Cerita Momo Seputar Blog Kepergian yang Mendadak (Soal Aset Digital)

Kepergian yang Mendadak (Soal Aset Digital)

Kepergian yang Mendadak (Soal Aset Digital) – Perlahan. Saya menuliskan kembali akun-akun saya di banyak tempat dari blog, email, sampai bank. Akun bank aja zaman now udah nggak ada buku. Semua transaksi ada di dalam ponsel dengan tingkat keamanan tertentu. Hanya bisa dipakai di satu gawai saja. Sebutlah Jenius.

Buku itu belum sepenuhnya terisi. Beberapa akun ditulis dalam buku yang berbeda, jadi saya harus sortir bolak balik. Merinci satu demi satu mana kata sandi yang valid, pakai email apa, pakai nomor ponsel apa dll.

Di Samping Jejak Digital Juga ada Aset Digital

Sering kepikiran. Apalagi belakangan. Gimana kalau saya mati mendadak?

Memang kalimat mati mendadak seolah nggak pernah pas. Karena manusia punya waktunya sendiri-sendiri.

“Kematian tidak pernah ingkar janji.” Begitulah.

Ada yang bilang, “Mau kamu tidak percaya Tuhan, mau kamu tidak mengikrarkan sumpahmu terhadap Tuhan, mau memeluk agama apapun, sebenarnya kamu sudah ada di jalan itu. Jalan menuju kematian.”

Yah. Saya pikir semuanya harus jelas. Harus ada semacam “tindak lanjut.” Mau dikemanakan akun-akun saya.

Agak ribet juga, mengingat, dalam keluarga dekat saya. Yang tidak gagap dalam teknologi adalah saya. Ibu Bapak saya nggak paham model ponsel apapun.

Ngomong-ngomong soal kematian, saya jadi memikirkan banyak hal.

Bagaimana nanti dengan kucing-kucing saya?

Mungkin Dijual

Yang ada dipikiran saya saat ini begitu. Akan lebih baik kalau blog-blog saya dijual saja. Jika tidak digunakan kembali. Lebih baik jika masih manfaat untuk orang lain.

Kucing-kucing saya juga lebih baik dijual. Jika tidak ada yang mengurus. Toh, satu-satunya orang yang suka sama kucing hanya saja.

Ketika tempat makanan dan minuman kucing saya kosong, tidak ada yang punya inisiatif untuk memberikan mereka makan.

Kepikiran Aja Karena Terlalu Banyak Pemberitahuan Kematian

“Saya mau ke Bandung. Ke rumah Desi. Setelahnya mau pergi jauh ke Luar Negeri.” Begitu ucapan terakhir salah satu saudara. Tidak lama ada di Bandung, beliau drop dan tidak lama meninggal setelah sempat dinyatakan positif covid 19.

Saudara saya, teman saya. Yang belakangan wara wiri dengan saya. Mendadak sakit dengan gejala Covid 19.

Saya juga hampir tiap hari terpapar dengan keluarga yang saat ini masih positif Covid-19 satu keluarga.

Di Puskesmas, ketika melaporkan ada keluarga yang sakit. Sang Dokter hanya bilang, “Nanti sakitnya hilang sendiri.” Dan tidak dapat bantuan apa-apa.

Miris.

Kenyatan di lapangan sungguh mengerikan.

Di sisi lain, saya cukup beruntung karena sangat sehat. Sempat sakit sesak itupun karena gerd yang kumat. Biasalah stres banyak pikiran, banyak masalah bertubi-tubi yang kayaknya nggak juga menemukan titik terang.

Hari Demi Hari

Saya buka email lebih sering. Takut ada email pekerjaan. Sempat juga menyesal sudah menolak tawaran pekerjaan.

Kalau lihat langit, saya sering berkata dalam hati. “Sehari saja. Bertahan sehari saja.” Begitu terus sampai esok kembali bergulir.

Penulisan

Dalam penulisan aset digital ini. Saya harus membaca kembali buku-buku yang mana saya random sekali mengisi keterangan kata kunci dll.

Pada salah satu buku.

Saya menemukan sesuatu. Sebuah tulisan yang tidak pernah dikirim. Tulisan yang tidak akan pernah dibaca sama sekali oleh orang yang seharusnya saya kirimi tulisan itu.

Saya membacanya kembali dengan tenang. Saya merasa ada jarak dengan diri saya yang pernah menulis tulisan itu. Saya baik-baik saja. Menerima hal itu layaknya hal biasa yang terjadi dalam hidup. Tidak ada yang terlalu istimewa.

Inginnya

Saya sering melihat orangtua dengan usia lanjut yang duduk sendirian. Bersenandung sampai ketiduran karena keluarganya tidak ada yang menemaninya bicara.

Sendiri. Bikin cepet ngantuk.

Kalau saya diberikan usia yang panjang. Pada usia berapapun, saya masih ingin menulis. Setidaknya menulis sebagai “teman bicara.”

Usia renta ternyata juga tentang penaklukan dunia yang mulai sepi, ya?

Tapi sepi itu juga sudah saya rasakan saat ini.

Tiap Mau Perpanjang Hosting

Tiap mau perpanjang hosting dan teman-temannya. Saya memikirkan hal lain juga.

Kalau blog saya tidak “diselamatkan”. Mungkin akan hilang begitu saja seperti buih.

Dan mungkin tidak ada yang menyadarinya.

Maka sudahkan hidup bermakna? Meski lewat tulisan biasa saja.

3 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *