanjutkan kepada-Nya dan membuat saya menderita. Saya adalah makhluk lemah yang suka menganiaya diri sendiri.

Di sini, saat masih ada detak jantung di dalam dada, dalam kerinduan, saya akan mencoba mencari keindahan-keindahan Wajah Kekasih. Bukankah keindahan terjadi kalau saya menemukan Kekasih dengan seluruh potensi yang ada pada diri?

“Genggamlah tanganku, Cinta.”

0 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *