Keresahan Akan Nilai

Teman saya Ayu yang saat itu sedang menempuh S2 bilang ke saya, “Mbak, kata dosen saya, orang yang berilmu itu hidupnya bahagia.”

Saya masih ingat ia membicarakan hal itu di lapangan basket. Entah sedang apa kami saat itu yang jelas tidak sedang main basket. Kami tidak pernah melakukannya. Ingatan saya pun masih terawat bahwa saya saat itu langsung setuju dengan hal yang diceritakan Ayu.

Bahwa orang yang berilmu seharusnya punya hidup bahagia. Pandangan tambahannya adalah jika ada perasaan kesempitan hidup atau kesedihan, hal itu bisa jadi adalah sebab bahwa limitasi pemahaman manusia belum sampai pada “wisdomnya”.

Pada kesempatan lain, saya mikir gini. Misalnya pengetahuan akan satu hal diiris-iris (digali sedalam-dalamnya) maka yang terjadi adalah potongan-potongan pengetahuan menjadi semakin kecil, kecil sekali, bahkan level terlihatnya butuh bantuan “kemampuan lensa yang lebih tinggi atau jernih”. Urusan gigi yang makin diperdalam saja bisa melahirkan dokter spesialis gigi yang lebih kompeten tentang gigi bungsu. Tidak  bisa sekadar diserahkan kepada dokter gigi umum. Harus ke bagian dokter gigi spesialis bedah mulut.

Pemikiran saya menjalar lagi soal pengetahuan yang karena kedalamannya “level materi” bisa hempas begitu saja.

Nggak salah juga ada orang bijak yang bilang kalau kesadaran tertinggi adalah menyadari ketiadaannya. Angel wis.

Tapi kenyataannya apa?

22 desember 2021 saya main-main ditwitter dan sedang ramai warganet membahas mahasiswa yang protes ke dosennya karena dapat A-. Menurutnya, ia tidak pantas dapat itu karena usahanya sudah maksimal versi si mahasiswa.

Respon dosennya? Langsung dikasih C.

Poin pandangan saya kali ini bukan di respon dosen. Tapi bagaimana mahasiswa mudah cemas tentang nilainya yang bukan A, tapi A-. Apa kabar saya yang dulu cukuplah tidak dapat D saja sudah bersyukur. Emmm…

Keresahan soal nilai. Menginginkan kesempurnaan nilai. Tidakkah logikanya hal itu adalah tentang wujud materi yang levelnya “kelihatan banget”. Rentang nilai ini itu atau apalah, hal itu adalah semacam masalah teknis dan esensi cahaya pengetahuan itu tidak di sana.

Kembali lagi ke premis kalau manusia itu berilmu, maka bahagialah dia. Kalau belum bisa bahagia, minimalnya jadi pribadi yang mudah gembira. *terus aja saya tambah-tambahin.

Mahasiswa yang letak koordinatnya adalah pencari ilmu, sudah kecipratan ilmu juga (kan bisa dapat nilai A- secara data awal). Pun karena perjalanan mulianya yang sedang menuntut ilmu, maka adakah setidaknya sedikit kebahagiaan dirasakannya? Alih-alih kecemasan?

Letak salahnya di mana?

Kenapa sebuah nilai membuatnya merajuk?

Jangan-jangan, karena pada society,letak keberwujudan tentang angka-angka yang melambung tinggi sebagai suatu keberhasilan hidup. Seberapa banyak uangmu? Apa pangkatmu? Hal apa yang sudah kamu miliki sejauh ini? Berapa penghasilanmu? Sekolah di tempat dengan predikat A dan hal-hal semacam itu.

Manusia menjadi semakin jauh dari dirinya sendiri. Karena imaji-imaji yang diterjemahkan menjadi hal-hal yang sifatnya tampak mata dan mudah diukur sebagai keberhasilan.

Bagaimana dengan ketahanan diri menghadapi tekanan hidup? Masih bisa ketawa-ketawa meski kemarin baru dapat kabar gagal tes. Masih bisa membuat lelucon padahal tadi malam baru putus dengan kekasih?

Saya percaya pada proses pendidikan seharusnya memberikan hak pada anak-anak, siswa, atau mahasiswa, entah apa sebutanya, untuk gagal.

Untuk mengakui dirinya belum cakap kemudian sadar untuk memperbaiki kualitas dirinya. Outputnya menjadi kontributor positif di society.

Belajar adalah pertarungan panjang. Meresahkan nilai yang sebenarnya menjadi konsekuensi logis atas proses yang terjadi di pembelajaran seharusnya tidak terjadi.

Apalagi sampai mengkhawatirkan masa depan.

Jika pemberhentian terakhir dalam belajar hanya berhenti di nilai-nilai yang tertera dalam indeks prestasi kumulatif. Maka belajar akan berhenti pada tahap selesainya proses formal saja.

Menjadi pembelajar tidak pernah mudah. Apalagi digempur oleh lipatan-lipatan dunia pendidikan yang tidak berdiri sendiri, di dalamnya ada regulasi politik, ekonomi, sistem, dan masih banyak lagi.

Pendidikan bisa saja merupakan metodologi menemukan diri sendiri lewat kesadaran-kesadaran yang terus diperbaruhi sesuai dengan proses autentik pengalaman hidup.

Mahasiswa yang resah tadi, saya yakin masih berproses menikmati perjalanan hidupnya.

Pun saya yang tbtb kepikiran nulis malem-malem juga masih berproses dalam meniti pelajaran hidup, utamanya pada kegagalan.

Pada kegagalan orang-orang dengan mudah teringat dengan kalimat “ambil hikmahnya”. Kita memetik banyak buah pengetahuan pada hal-hal yang tidak berjalan lancar versi kita.

Lewat pengetahuan yang diperbaharui, kegagalan yang nampak gelap menemukan titik terangnya. Kesimpulannya, kegagalan hanyalah sebuah hipotesis yang belum ketemu dengan wisdomnya.

Berbahagialah untuk jiwa-jika yang merindu untuk terus belajar.

11 Likes

Author: momo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.