Cerita Momo My Liberation Notes Kematian Adalah Deklarasi Kebebasan

Kematian Adalah Deklarasi Kebebasan

Kematian Adalah Deklarasi Kebebasan – Katanya, manusia hidup hanya sementara. Katanya juga, manusia hidup selamanya, karena proses akan terus berlangsung. Ada juga keyakinan akan dilahirkan kembali. Ada pula yang menasehati untuk mati sebelum mati.

Saya pernah nonton film Coco di Disney+. Bagaimana orang-orang benar-benar pergi adalah karena ia sudah mulai dilupakan. Sering kepikiran juga bagaimana nanti saya bisa dikenang.

Belakangan, mendengar tentang anak pejabat yang punya kisah dramatis dalam kepergiannya. Orang-orang di sekitar saya membahasnya. Teman saya bahkan mengomentari tentang shalat jenazah yang dilakukan oleh lebih dari 40 orang akan begini begitu.

Dalam hati… Saat Bapakku meninggal. Hanya tiga orang yang melakukan solat jenazah di depan ruang jenazah.

Saya juga ingat kata Bapak, “Yang naik haji Bapak Anu lagi. Padahal saya juga kerja keras. Terus, hidup sudah susah begini. Nanti di akhirat disiksa?”. Udah susah mikir jernih kalau ingat kalimat ini.

Ketika orang rela meluangkan diri mereka untuk ikut bersimpati dengan cara beragam. Saya biasa saja.

Di saat mereka mulai terharu biru. Melontarkan komentar. Saya tidak seperti mereka. Pikiran saya melayang pada orang terdekat yang berpulang. Saya tidak mengenal orang-orang itu. Mereka terlalu jauh.

Kematian Adalah Deklarasi Kebebasan

23 tahun.

Lumpuh otak dengan pemicu awal adalah radang otak. Menjadi tua lebih cepat, telapak kaki tremor jika diluruskan, tangan kiri super kaku dan tidak bisa lurus, jari hanya menggenggam, seperti menggenggam sesuatu yang berharga dan tidak mau dibagi pada orang lain. Tidak bisa duduk apalagi berjalan. Bicara satu dua buah kata seperti bayi, juga punya kesulitan menelan makanan. Masih sering kejang-kejang sampai detik kepergiannya.

Pergi seorang diri dalam keadaan berbaring di kasur kesayangannya. Perutnya sangat panas. Saya masih ingat bau badannya. Ia pakai popok karena mencret-mencret. Kaosnya saya gunting karena sulit dilepas.

Dimandikan di tempatnya biasa mandi. Sementara Bapak sibuk menimba air padahal air yang dipakai adalah air keran. Wajahnya super mulus dan nampak bercahaya. Lebih bersih dari biasa. Meski punya tubuh yang biasa kaku. Jenazahnya lurus saat diluruskan.

Bayi besar.

Masih ketawa saat ada yang nyanyi pok ame-ame.

Makhluk surga yang mampir di dunia hanya 23 tahun. Dilindungi Tuhan akan pemahaman apapun tentang dunia. Ia bersih dengan riwayat hidupnya yang pilu.

Pilu yang tentunya dalam sependek pemahaman saya.

Kematian adalah deklarasi kebebasan baginya. Sudah tidak sakit lagi. Telah lunas hidupnya. Salah satu manusia kuat dengan riwayat sakit hampir sepanjang hidupnya.

Dulu, kalau saya nangis di depannya. Dia diam saja tidak paham. Tapi air mata saya pernah disentuh jarinya. Pada matanya yang punya bentuk sama dengan milik saya. Saya melihat kejernihan, kepolosan, dan kedamaian yang tidak bisa dijelaskan.

Kini. Saya sudah pindah kamar. Tiap saya menulis dan memandangkan ke arah depan. Hanya ada tembok. Bukan dia yang sedang berbaring sambil kedap kedip atau tidur sambil ngeces.

Ah sial. Saya ingin memeluknya.

Tidak Punya

Izinkan saya mengasihani diri sendiri.

Kakak pertama saya mati saat masih bayi.

Kakak kedua saya pergi ke pindah dinas saat tahun 1996-1997. Saat itu saya masih bocil. Hubungan kami tidak pernah terbentuk baik. Rasanya seperti orang asing.

Kakak ketiga saya menikah terlalu muda karena keinginannya. Ia pergi dan membina keluarga. Kami sesekali bicara di sela-selanya waktu dan tidak sering.

Kakak keempat saya. Paling saya benci. Jika saya tulis perlakuan buruknya. Tulisan saya tidak akan segera berakhir. Menyakitkan mengingat perilakunya pada Bapak sebelum Bapak pulang.

Dan adik saya satu-satunya. Ia pernah menangis semalam suntuk. Hidup dengannya tidak mudah. Saya tidak punya kehidupan saling mengandalkan layaknya kakak adik dengan beda usia 7 tahun.

Saya lebih sering merasa sendirian. Sangat banyak melakukan hal sendirian tanpa mengandalkan orang lain.

Kata Gu Ja Gyeong, ketika ia sendirian. Hidupnya adalah dalam mode “berjaga-jaga” dan itu melelahkan.

Meski biasa hidup dalam kesulitan. Saya tidak pernah terbiasa dengan itu. Bertahan, berjuang, atau melawan. Seputaran itu. Seperti kata Gu Ja Gyeong juga, “Sulit sekali untuk bahagia.”

Tidak Ada Tangisan Lagi

Tidak ada suara tangisan bayi besar lagi. Sejak kepergiannya tahun 2020. Tapi tidak menjadikan kehidupan saya lebih baik.

Saya membujuk diri saya tiap harinya. Sama seperti orang dewasa lainnya yang mencoba kuat. Saya selalu coba.

Saya bekerja dengan sebaik mungkin. Tapi ketika pulang. Saya mau gila.

Saya pengen pulang bahkan ketika di rumah.

Saya sulit tidur ketika malam hari. Biasanya terbangun dan sulit tidur lagi.

Ketika saya menangis. Saya membayangkan ada Bapak, kemudian marah-marah seperti biasanya. Bapak tidak suka saya menangis.

Belum lama. Saya demam 39 derajat celcius secara mendadak, dari pagi sampai malam. Kemudian naik turun selama tiga hari. Demamnya nggak enak banget, di hari pertama, saya langsung cari dokter.

Saya pikir saya pengen mati. Ternyata saya masih mau hidup.

Mungkin bener kata Mi Jeong. Dikit-dikit nyicil kebahagiaan, 5 menit sehari tidak masalah. Beberapa detik di momen ini. Beberapa di detik itu.

Ah. Ya. Perasaan saya cukup membaik ketika melihat kucing dan gentengnya Sonsukku.

Dan juga, adik saya tersayang itu. Terlalu dekat untuk menjauh.

3 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.